Oleh : Khatimah Bakri

Sering kita dengar orang berkata, santai saja, semua akan berlalu !, Tenang bro, nikmati hidup yang cuma sekali ini, Badai pasti berlalu teman. Kalimat itulah yang sering diucapkan jika ada yang galau atau mendapatkan masalah. Kalimat itu dapat menenangkan sejenak, tapi ketika kita kembali sendiri, kalimat itu kembali menguap terganti dengan emosi dan ego yang merasuk di pikiran

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang ingin mempunyai masalah, semuanya ingin tenang, damai, dan bahagia. Namun apa daya, hidup ini sepertinya tidak lengkap jika tidak ada masalah. Seperti ungkapan, “Bukan hidup namanya kalau tidak punya masalah” adalah benar. Masalah terkadang datang tiba-tiba, tanpa diduga, tanpa permisi, dan mau tidak mau, kita harus menghadapinya.

Biasanya masalah yang paling berat adalah ketika sudah berumah tangga. Betapa bahagianya setelah nikah, seakan dunia milik berdua, yang lain pada ngontrak. Tapi seiring waktu, virus masalah mulai menyapa, munculnya perbedaan sikap, perbedaan karakter, adanya rasa jenuh, bosan, dan lain-lain sebqgai pemicu. Namun yang paling sering terjadi adalah kurangnya perhatian.

Pernikahan yang diharapkan dan diimpikan akan membuat bahagia, perlahan mulai sirna, berganti dengan kecewa dan rasa sakit hati. Masalah dalam rumah tangga ini seperti virus yang terus berkembang dan akan terus memuncak jika tidak ditangani dengan cepat. Ketika salah satu pasangan sudah mulai merasa jenuh dengan semua masalah yang dihadapinya, maka akan mencari kebahagian di luar rumah

Jika kebahagiaan itu dicari dengan menenggelamkan diri kita dengan kegiatan positif, semuanya akan aman, tetapi ketika berjalan dan mencoba mencari bahagia dengan cara negatif, maka semua akan hancur berkeping.

Tentu saja tidak semua rumah tangga hancur karena munculnya masalah. Jika mampu menyelesaikannya dengan baik dan dewasa, maka akan semakin bahagia. Bukankah kita akan lebih semakin dewasa jika diterpa masalah? Oleh karena itu kita dituntut menentukan sikap dan menyelesaikan masalah dengan cara dewasa.

Berpikirlah, dengan adanya masalah, apakah harus menepi, introfeksi diri, atau mengambang, membiarkan diam dan ikhlas menjalani, hanyut dengan membiarkan diri kita hancur tanpa adanya usaha, atau merelakan diri kita tenggelam tanpa bisa muncul ke permukaan lagi?

Keputusan ada pada diri kita sendiri, bahagia itu ada pada diri kita sendiri bukan dari orang lain. Hidup laksana mengarungi samudera, ketika ombak besar datang, apakah kita berusaha menepi, mengambang terbawa ombak, hanyut entah terdampar dimana, atau tenggelam ke dasar?

Semoga dengan masalah, kita dapat semakin dewasa dan semakin bahagia. Tuhan sudah mengukur kemampuan kita. Bukankah Tuhan tidak akan memberi masalah atau cobaan yang tidak dapat dijalani oleh hambaNya?.

(Visited 239 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.