Buku : Rumpa’na Bone (Novel)
Penulis : Andi Makmur Makka
Kata Pengantar : D. Zawawi Imron
Penerbit : Kompas
Tempat : Jakarta
Tahun : 2015
Jumlah Halaman : xiv + 202
Ukuran : 14 x 21 cm
ISBN : 978-979-709-904-6
Peristiwa jatuhnya Kerajaan Bone ke dalam kekuasaan kompeni Belanda disebut “Rumpa’na Bone”. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1905 itu menandai berakhirnya perjuangan heroik para prajurit kerajaan Bone melawan kezaliman penjajah Belanda. Pada peristiwa itu Arung (Raja) Bone La Pawawoi Karaeng Sigeri berhasil ditangkap oleh Belanda di suatu perbukitan di daerah Enrekang, setelah selama beberapa bulan melakukan perang gerilya melawan Belanda. Sang Raja kemudian dibawa ke Makassar dan selanjutnya di hukum pengasingan ke Batavia lalu ke Bandung.

Ada beberapa buku sejarah yang mengisahkan kejatuhan Bone (Rumpa’na Bone). Buku buku tersebut ditulis oleh para peneliti, sejarawan maupun para budayawan berdasarkan dokumentasi sejarah seperti Arsip, buku, foto maupun peta. Apa yang disajikan dalam buku buku tersebut adalah fakta fakta sejarah keruntuhan kerajaan Bone diawal abad ke-20 lalu.
Buku fiksi / Novel “Rumpa’na Bone” ini adalah hasil oleh pikir dan imajinasi penulisnya Andi Makmur Makka yang mengisahkan kehidupan di Istana Kerajaan Bone, Raja (Arung) dan para bangsawan serta pertempuran dan perang gerilya melawan pemerintah kolonial Belanda. Tokoh didalam ini seperti Petta Sele, Petta Toro dan lain lain kemungkinan hanya fiktif, tidak ada dalam dunia nyata saat peristiwa itu terjadi. Tapi tentu ada pula tokoh yang memang ada dan nyata pernah hidup dan mengispirasi penulis dalam menulis karakter tokoh dalam novel ini.

Penulisnya sendiri adalah keturunan langsung dari Arungpone (Raja Bone) dan menuliskan kisah dalam novel ini berdasarkan buku buku sejarah dan arsip arsip yang ada. Buku buku sejarah karya Manai Sophiaan (Perang Bone 1904-1905), Sagimun MD. (La Pawawoi Karaeng Sigeri Raja Bone ke-31), Dr. Christian Pelras (The Bugis) dan Mattulada (Latoa dan Rumpa’na Bone) adalah sumber sejarah yang dijadikan bahan rujukan dalam penulisan kisah ini.
Membaca novel ini, membawa kita ke masa silam pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 sekitar terjadinya perang Bone. Kita bisa merasakan bagaimana konflik batin Arungpone ketika Belanda semakin dalam menancapkan kuku kekuasaannya di wilayah Bone. Antara harga diri sebagai seorang raja dan keselamatan rakyatnya, antara keinginan untuk tetap tinggal menetap di Istana dan ditanah kerajaan atau melakukan perlawan perang gerilya dari hutan di daerah bagian utara Sulawesi Selatan. Pembaca seakan diajak pula ikut dalam rombongan Arungpone bergerilya dihutan, di bukit dan padang mulai dari Watampone, Palakka, Wajo sampai Enrekang.
Tak hanya kehidupan sang raja yang dikisahkan, tapi juga suasana alam Bone, Bajoe, Wajo, sampai keadaan geografis daerah yang dilalui selama dalam perjalanannya ke utara.
Bagian bagian dari novel ini :
- Penegak Marwah dari Bone (pengantar dari Zawawi Imron)
- Bone Januari 1905
- Melanggar Pangngadereng
- Menolak Ultimatum
- Mangngarru
- Serbuan ke Bajoe
- Bajoe Berdarah
- Petta Toro Gugur
- Watampone Jatuh
- Pengembaraan dimulai
- Saya Menyerah Jenderal
- Eksekusi seorang laskar Bone
- Misteri dalam Hutan
- Sebuah Perburuan Panjang
- Van Heutz Marah Besar
- Dia Bukan Marsose
- Dicegat Rakyat Bone
- Berpisah dengan Sahabat Sejati
- Perang dan Kebencian
- Perlawanan Terakhir
- Dalam Tawanan Musuh
- Epilog
Pada bagian terakhir novel ini dibahas tentang penulis.
Novel ini sangat mengesankan. Sangat direkomendasikan bagi anda para pencinta Fiksi Sejarah, Novel Sejarah terutama yang bertema lokal Bugis, daerah Bone atau Sulawesi Selatan. Novel ini tersedia di berbagai perpustakaan, maupun di toko toko buku di seluruh Indonesia.

