Oleh: Elvira Pereira Ximenes

Pertengahan tahun 2008, aku bersama beberapa teman seprofesi terpilih mendapat kesempatan istimewa berkunjung ke beberapa sekolah SMA, tempat wisata, termasuk gedung parlemen di kota Edinburgh, Skotlandia.

Kesempatan emas ini disponsori oleh NGO internasional Timor AID dan dan Mercy Corps dari Skotlandia yang berkarya di Timor-Leste. Kala itu aku diberi izin oleh pihak sekolahku dulu tempat aku mengabdi, yakni Colégio São José yang dipimpin oleh Romo Eduardo C. Ratu Dopo, SJ. Selaku kepala sekolah. Romo Quyen Vu, SJ, selaku wakil dan Romo Roberto Boholst, SJ sebagai tutor dan guru Bimbingan Konseling waktu itu beliau masih frater.

Bagiku, perjalanan ini merupakan awal dari pengalaman perjalanan paling jauh dalam hidupku. Yakni duduk berjam-jam dalam pesawat sampai belasan jam di atas langit dari satu benua ke benua lain. Melintasi beberapa negara mulai dari negaraku yang berada di garis khatulistiwa hingga sampai pada ujung bumi benua Eropa bagian Utara.

Rute perjalanan mulai dari Bandara internasional Nicolau Lobato Díli, Bandara Denpasar Bali, Bandara Kuala lumpur, Bandar London berakhir di Edinburgh, Skotlandia, United kingdom. Menukar mata uang beberapa kali setiap transit demi memenuhi kebutuhan lambung. Yakni mulai dari Rupiah, Ringgit dan Poundsterling. Walaupun waktunya terbatas tapi berusaha mencari lokasi Money changer belum lagi berhadapan dengan petugas imigrasi yang bertugas memeriksa dokumen kami. Waktu itu kami sempat mendapat teguran karena beberapa dokumen tidak lengkap. Tidak sesuai dengan aturan internasional di bandara London. Berkat Tuhan kami lolos.

Saat posisi kami dalam pesawat, hati berbahagia ingin menyaksikan suasana baru di negara baru tapi denyut jantung berdebar-debar ketika cuaca buruk di udara. Pesawat mulai bergoyang tidak tenang. Aku hanya berdiam dan berdoa. Berharap pada kuasa Tuhan yang terjadi. Tangan kananku memegang untaian biji Rosario dan tangan kiriku memegang kursi pesawat. Aku berimajinasi seolah-olah aku sedang memegang erat kaki Yesus dan Bunda perawan Maria agar tidak terlepas. Mohon pengampunan dan belas kasih agar tidak terjadi malapetaka dalam bentuk apa pun. Aku bagaikan debu yang hanya bisa melekat dibawah kaki Kudus Yesus dan Bunda perawan Maria.

Akhirnya kami tiba di kota Edinburgh Skotlandia, UK dengan kondisi baik dan menjalankan semua aktivitas yang telah diprogramkan, yakni berkunjung ke beberapa sekolah, bertamasya ke tempat pariwisata walaupun ada yang tidak berkunjung. Termasuk tidak sempat melihat Monster di Glasgow. Berkunjung juga ke gedung parlemen dan menyaksikan suasana perdebatan yang terjadi dalam Gedung parlemen.

Aku bersyukur sekali karena bisa mengikuti perayaan Ekaristi Kudus di gereja katedral metropolitan Edinburgh. Tentu saja banyak tantangan yang aku hadapi seperti berkaitan dengan perubahan cuaca yang tidak sesuai dengan suhu tubuhku karena dingin. Makanan yang sangat bernutrisi tapi butuh waktu agar bisa beradaptasi dengan lambung. Siang terlalu panjang, gelap hanya 2 jam. Selain itu Bahasa Inggrisku masih sangat minim. Kebesaran Tuhan terjadi semuanya bisa kuhadapi hingga pulang kembali ke Timor-Leste dengan sehat.

Dari rute perjalanan ini banyak hal yang aku petik baik dari segi ilmu pengetahuan, kebiasaan, budaya, sosial ekonomi serta agama maupun situasi dan letak geografis dan geologis dari suatu negara dengan perilaku yang heterogen. Baik dilihat dari segi mental maupun spiritual, serta bagaimana menghadapi tantangan, ujian maupun cobaan dengan tenang mengelolanya menjadi produk baru yang bermakna dalam hidup. Kemurahan, keajaiban, Kerahiman Tuhan terjadi saat kita berserah dan berharap sepenuhnya pada belas kasih Tuhan Sang pencipta.

(Visited 41 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Elvira P. Ximenes

Elemen KPKers Dili TL, telah menyumbangkan puluhan tulisan berupa, artikel, cerpen, dan puisi ke BN, dengan motonya, "Mengukir makna dalam setiap kalimat, menghidupkan dunia dalam setiap paragraf", pingin jadi penulis mengikuti jejak para penulis senior lainnya di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.