Buku : Sang Penasihat (judul asli : De Raadsman)
Penulis : H.J. Friedericy
Penerjemah : H. B. Jassin
Penerbit : P.T. Pustaka Utama Grafiti
Tempat : Jakarta
Tahun : 1990
Jumlah Halaman : xii + 104
Ukuran : 10,5 x 17 cm
ISBN : 979-444-094-9
Tidak banyak novel sejarah atau roman sejarah yang mengambil setting daerah Gowa pada masa kolonial Belanda. Bahkan mungkin novel ini satu satunya. Ditulis oleh seorang ilmuwan, seniman dan sastrawan berkebangsaan Belanda yang pernah bertugas di Sulawesi Selatan sebagai Pangreh Praja, Herman Jan Friedericy. H.J. Friedericy juga menulis salah satu novel sejarah De Laatste Generaal van Bontorihu yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia dengan judul “Sang Jenderal”.

Novel ini diawali dengan kata pengantar oleh Dr. Mattulada, kemudian dibagi dalam 17 bagian. Setiap bagian diberi judul sesuai topik yang dikisahkan. Namun tokoh utamanya adalah Sang Penasihat yang bernama Tuan Anwar. Tokoh lainnya adalah Tuan Petoro, seorang Belanda yang ditugaskan di Sungguminasa. Tuan Anwar memiliki anak bernama Musa. Ada juga tokoh Karaeng Manuju, Karaeng Katangka, opas yang bernama Badawi, dan pembantu yang bernama Prins tapi asli Makassar dan banyak tokoh masyarakat lain dengan nama khas Makassar.
Membaca novel ini seakan membawa kita ke masa masa pendudukan kolonial Belanda. Masa ketika raja atau sultan Gowa masih ada namun tidak lagi memerintah seperti dulu. Dikisahkan bahwa pada masa itu sering terjadi ada orang mengamuk yang biasanya menyebabkan banyak nyawa melayang. Dikisahkan pula, kegemaran para bangsawan mengikuti kegiatan berburu rusa di hutan dan pegunungan selama berhari hari.
Dikisahkan pula konflik antara Sang Penasihat (Tuan Anwar) dengan anaknya sendiri yaitu Musa yang pada masa itu baru berusia 17 tahun namun sikapnya menentang Belanda dan tidak menginginkan ayahnya bekerja dibawah pemerintah kolonial Belanda. Kelak kemudian hari, Musa diangkat menjadi Menteri setelah Indonesia merdeka, sementara ayahnya dianggap sebagai pengkhianat bangsa.
Novel sejarah ini memang hanyalah sebuah karya fiksi hasil olah pikir penulisnya, namun penulis biasanya merujuk pada apa yang dialami dan dirasakan pada masa hidupnya disuatu daerah. Kisah yang terjalin dalam novel sejarah atau novel lain adalah cerminan dari suatu budaya tertentu. Biasanya budaya dimana penulisnya tinggal atau budaya dari etnis sang penulis.
Pada bagian akhir novel juga sempat disebutkan tentang kapal “Van Der Wijck” yang juga pernah dijadikan novel oleh Hamka dengan judul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”.
Sangat menarik membaca kisah dalam novel sejarah ini. Banyak hal yang terjadi dimasa lampau dikisahkan dalam buku ini. Sangat direkomendasikan bagi anda yang ingin mengetahui kehidupan di Gowa dan Sulawesi Selatan pada umumnya pada masa masa pra kemerdekaan, masa kolonisasi Belanda di Indonesia.
