Budaya literasi masyarakat Indonesia dinyatakan stagnan dan cenderung turun. Realitas menunjukkan, peningkatan lama bersekolah dan masifnya penggunaan teknologi digital belum secara signifikan memunculkan kebutuhan dan kebiasaan membaca yang berkualitas.

budaya literasi di Indonesia masih dibawah negara lainnya. Berdasarkan data The World’s Most Literate Nations, Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 dalam kemampuan literasi. Hal ini sangat memprihatikan jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura yang menempati posisi ke-35, Malaysia di posisi ke-53, dan Thailand di posisi ke-59.

Bahkan, UNESCO (Badan dunia PBB yang membawahi bidang pendidikan dan kebudayaan) menempatkan Indonesia sebagai negara terendah kedua untuk minat baca. Hanya terdapat 0,001% saja, artinya hanya 1 dari 1.000 orang di Indonesia yang rajin membaca.

Di tengah kondisi “mati gaya” budaya literasi di Indonesia, lilin-lilin kecil menyala membawa harapan. Pada tanggal 23 April 2021, segelintir pemelajar literasi berhimpun dalam komunitas Bengkel Narasi (BN). Tidak lama kemudian, BN pun menghimpun anak-anak dalam komunitas Pena Anak Indonesia (PAI) pada tanggal 14 September 2021.

“Meskipun kecil, lilin-lilin literasi ini mulai menerangi lingkungan sekitar. BN dan PAI hadir dengan ciri khasnya, antimainstream, berbeda dari komunitas pegiat literasi lainnya,” ungkap Ruslan Ismail Mage, founder BN dan PAI.

Pertama, BN dan PAI memberi dukungan untuk keterlibatan keluarga dalam membangun budaya membaca di rumah. Di sini, anggota BN tidak hanya berinteraksi dengan anggota lainnya. Ada juga yang mengajak suami/istrinya untuk ikut terlibat sehingga muncullah pasangan “Romi dan Yuli” atau “Galih dan Ratna”. Bahkan, ada juga orang tua yang mengajak anaknya. Di satu sisi orang tuanya aktif di BN, di sisi lain anaknya diikutsertakan di PAI.

Kedua, berusaha meningkatkan akses buku yang berkualitas secara merata ke sejumlah daerah. Melalui pendekatan self-publishing dan vanity publishing, BN menghadirkan buku-buku hasil karya literasi anggotanya. Dua daerah yang sudah eksis saat ini adalah Kolaka Utara dan Soppeng.

Ketiga, sebagai bagian dari masyarakat, BN turut mengambil peran dalam meningkatkan ekosistem literasi yang produktif bagi anak-anak. Bukan sekadar mendorong anak-anak untuk membaca, tetapi membimbing mereka agar mau dan mampu menulis sehingga menghasilkan produk-produk literasi. Di sini, anggota BN mengambil peran sebagai mentor/coach bagi anggota PAI. Tahun 2022 ini, BN menggulirkan program BN-PAI Got Talent Writer Coaching.

Keempat, BN dan PAI hadir sebagai bentuk nyata program swadaya literasi berbasis gerakan. BN dan PAI tidak berorientasi pada seremonial yang cenderung mengarah ke sesuatu yang artificial. Membaca dan menulis menjadi kebiasaan harian. Semangat kolaborasi dikedepankan dan setiap anggota didorong untuk begerak di lingkungannya masing-masing.

BN dan PAI menjadi gerakan akar rumput untuk mendorong gerakan literasi di Indonesia. “Kami fleksibel untuk menjalin sinergi, menghindari program dan kegiatan yang cenderung birokratis. Kami memberi ruang yang luas bagi anggota untuk mencari praktik baik dan bisa menjadi sumber inspirasi bagi gerakan yang lebih inovatif,” jelas Iyan Apt, penulis dan penyunting yang menjadi administrator BN dan PAI. []

(Visited 53 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.