Oleh: Gusnawati Lukman
Banyak komunitas menulis bermunculan di tengah publik sebagai bentuk gerakan literasi membaca dan menulis terus bertumbuh di negeri ini. Satu diantaranya adalah, komunitas menulis Bengkel Narasi yang memiliki keunikan tersendiri.
Keunikannya adalah bahwa setiap anggota dituntun menulis sambil memeluk kemanusiaan, menulis sambil menyuarakan keadilan, menulis sambil mengurus kehidupan. Hal ini menjadi penting karena untuk menjadi penulis yang baik harus memiliki empati yang dalam.
Untuk mewujudkan itu, Bengkel Narasi dibangun dengan menerapkan “Manajemen Satu Rasa”. Gembira bersama, sedih bersama, menangis bersama, senyum bersama, dan muncul ke permukaan bersama.
“Selamat Datang di Universitas kehidupan. Saatnya mengurus kehidupan, saatnya memeluk kemanusiaan. Seruan yang selalu dilontarkan oleh Founder Bengkel Narasi, Bapak Ruslan ismail Mage (RIM) itu sudah tidak asing lagi di telinga Keluarga Besar Bengkel Narasi. Terlalu banyak tangan-tangan di luar sana, di universitas kehidupan yang menanti uluran tangan kita. Mari kita jadikan “Manajemen satu rasa” sebagai perekat persaudaraan yang selalu peduli pada sesama.
Ketika salah seorang keluarga besar BN mengalami kesulitan, maka semuanya merasakan hal yang sama. Saling memberi semangat, saling memotivasi, agar bisa bangkit kembali dan merasakan kebahagiaan seperti yang lainnya. Sebagaimana yang kami lakukan pada hari Jumat, 22 April 2022, yaitu mengunjungi kediaman bapak Sainal Adi, salah seorang anggota BN Soppeng yang sedang menderita kelumpuhan. Sainal Adi tinggal di Cangadi, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng. Ia menderita penyakit yang aneh yang mengakibatkan kelumpuhan. Penyakit itu mulai dirasakan pada tahun 2017 yang lalu.
Dengan rasa yang tertahan, ia pun menceritakan sekelumit kisah hidupnya pada kami.
Waktu duduk di bangku SMA, ia biasanya berjalan kaki dari rumahnya ke sekolah yang jaraknya hampir 2 kilo. Tidak pernah ada perasaan yang aneh. Sampai akhirnya, pada tahun 2017, ia sudah mulai merasakan ada perubahan di bagian bawah anggota tubuhnya yaitu bagian lutut ke bawah. Belum terlalu nampak memang. Namun, seiring berjalannya waktu, penyakit aneh itu mulai perlahan mengganggunya. Tubuhnya mulai lemah,kurus,dan lutut sampai kaki mulai tidak bisa lagi berfungsi dengan baik. Ia tidak bisa lagi berdiri dengan sempurna, apalagi berjalan.
Lututnya tidak bisa lagi ditekuk lurus.Ia merasakan kecemasan yang luar biasa karena penyakitnya ini. Dengan bantuan para donatur dari berbagai lembaga amal, ia dibawa ke salah satu dokter ahli syaraf terkenal di Makassar. Tapi anehnya, setelah diperiksa, bagian dalam tubuhnya semuanya normal. Tidak ada penyakit lain yang ditemukan.
Setelah 2 kali berobat di Makassar, karena dirasakan tempatnya terlalu jauh, pengobatannya pun dilanjutkan di rumah sakit terdekat. Ia rutin menjalani fisioterapi.Perubahannya memang tidak seperti saat ia berobat di Makassar, yang pada waktu itu ia merasakan perubahan yang luar biasa di lututnya yang bermasalah itu. Ia pun merasa tenang, bisa tidur dengan nyenyak, tidak gelisah lagi. Tapi ya itu lagi…tempatnya terlalu jauh.
Nah…kita flashback dengan cerita masa lalu keluarganya. Ternyata, di keluarga Bapak Sainal Adi, ada lima orang termasuk dirinya yang menderita penyakit aneh ini. Namun, yang tersisa tinggal dirinya dan Omnya, yang sekarang tinggal bersamanya. Tiga orang yang lain sudah meninggal. Apakah ini bisa dikategorikan sebagai penyakit keturunan? Entahlah.
Apakah ini ada hubungan dengan kehidupan nenek moyangnya? Juga tidak ada yang mengetahuinya.
Dengan keadaan fisik yang tidak dapat lagi berdiri, lumpuh total, namun, semua pekerjaan rumah dilakukan sendiri, mulai dari memasak, mencuci, dan pekerjaan lainnya. Om yang tinggal bersamanya juga tidak bisa melakukan apa-apa karena penyakitnya juga sama. Untuk belanja sehari-hari, ia biasanya minta tolong ke tetangga terdekat, yang juga kebanyakan keluarganya sendiri.
Mengenai kegemarannya menulis, ia bercerita bahwa sejak SMA memang suka menulis, apalagi ia dari jurusan bahasa. Banyak yang ingin ia tuangkan dalam bentuk tulisan, namun, terkadang perasaan putus asa karena beban hidup yang dialaminya membuatnya berhenti di tengah jalan. Kadang pada suatu masa ia mumet, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Mendapat suntikan motivasi dan semangat untuk tetap berkarya, menuliskan semua kisah hidupnya agar dapat menjadi kenangan dan inspirasi bagi orang lain, muncul gairahnya kembali untuk melanjutkan catatan batin tentang perjalanan hidupnya yang dirasakan begitu penuh dengan cobaan. Kadang ia merasakan beban hidup yang tidak bisa dia pikul semua, membuatnya berputus asa, namun, pada akhirnya ia tersadar kembali bahwa semua itu adalah takdir yang harus ia jalani dengan sabar dan ikhlas. Memang sebagian hidupnya ia habiskan dengan penyakit aneh yang menyerangnya ini, namun, sekali lagi ia menyerahkan semuanya pada Allah Swt. Pasti ada hikmah di balik semua cobaan hidup ini.
Kedatangan kami semakin membangkitkan semangatnya untuk menulis kembali. Mimpinya untuk dapat menuliskan semua kisah hidupnya dan kemudian dicetak menjadi sebuah buku bukan suatu kemustahilan. Kami selalu mendukung dan akan membantu sampai mimpi itu terwujud. Tidak ada yang tidak mungkin kalau kita selalu berusaha dengan segenap kekuatan yang kita miliki.
Bapak Sainal Adi itu kuat. Tetap semangat untuk menjalani hari-harinya dengan gembira dan bahagia. Penuh harapan karena masih banyak orang yang punya empati pada sesama.
Bapak Sainal Adi, dimliad satu tahun Bengkel Narasi, saat kami merasakan kebahagiaan dan kebanggaan berada di rumah jiwa di angkasa, kami tidak akan membiarkan Bapak sendirian. Bapak Sainal Adi juga harus merasakan kebahagiaan berada di tengah keluarga besar Bengkel Narasi. Kita semua satu rasa. Bahagiamu bahagiaku, deritamu deritaku, senyummu senyumku. Mari kita muncul dan berkembang bersama, merajut silaturahmi, mempererat rasa persaudaraan. Tidak ada sekat diantara kita.
Semoga kebersamaan kita di keluarga besar Bengkel Narasi selamanya terjalin dengan indah.
Selamat milad satu tahun untuk Bengkel Narasi. Tetaplah menjadi rumah jiwa kami di angkasa yang selalu memberikan kedamaian dan kebahagiaan.
We love you so much.
Watansoppeng, 23 April 2022

Syafakallaah, sembuh seperti sedia kala.