Epilepsi menghampiriku setelah usiaku tak lagi muda, bahkan sudah mempunyai istri dan anak. Alhamdulillah sekali mereka menerimaku apa adanya.

Sebuah perjalanan panjang menuju senja, dan itu tak mudah untuk melaluinya. Onak dan duri menemani langkahku yang tak lagi sempurna.

Sedari lahir tiada tanda-tanda Epilepsi menemaniku. Entahlah yang jelas orang tua tidak pernah menyampaikan hal itu. Orang tua juga tidak pernah mengatakan bahwa aku pernah dirawat di sebuah rumah sakit.

Yes, aku memang terlahir di Kota Empek-empek, namun masa pertumbuhanku di perantauan yakni di Kecamatan Ngawi, sentranya tempe kripik.

Lebih kurang 10 tahun kami (bersama adik) mengenyam pendidikan di daerah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Layaknya orang tanpa cacat, jalan hidupku normal-normal saja. Pendidikan dasar di SDN Karang Tengah V Ngawi lanjut SMPN I Ngawi, sempat sekolah di SMAN Karang Jati Ngawi tapi tidak tuntas, melanjutkan pendidikan sebuah sekolah yang dikelola orang tua dengan beberapa koleganya di Bumi Sriwijaya hingga tuntas Sekolah Tingkat Atas.

Serangan kejang justru berawal setelah menikah dan mempunyai anak. Entah sudah berapa kali serangan itu menggelayuti tubuhku, menurut istri terakhir kena serangan tak kurang dari 10 kali bahkan lebih, soalnya lupa, maklum memori ini sudah mulai afkir.

Nyaris meregang nyawa, tahu-tahu mulut berbusa, tertidur mendengkur, setelah bangun lupa akan peristiwa yang terjadi. Itu kata anak-anak dan istri yang menyaksikan peristiwa itu.

Pernah suatu hari, ketika akan mandi dalam keadaan telanjang bulat, tiba-tiba datang serangan. Kejang hebat di lantai kamar mandi, entah bagaimana tersadar sudah ditempat tidur, waktu itu jalanpun susah, mau ke kamar mandi saja harus merangkak seperti bayi, sedih banget mengingat peristiwa mengerikan itu.

Sebelumnya, menurut istri oleh teman-teman, diriku dikira terkena guna-guna, bahkan pengobatan alternatif pun dijalani. Namun serangan kejang masih saja hadir menyetubuhiku.

Akhirnya tanpa menggunakan BPJS yang ngantrinya panjang dan lama, ditemani istri berobatlah ke dokter spesialis syaraf untuk melakukan EEG, hal ini untuk mengetahui jenis epilepsinya.

Setelah sekian lama  berobat di dokter spesialis syaraf, dengan diberi resep obat anti epilepsi (OAE) tanpa putus agar tidak kena serangan tiba-tiba. Alhamdulillah, dengan telaten mengonsumsi OAE hingga saat ini epilepsinya belum pernah kambuh lagi.

Untuk diketahui bahwa Epilepsi itu bukan penyakit mematikan, bukan penyakit keturunan, bukan kerasukan setan maupun guna-guna mbah dukun ya.

Epilepsi bisa diatasi, berobat yang rutin ke dokter, minum obatnya secara teratur. Selama belasan tahun ini sebagai pengingat makan obat anti epilepsi aku menyiasatinya dengan mengaktifkan alarm di telepon genggam.

Melihat kondisi sekarang, justru banyak para Ortu berkata, “anak saya ODE, bagaimanakah masa depannya nanti.”

Ada juga ODE sendiri yang mengatakan, “saya ODE, tidak bisa bekerja, nggak bisa berbuat banyak, takut untuk bekerja, malu bagaimana jika kambuh?”

Perlu diketahui, menilai orang lain itu mudah, paling susah menilai diri sendiri. Padahal yang tahu diri kita ya, diri sendiri. Orang lain hanya sarana untuk berbagi cerita dan kisah. Karenanya itu, hanya orang baik saja yang tidak mau menjatuhkan orang lain supaya dirinya terlihat baik, terlebih dihadapan kaum minoritas salah satunya ODE.

Diakui, mengetahui diriku mempunyai riwayat Epilepsi pernah terbersit rasa ingin bunuh diri, lantaran merasa hidup tak berguna. Namun setelah dipikir-pikir, untuk apa melakukan hal konyol itu, apatah lagi saat itu diriku sudah bekerja sebagai PNS dan mempunyai anak-anak.

Peperangan bathin pun pecah, pada akhirnya aku berdamai dengan Epilepsi, serta menerima dengan lapang dada sebagai  ODE di usia kepala empat yang mempunyai tanggungan menghidupi keluarga.

Kerja sesuai kemampuan, jangan dipaksa seperti orang normal kebanyakan. Anfal 5-10 menit, itupun termasuk parah, dan belum tentu juga setiap hari kumat.

Memang diakui banyak orang tua yang was-was akan perkembangan anaknya atau ODE, enggan melakukan pekerjaan, dikarenakan kuatir kejangnya kumat. Itulah sebabnya kebanyakan ODE itu menganggur, hanya itungan jari saja yang bekerja bahkan mengajar. Justru perhatian yang berlebihan ini akan meracuni anak dengan epilepsi (ADE) dan orang dengan epileosi (ODE), urusan mati, rezeki dan jodoh serahkan kepada sang pencipta Allah SWT.

Kesalahan dalam bersosialisasi jangan disangkut-pautkan dengan penyandang epilepsi. Serahkan skenario hidup ini kepada maha sutradara, Allah SWT. Sebagai hambanya cukup berusaha, lalu makan obat disiplin, kontrol emosi, pola hidup dijaga.

Biarkan dokter yang menentukan obat sesuai jenis epilepsinya. Nanti malah tambah pusing dan takut. Lebih baik nggak usah tahu, yang penting minum obat anti epilepsi (OAE).

Emosional, baperan, egois dll. Itulah bentuk cacian yang biasa mengarah kepada ODE. Mengeluh, berputus asa, marah, sedih bukanlah jalan keluar dari permasalahan. Hal-hal seperti itulah yang merangsang syaraf otak menjadikan tidak stabil dan menyebabkan kejang.

Tapi sulit dipungkiri bahwa dulu juga diriku sendiri pernah merasakan hal-hal itu. Cara untuk mencegahnya yaitu rubahlah pola pikir, berpikirlah bahwa epilepsi bukanlah penyebab hidup kita terpuruk, tetapi ketidakmauan untuk jujur terhadap diri sendiri justru membuat ODE sulit untuk keluar dari masalah.

Seandainya datang serangan itu paling cuma beberapa menit, jangan buang-buang waktu untuk meratapi dan bersedih karena epilepsi.

Untuk anak-anak yang masih sekolah, tetaplah sekolah, supaya kelak bisa mandiri. Orang normalpun jika tidak sekolah pasti akan sulit untuk mencari pekerjaan layak, apalagi orang dengan epilepsi. Ibaratnya sudah jatuh ketiban tangga pula.

Untuk orang dengan epilepsi yang sudah tidak sekolah, cobalah bekerja minimal bisa berpenghasilan sendiri, sesuai kemampuan. Terlebih zaman sekarang dipermudah adanya perkembangan teknologi dengan berbagai platform media sosialnya.

Pilihannya cuma satu yaitu harus aman, jika kebetulan kumat setidaknya tempatnya aman dan tidak membuat cedera yang membahayakan nyawa ODE itu sendiri.

Ternyata bukan epilepsi yang membuat ODE dijauhi tapi karena karakternya yang berubah, sangat sensitif, mudah marah, egois, mudah tersinggung. Logikanya siapa yang mau berteman dengan orang mudah marah, egois, sombong, baperan, mudah tersinggung?

Coba rubah cara berpikirnya, jika ada orang yang membully, cukup hadapi dengan senyuman saja. Justru mengutuk Epilepsi akan merusak dan menyakiti diri sendiri. Diriku pun belajar berubah, dimulai dengan kata “maaf” dan belajar memaafkan.

Aku mempunyai riwayat Epilepsi tapi selalu berusaha untuk bekerja menghidupi keluarga, sesuai kemampuan.

Janganlah membatasi diri kita karena Epilepsi. Bersyukurlah, hadirnya epilepsi tidak setiap waktu, setiap detik. 

Coba lihat, banyak orang buta yang tidak bisa melihat setiap hari dan setiap waktu tapi dunia mereka terang karena mereka mau berusaha dan bekerja, banyak dari mereka yang menjadi tukang pijat dan berpenghasilan lumayan.

Lihat lagi banyak orang yang lumpuh tidak berjalan, setiap detiknya hanya dikursi roda, tapi mereka berhasil dan sukses karena kemauan yang keras.

Bukankah ODE lebih beruntung? Kejangnya hanya beberapa menit, sisanya bisa normal lagi, bisa berjalan, bisa melihat. Marilah semua ODE berdoa dan berusaha, setiap ada kemauan insha allah ada jalan.

Pepatah menuliskan, “Lebih mudah merubah letak gunung dan sungai daripada merubah sifat (karakter) seseorang.” Ya karakter kitalah yang biasanya membuat hidup kita jadi sulit. 

Intinya jangan dimusuhi, bersahabatlah dengan epilepsi, sebab itu bukan kutukan, tapi karunia terindah dari sang pencipta Allah SWT.

(Visited 96 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.