Tidak ada yang namanya kebebasan memilih kecuali ada kebebasan untuk menolak
David Hume
A. Mengenal David Hume
David Hume lahir di Edinburg tahun 1711. Ayahnya meninggal ketika ia masih bayi, mewariskan pada keluarga sebuah perkebunan kecil.
Hume adalah seorang murid yang sukses, dan sebagai anak muda, ia memiliki perhatian yang tinggi terhadap sastra dan filsafat.
Ia cenderung untuk mengejar karir penelitian ilmiah dan menulis, tetapi pernah sesaat terlepas dari jalan ini oleh keluarganya yang mengajarkan bahwa ia cocok untuk profesi di bidang hukum dan membujuknya untuk belajar hukum.
Usaha yang tidak berhasil ini hanya berumur singkat. Karena dihadapkan pada kebutuhan keuangan, Hume pergi ke Bristol dan bekerja di dunia bisnis selama beberapa bulan.
Bagaimanapun, pekerjaan ini tidak disukainya. Maka, pada usia 23 tahun, David Hume menerima uang dari keluarganya dan pergi ke Perancis untuk belajar dan menulis. Ia tinggal di sana hingga tahun 1737 dan menulis A Treatise of Human Nature.
David Hume memiliki harapan yang tinggi pada karya ini, tetapi penerbitan karya ini tidak banyak mendapat perhatian.
Meskipun patah semangat, karena buruknya penerimaan terhadap Treatise, Hume terus menulis.
Di tahun 1741_1742 saat di Skotlandia, ia menerbitkan Essays, Moral and Political. Karya ini mendapatkan kesuksesan, dan David Hume bersemangat untuk merevisi Treatise.
Sementara itu, ia melamar kedudukan profesor filsafat di Universitas Edinburg, tetapi reputasinya sebagai seorang yang skeptis dan atheis telah merintangi pengangkatan tersebut.
Pada tahun 1751, revisi terakhir bagian pertama dan ketiga karya Treatise diterbitkan masing-masing dengan judul An Enquiry Concerning Human Understanding dan An Enquiry Concerning The Principles of Morals.
Kira-kira pada saat yang sama, Hume menulis karya yang berjudul Dialogue Concerning Natural Religion.
Dialogue menjelaskan sikap Hume tentang eksistensi Tuhan dan sifat agama. Namun atas saran teman yang memiliki perhatian terhadap sifat pandangannya yang radikal, Hume tidak jadi menerbitkan Dialogue.
Dengan ketetapan dari kehendak Hume, karya itu diterbitkan setelah Hume meninggal di tahun 1779.
Antara tahun 1752_1757, Hume mengabdi sebagai petugas perpustakaan di Faculty of Advocates di Edinburg.
Setelah mendapatkan sumber-sumber dari perpustakaan ini, David Hume menulis tentang sejarah Inggris. Karya ini tidak hanya panjang, tetapi juga kontroversial.
Bagaimanapun, sebagai akibatnya, semua tulisan David Hume menjadi lebih dikenal dan karya-karya itu mendapat pujian luas dari beberapa kalangan.
Pujian tersebut terutama datang dari kalangan intelektual Perancis dan ketika Hume pergi ke sana pada tahun 1763 sebagai sekretaris Duta Besar Inggris, ia menerima sambutan hangat.
Ia kembali ke London di tahun 1766 bersama Rousseau, meskipun hubungan antara keduanya segera menegang. Setelah mengabdi selama tiga tahun di Undersecretary of State.
David Hume pensiun di Edinburg dan meninggal di sana tahun 1776.
B. Pemikiran David Hume
Teori David Hume Tentang Pengalaman dan Kausalitas (Sebab-Akibat). Teori Hume tentang pengalaman dimulai dengan ide bahwa semua isi pengalaman sadar kita dapat dipecah menjadi dua kategori yakni kesan dan ide.
David Hume mengatakan bahwa istilah kesan (impression) menunjuk kepada semua persepsi kita yang lebih hidup ketika mendengar, melihat, merasa, mencinta, membenci, menginginkan atau menghendaki.
Kesan berbeda dari ide, bukan di dalam isi tetapi di dalam kekuatan dan semangat, yang dengannya keduanya menyentuh kita.
Di sisi lain, ide adalah gambar yang didasarkan pada memori kesan atau pikiran tentang kesan, yang terakhir ini sering melibatkan kemampuan imajinasi kita yang memberi produk ide, yang mungkin kita memiliki kaitan langsung di dalam wilayah kesan.
Meskipun demikian, semua ide dasarnya berasal dari kesan. David Hume menguraikan dan menjelaskan hubungan antara kesan dan ide dengan menyatakan bahwa keduanya dipandang dari segi simplisitas atau kompleksitasnya, dapat dibagi menjadi dua kategori.
Sebuah kesan yang kompleks tersusun atas kesan-kesan yang simpel. Selain itu, setiap ide yang simple berasal dari kesan tunggal yang berhubungan secara langsung.
Di sisi lain, sebuah ide kompleks tidak perlu berasal dari sebuah kesan kompleks. Sebaliknya, ide-ide kompleks dapat dikembangkan dari variasi kesan simpel atau kompleks, atau ide-ide kompleks itu dapat disusun dari ide-ide simple.
Dalam penyelidikan Hume, ternyata banyak ide yang kompleks yang tidak memiliki kesan yang berhubungan dengan ide itu.
Banyak pula kesan yang kompleks yang tidak direkam dalam ide kita. kita tidak dapat menggambarkan suatu kota yang belum pernah saya lihat.
Akan tetapi saya pernah melihat kota Paris, namun kita harus mengatakan kita tidak sanggup membentuk ide tentang kota Paris yang lengkap dengan gedung-gedung, jalan dan lain-lain lengkap dengan ukuran masing-masing.
Untuk mengetahui apakah sesuatu yang kita sangka pengetahuan adalah benar-benar pengetahuan, kita harus mengurai ide yang kompleks menjadi ide-ide yang sederhana dan kemudian menemukan kesan yang merupakan basis ide tersebut.
Bila kita mengatakan kita melihat sebuah “apel”, kita menganalisis pengalaman kita. Ide kita adalah ada sebuah apel ditentukan oleh penglihatan kita pada warna merah, bentuk bulat, rasa apel, dan seterusnya.
Selanjutnya, David Hume sangat tertarik pada relasi sebab dan akibat karena semua pertimbangan yang berkenaan dengan masalah fakta tampak didasarkan pada relasi sebab dan akibat.
David Hume menegaskan bahwa pengalaman lebih memberi keyakinan dibanding kesimpulan logika atau kemestian sebab-akibat.
Sebab akibat hanya hubungan yang saling berurutan saja dan secara konstan terjadi seperti, api membuat api mendidih.
Padahal dalam api tidak dapat diamati adanya daya aktif yang mendidihkan air.
Padahal dalam api tidak dapat diamati adanya daya aktif yang mendidihkan air.
Menurut David Hume, pengalamanlah yang memberi informasi yang langsung dan pasti terhadap objek yang diamati sesuai waktu dan tempat.
Roti yang telah saya makan, kata David Hume, mengenyangkan saya, artinya bahwa tubuh dengan bahan ini dan pada waktu itu memiliki rahasia kekuatan untuk mengenyangkan.
Namun, roti tersebut belum tentu bisa menjadi jaminan yang pasti pada waktu yang akan datang karena roti itu unsurnya telah berubah karena tercemar dan kena polusi dan situasipun tidak sama lagi dengan makan roti yang pertama.
Jadi, pengalaman adalah sumber informasi bahwa roti itu mengenyangkan, untuk selanjutnya hanya kemungkinan belaka bukan kepastian.
C. Kesimpulan
David Hume mengkritik keras ketiga bukti keberadaan Tuhan yang disampaikan Descartes.
Dua bukti pertama Descartes mengenai keberadaan Tuhan adalah bukti sebab-akibat. Keduanya membuktikan bahwa Tuhan ada sebagai satu-satunya sebab munculnya gagasanku mengenai Dia dan munculnya gagasan mengenai keberadaanku sebagai benda yang berpikir.
Namun kita tidak mempunyai kesan indera mengenai Tuhan sebagai suatu sebab, kita juga tidak mempunyai kesan apapun mengenai benda berpikir sebagai akibat.
Apalagi, pada kedua bukti sebab-akibat mengenai keberadaan Tuhan ini, Descartes mendasarkan diri pada kejelasan dan kejernihan pemikiran bahwa sebab harus sama nyatanya dengan akibatnya.
Bagi Descartes gagasan ini sangat jelas sehingga tidak ada pikiran rasional apapun yang bisa meragukannya, namun bagi Hume gagasan ini sangatlah tidak berarti.
Gagasan tersebut tidak memunculkan baik landasan rasional maupun empiris untuk kausalitas.
Adapun bukti ketiga mengenai keberadaan Tuhan, yang dimunculkan pada buku “Meditation Descartes” menggunakan bukti ontologis yang dikemukakan Saint Anselm di abad XI.
Bukti itu mengemukakan ide bawaan mengenai Tuhan yang memiliki segala kesempurnaan, dan oleh karena itu pasti memiliki kesempunaan pada wujud-Nya.
Bukti ini sampai pula pada kesimpulan bahwa Tuhan itu memang ada. Hume meruntuhkan bukti ini dengan pertama-tama mengingatkan kita bahwa filsuf empirisme seperti John Locke telah menunjukan tidak ada yang namanya ide bawaan, kita hanya memiliki gagasan yang muncul dari pengalaman kesan.
Bukti ontologis Saint Anselm mengenai keberadaan Tuhan menyatakan bahwa ide ketuhanan itu dengan sendirinya terbukti dalam akal pikiran:
Tuhan mempunyai segala kesempurnaan, Dia Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Maha Baik.
Oleh karena itu, Dia tak mungkin kurang sempurna dalam keberadaan-Nya. Hume menjawabnya dengan uji empiris atas gagasan: jika tidak ada kesan dalam pengalaman, gagasan itu tidaklah bermakna, tak berarti.
Namun kita tidak bisa mempunyai kesan indera atas zat supranatural, dengan demikian ide ketuhanan tidak lulus dalam uji empiris.
David Hume sangat tertarik pada relasi sebab dan akibat karena semua pertimbangan yang berkenaan dengan masalah fakta tampak didasarkan pada relasi sebab dan akibat.
David Hume menegaskan bahwa pengalaman lebih memberi keyakinan dibanding kesimpulan logika atau kemestian sebab-akibat.
Sebab akibat hanya hubungan yang saling berurutan saja dan secara konstan terjadi seperti, api membuat api mendidih.
Padahal dalam api tidak dapat diamati adanya daya aktif yang mendidihkan air.
Demikian materi catatan kuliah Filsafat, tentang Karya Pemikiran David Hume, semoga bermanfaat, dan semakin semangat belajar Filsafat.
Makassar, 5 Juli 2022
Teori Hume ini meruntuhkan teori rasionalisme yang mengatakan bahwa sumber pengetahuan adalah melalui rasio atau akal. Menurut Hume, pengetahuan itu bersumber dari pengalaman yang diterima oleh kesan indrawi. Hal demikian mendorong bagi kita, bahwa untuk menemukan sebuah pengetahuan kita memerlukan pengalaman kita.
Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si.

Dr. Sudirman, S. Pd. M. Si.
(Pengajar Filsafat)
