“Semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua manusia memiliki fungsi intelektual di masyarakat.”

Antonio Gramsci

A. Mengenal Antonio Gramsci
Antonio Gramsci (1892_1937.), pria kelahiran Ales, Italia, ini mungkin tidak begitu dikenal di Indonesia. Antonio adalah seorang filsuf, penulis, dan ahli politik.

Anggota pendiri dan pernah menjadi pemimpin Partai Komunis Italia, Gramsci sempat menjalani pemenjaraan pada masa berkuasanya rezim Fasis Benito Mussolini.

Gramsci Antonio Gramsci lahir di pulau Sardinia pada tahun 1891. Ia dibesarkan dalam kemiskinan di antara para petani di pulau itu, dan pengalamannya tentang perbedaan kelas antara Italia daratan dan Sardinia dan perlakuan negatif terhadap petani Sardinia oleh penduduk daratan membentuk intelektual dan politiknya. berpikir dalam-dalam.

Antonio Gramsci adalah seorang jurnalis dan aktivis Italia yang dikenal dan terkenal karena menyoroti dan mengembangkan peran budaya dan pendidikan dalam teori ekonomi, politik, dan kelas Marx.

Lahir pada tahun 1891, ia meninggal pada usia 46 tahun sebagai akibat dari masalah kesehatan serius yang dideritanya saat dipenjara oleh pemerintah fasis Italia.

Karya-karya Gramsci yang paling banyak dibaca dan terkenal, dan karya-karya yang mempengaruhi teori sosial ditulis saat dia dipenjara dan diterbitkan secara anumerta sebagai The Prison Notebooks.

Saat sekarang, Gramsci dianggap sebagai ahli teori dasar untuk sosiologi budaya, dan untuk mengartikulasikan hubungan penting antara budaya, negara, ekonomi, dan hubungan kekuasaan.

Kontribusi teoretis Gramsci memacu perkembangan bidang studi budaya, dan khususnya, perhatian bidang tersebut pada signifikansi budaya dan politik media massa.

Antonio Gramsci dibesarkan dalam kemiskinan di antara para petani di pulau itu, dan pengalamannya tentang perbedaan kelas antara Italia daratan dan Sardinia dan perlakuan negatif terhadap petani Sardinia oleh penduduk daratan membentuk intelektual dan politiknya. berpikir dalam-dalam.

Pada tahun 1911, Gramsci meninggalkan Sardinia untuk belajar di Universitas Turin di Italia utara dan tinggal di sana saat kota itu menjadi industri.

Dia menghabiskan waktunya di Turin di antara kaum sosialis, imigran Sardinia, dan pekerja yang direkrut dari daerah miskin untuk menjadi staf pabrik-pabrik perkotaan.

Ia bergabung dengan Partai Sosialis Italia pada tahun 1913. Gramsci tidak menyelesaikan pendidikan formal, tetapi dilatih di Universitas sebagai seorang Marxis Hegelian, dan mempelajari secara intensif interpretasi teori Karl Marx sebagai “filsafat praksis” di bawah Antonio Labriola.

Pendekatan Marxis ini berfokus pada pengembangan kesadaran kelas dan pembebasan kelas pekerja melalui proses perjuangan.

Pada akhirnya, ia membantu mendirikan Partai Komunis Italia untuk memobilisasi pekerja untuk hak-hak mereka.

Setelah ia meninggalkan sekolah, Gramsci menulis untuk surat kabar sosialis dan naik pangkat di partai Sosialis. Dia dan sosialis Italia menjadi berafiliasi dengan Vladimir Lenin dan organisasi komunis internasional yang dikenal sebagai Internasional Ketiga.

Selama masa aktivisme politik ini, Gramsci menganjurkan dewan pekerja dan pemogokan buruh sebagai metode untuk mengambil kendali atas alat-alat produksi, jika tidak dikendalikan oleh kapitalis kaya yang merugikan kelas pekerja.

Pada akhirnya, ia membantu mendirikan Partai Komunis Italia untuk memobilisasi pekerja untuk hak-hak mereka.

Gramsci melakukan perjalanan ke Wina pada tahun 1923, di mana ia bertemu Georg Lukács, seorang pemikir Marxis Hungaria terkemuka, dan intelektual dan aktivis Marxis dan komunis lainnya yang akan membentuk karya intelektualnya.

Pada tahun 1926, Gramsci, yang saat itu menjadi ketua Partai Komunis Italia, dipenjarakan di Roma oleh rezim fasis Benito Mussolini selama kampanye agresifnya untuk membasmi politik oposisi.

Dia dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara tetapi dibebaskan pada tahun 1934 karena kesehatannya yang sangat buruk.

Sebagian besar warisan intelektualnya ditulis di penjara, dan dikenal sebagai “The Prison Notebooks.” Gramsci meninggal di Roma pada tahun 1937, hanya tiga tahun setelah dibebaskan dari penjara.

Ia keburu meninggal muda saat baru berumur 46 tahun. Namun siapa sangka, dalam usia yang begitu singkat, Gramsci menjadi pembaru di dalam sosialisme.

Gramsci diakui semua kaum kiri baru (New Left) sebagai pembuka kran kebuntuan marxisme.

Mengapa Gramsci mendapatkan penghargaan setinggi itu? Apa yang menjadikan Gramsci pembeda dari semua teoritisi sosial kala itu?

Istilah hegemoni pertama kali dipakai Gramsci di dalam tulisannya “Notes on the Southern Question” (1926). 

Hegemoni (bahasa Yunani: ἡγεμονία hēgemonía) pada awalnya merujuk pada dominasi (kepemimpinan) suatu negara-kota Yunani terhadap negara-kota lain dan berkembang menjadi dominasi ekstrem negara terhadap negara lain.

Konsep Hagemoni Gramsci adalah gagasan yang berpusat pada pemahaman Antonio Gramsci mengenai hagemoni sebagai sarana kultural maupun ideologis tempat kelompok-kelompok yang dominan dalam masyarakat

wikipedia

B. Karya Gramsci
Teori hegemoni Gramsci adalah teori makro yang menganalisi hubungan- hubungan antara system ekonomi produksi, negara (political society) dan masyarakat sipil (civil society).

Tujuan Hegemoni Simon (1999) hegemoni adalah sarana untuk memahami masyarakat dengan tujuan untuk mengubahnya.

Tujuan dari adanya hegemoni adalah menarik perhatian masyarakat atau mengarahkan pada hal-hal yang difokuskan oleh sang penghegemoni.

Hegemoni merupakan proses di mana kelas dominan menjalankan kekuasaan dan kepemimpinan atas kelas yang dikuasai melalui kombinasi kekuatan dengan persetujuan.

Namun konsep ini baru mendapatkan makna khas al’a Gramsci dalam karyanya “Prison Notebooks“.  (1929_1935 ).

Masyarakat modern sangat heterogen dan tidak dapat direduksi satu sama lain.

Perbedaan ini dapat meruncing hingga menyulut konflik. Karena itu, di satu sisi, perbedaan tajam ini perlu disetarakan. Namun di sisi lain, tidak mungkin menghubungkan aneka perbedaan ini.

Menurut Gramsci, hanya ada satu jalan: mediasi politik.

Gramsci mendefinisikan hegemoni sebagai artikulasi politik yang meleburkan sebanyak mungkin kepentingan politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan intelek.

Artikulasi hegemonik selalu mengandaikan dua kelompok: (1). kelompok yang mengemban tugas hegemonik dan (2). kelompok yang mengorbankan kepentingannya untuk dileburkan. Kelompok kedua disebut sebagai “the hegemonizied class“, sedangkan kelompok pertama ialah ” fundamental class“.

Meskipun kedua kelompok ini sama-sama memiliki peran, “fundamental class” memikul tanggung jawab lebih besar.

Fundamental class” bertugas menyaring, menyulin, hingga merekatkan nilai-nilai ideologis setiap kelompok hingga terbentuk identitas baru.

Karena tugas “fundamental class” ini berat, hanya kelompok tertentu yang dapat mengisi peran ini. Laclau mengatakan, mereka adalah kaum intelektual.

Hanya para “scholar” yang dapat membaca, memetakan, dan menyatukan berbagai kelompok ini.

Hanya ilmuwan yang dapat menyelami kerumitan realitas sosial. Dengan pengetahuan dan keterampilan khusus, akademisi dipanggil menjadi semen perekat keberagaman hidup bersama.

Di sini kelihatan betapa besar dan penting peran kaum intelektual terhadap kehidupan bermasyarakat. Kalau ilmuwan merasa diri cukup dengan bermeditasi dan mencapai kepuasan intelektual personal, apa yang menarik dari profesi ilmuwan, selain makhluk-makhluk egois yang apatis terhadap rintihan masyarakat.

C. Kesimpulan

Yang membedakan Konsep Hagemoni Gramsci dengan konsep hagemoni oleh tokoh lainnya adalah (wikipedia) ;

(1). Pertama, ia menerapkan konsep itu lebih luas bagi kekuatan tertinggi satu kelompok atau lebih atas lainnya dalam setiap hubungan sosial, sedangkan pemekaian iistilah itu sebelumnya hanya menunjuk pada relasi antara proletariat dan kelompok lainnya.

(2). Kedua, Gramsci juga mengkarakterisasikan hegemoni dalam istilah “pengaruh kultural ”, tidak hanya “kepemimpinan politik dalam sebuah sistem aliansi” sebagaimana dipahami generasi Marxis terdahulu (Femia, 1983).

Ada 3 tingkatan hagemoni menurut Gramsci, yaitu:

1). Hegemoni Total
Hegemoni yang ditandai dengan afiliasi masa yang mendekati totalitas, Masyarakat menunjukan tingkat kesatuan moral dan intelektual yang kokoh

2).Hegemoni Yang Merosot
Menurut Gramsci pada tahap ini terjadi potensi disintegrasi atau potensi konflik yang tersembunyi dibawah permukaan, artinya sekalipun sistem yang ada telah mencapai kebutuhan dan sasarannya, namun mentalitas massa tidak sungguh-sungguh selaras dengan pemikiran yang dominan dan subjek hegemoni

3).Hegemoni Minimum
Hegemoni yang paling rendah tingkatannya, hegemoni ini bersandar pada kesatuan ideologis antara elit ekonomi, politik dan intelektual.
Demikian pembahasan tentang karya Antonio Gramsci, semoga menjadi rujukan dan bahan kajian sosiologi bagi pemerhati sosial.
Salam literasi
5 Juli 2022

Sudirman Muhammadiyah

(Visited 733 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

4 thoughts on “Membaca Karya Antonio Gramsci : HEGEMONI”
  1. Ada 3 tingkatan hagemoni menurut Gramsci, yaitu:

    1). Hegemoni Total
    Hegemoni yang ditandai dengan afiliasi masa yang mendekati totalitas, Masyarakat menunjukan tingkat kesatuan moral dan intelektual yang kokoh

    2).Hegemoni Yang Merosot
    Menurut Gramsci pada tahap ini terjadi potensi disintegrasi atau potensi konflik yang tersembunyi dibawah permukaan, artinya sekalipun sistem yang ada telah mencapai kebutuhan dan sasarannya, namun mentalitas massa tidak sungguh-sungguh selaras dengan pemikiran yang dominan dan subjek hegemoni

    3).Hegemoni Minimum
    Hegemoni yang paling rendah tingkatannya, hegemoni ini bersandar pada kesatuan ideologis antara elit ekonomi, politik dan intelektual.
    Demikian pembahasan tentang karya Antonio Gramsci, semoga menjadi rujukan dan bahan kajian sosiologi bagi pemerhati sosial.
    Salam literasi

    1. “Semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua manusia memiliki fungsi intelektual di masyarakat
      Perbedaan ini dapat meruncing hingga menyulut konflik. Karena itu, di satu sisi, perbedaan tajam ini perllu disetarakan dengan menghubungkan aneka perbedaan

  2. Masalah lain yang dihadapi oleh bangsa Indonesia di masa sekarang ini adalah banyaknya partai politik yang memilih selebritis tanah air untuk menjadi anggota partainya. Dengan maksud rakyat lebih banyak memilihnya karena kepopuleran. Padahal, kinerja dari para selebritis tersebut tidak bisa dijamin jika hanya mengandalkan kepopuleran. Yang dibutuhkan dalam dunia perpolitikan Indonesia bukanlah sebuah kepopuleran, akan tetapi kinerja optimal yang dapat membangun politik Indonesia menjadi sangat baik. Dan seharusnya, partai politik memilih dengan bijaksana siapa anggota yang mahir pada bidangnya, bukan asal – asalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.