Sejarah merupakan narasi tentang apa telah dipikirkan serta dilakukan orang-orang beradab di masa lampau, baik sehari, sepekan, sebulan, setahun, seabad, dan perubahan waktu. Sebab manusia bukan merupakan makhluk yang pasif, melainkan makhluk sosial yang hidup di mana saja berasosiasi. Manusia dan sejarah sangat berhubungan dengan kelompok-kelompok sosial terutama dalam negara dan bangsa. Biografi mengungkap kehidupan individu-individu, sedangkan sejarah mengungkap kebangkitan, kemajuan serta kemunduran kelompok sosial.

Sejarah tak membatasi pengungkapan hanya pada suatu kelompok komunitas saja dengan menyingkirkan komunitas lainnya. Sejarah tidak pula hanya terbatas pada para penguasa dan pujangga saja, tetapi juga membahas tentang bentuk-bentuk pemerintahan, masalah-masalah publik, serta perang dalam negeri dan luar negeri. Terlebih lagi sejarah menjadi sumber keterangan tentang seluruh kebudayaan suatu bangsa. Sejarawan ingin mempelajari tentang rumah, furnitur, pakaian, serta makanan mereka; apa pekerjaan yang mereka lakukan; sekolah apa yang mereka dirikan; keyakinan serta tahayul apa yang mereka yakini; hiburan dan festival apa yang mereka lakukan. Perkembangan kemajuan manusia dalam penemuan dibidang sains, seni, musik, sastra, moral, agama, serta aspek-aspek peradaban lainnya merupakan menjadi pokok-pokok utama yang dipelajari pembelajar sejarah.

Peradaban dianggap merupakan suatu yang baru saja ada, hampir seperti suatu yang terbentuk kemarin. Dimulainya peradaban tidak lebih dari lima atau enam ribu tahun yang lalu di lembah-lembah sungai di Mesir dan Babilonia pada saat itu telah dikenal cocok tanam, membangun jalan dan bendungan, menambang, membangun kota. Membentuk dan menjalankan pemerintahan yang stabil, dan telah mengenal dan menyimpan catatan-catatan tertulis.

Dan dianggap semua bagian dunia lainnya kemudian masih dihuni oleh bangsa-bangsa liar dan bar-bar, dan masih dapat ditemukan dibeberapa daerah.

Sifat liar ini dimaksudkan bagai sifat kekanakan. Yang mencari penghidupan dari alam dan berburu binatang liar. Belum mengetahui tentang logam, membuat peralatan dan senjata masih dari kayu, tulang, dan batu. Belum berpakaian dan atau masih menutup sedikit bagian tubuh. Bertempat tinggal di gua-gua, berlindung di antara bebatuan, atau gubuk yang terbuat dari kulit pohon. Barbarisme membentuk sebuah tahapan transisi antara keliatan dan peradaban. Kehidupan selanjutnya mereka telah mampu mengambil kontrol atas alam. Belajar menanam tidak lagi sepenuhnya bergantung pada berburu. Mereka telah menjinakkan hewan dan memelihara ternak dan telah mampu memanfaatkan logam.

Dari pernyataan Hutton Webster di atas Dalam diri manusia ada suatu naluri yang membawa mereka kepada perkembangan dan kemajuan yang dapat menunjukkan eksistensi.

(Visited 9 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Syair Assituju

Syair wija sabbangparuna wajo. Terlahir di generasi milenial. Menjadi generasi yang berada dimasa transisi tradisional ke digitalisasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.