Pemikiran terbesar mampu melakukan kejahatan terbesar sama seperti melakukan kebaikan terbesar.

Rene Descartes


Filsafat pada zaman modern lahir karena adanya upaya keluar dari kekangan pemikiran kaum agamawan di zaman skolastik.

Salah satu orang yang berjasa dalam membangun landasan pemikiran baru di dunia barat adalah Rene Descartes.

Descartes menawarkan sebuah prosedur yang disebut keraguan metodis universal dimana keraguan ini bukan menunjuk kepada kebingungan yang berkepanjangan, tetapi akan berakhir ketika lahir kesadaran akan eksisitensi diri yang dia katakan dengan cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada).
Baca juga:
https://bengkelnarasi.com/2022/07/05/catatan-kuliah-filsafat-membaca-karya-rene-descartes/

Teori pengetahuan yang dikembangkan Rene Descartes ini dikenal dengan nama rasionalisme karena alur pikir yang dikemukakan Rene Descartes bermuara kepada kekuatan rasio (akal) manusia. Sebagai reaksi dari pemikiran rasionalisme Descartes inilah muncul para filosof yang berkembang kemudian yang bertolak belakang dengan Descartes yang menganggap bahwa pengetahuan itu bersumber pada pengalaman.

Mereka inilah yang disebut sebagai kaum empirisme. Di antaranya yaitu John Locke, Thomas Hobbes, George Barkeley, dan David Hume.
Catatan ingatan
Empirisme : suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal.

Istilah empirisme sendiri diambil dari bahasa Yunani yakni Empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman.

Empirisme memilih sumber utama pengetahuan bukan dari rasio melainkan pengalaman.

Empirisme menurut wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia.

Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan.

Dari mana kita tahu kalau kita tahu? Dari mana asal muasal pengetahuan kita? Pertanyaan ini banyak dibahas oleh salah satu cabang ilmu filsafat yaitu Epistemologi.

Pengantar Epistemologi Descartes, Hume dan Kant!
https://t.co/n1GU70evvh

Kaum rasionalis meyakini bahwa akal budi adalah sumber pengetahuan manusia yang paling kokoh. Sebaliknya, panca indera, yg terhubung dengan pengalaman, seringkali menipu.

Misalnya, panca indera bisa saja menangkap bahwa pensil tampak bengkok saat dimasukkan ke dalam air atau gajah tampak kecil dari kejauhan, tetapi akal budi dapat menjamin bahwa semua itu tidak seperti kelihatannya.

Akal budi, dalam pandangan kaum rasionalis seperti René Descartes, merupakan mutlak dan tertanam sebagai ide bawaan (terbawa sejak lahir dan bahkan akan selalu ada).

Kaum rasionalis ini mendapat tentangan dr kaum empiris yang meyakini bahwa ide bawaan tidak eksis, karena pikiran manusia yg lahir adalah ibarat kertas kosong (tabularasa).

Secara umum, kesalahan dalam agama itu berbahaya; sedangkan kesalahan dalam filsafat hanya merupakan kekonyolan.

David Hume

Kertas kosong, sebagaimana pandangan John Locke dan David Hume, diisi oleh pengalaman lewat tangkapan panca indera.

David Hume mengajukan pertanyaan keras untuk kaum rasionalis: bagaimana Anda tahu?
Bagaimana Anda tahu bahwa pensil itu aslinya tidak bengkok, gajah itu aslinya berukuran besar?

David Hume tidak mau menyimpulkan melampaui pengalaman, karena hanya pengalaman satu-satunya sumber pengetahuan.
Misalnya: bayangan kita akan unicorn (kuda bertanduk), adalah hasil dari penglihatan kita terhadap kuda dan tanduk.

Bahkan seluruh ide kita, lanjut Hume, hanya dibangun di atas kesan-kesan saja.

Bagi Hume, 999 kali kita menjatuhkan pulpen dan pasti jatuh, pengalaman kita tetap tidak bisa menjamin bahwa pada usaha ke-1000, pulpennya pasti jatuh juga.

Empirisisme Hume yg radikal itu mengusik Immanuel Kant. Menurut Kant, kalau semua sumber pengetahuan kita hanya berbasis pada panca indera, bagaimana pengetahuan benar-benar bisa dibangun?
Baca juga:
https://bengkelnarasi.com/2022/07/05/catatan-kuliah-filsafat-ckf-membaca-karya-david-hume/

Menurut Kant, Descartes benar bahwa ada ide bawaan, tetapi bentuknya tidak lengkap, melainkan hanya dlm bentuk skema/kategori yg kita bisa bayangkan sebagai “laci-laci”. “Laci-laci” ini sudah tertanam dalam pikiran atau disebut juga a priori (ada sebelum).

Hume, menurut Kant, juga benar. Terdapat pengetahuan yg muncul dari pengalaman inderawi (a posteriori/ada setelah), untuk kemudian dimasukkan ke dalam “laci-laci”/skema/ kategori a priori.
Baca juga :
https://bengkelnarasi.com/2022/07/05/catatan-kuliah-filsafat-membaca-karya-immanuel-kant/


Karena jika pengalaman inderawi tidak dimasukkan ke dalam “laci-laci”, maka kita tidak akan sanggup memahami apapun.
Sumber :
1). Academia by Logos ID! https://t.co/VrorirnFIV 🥳 https://t.co/ljz3ulkKoN

Manusia menginginkan harmoni; tetapi alam lebih tahu apa yang baik untuk spesiesnya: ia menginginkan perselisihan

Immanuel Kant

Demikian tiga analisis karya, Descartes, David Hume dan Immanuel Kant, sebagai bahan materi kuliah, baca selengkapnya tiga filsuf tersebut di Catatan Kuliah Filsafat(CKF), yang sudah ada sebelumnya di room Bengkel Narasi.
Salam Literasi.
Makassar, 5 Juli 2022

Diberdayakan untuk suplemen mk. Filsafat:
Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si.










(Visited 178 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.