Oleh : Artati Latif*

Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) adalah kelembagaan penyuluhan pertanian di kecamatan yang merupakan sub ordinat dari kelembagaan penyuluhan pertanian kabupaten/kota.

Salah satu tujuan Balai Penyuluhan Pertanian yang ada di kecamatan adalah terselenggaranya kegiatan penyuluhan dan kerjasama antara peneliti, penyuluh pertanian, petani/kontak tani dan pelaku agribisnis lainnya, tersedianya fasilitas untuk membuat percontohan dan pengembangan model-model usaha tani dan kemitraan agribisnis dan ketahanan pangan.

Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Tanete Rilau merupakan salah satu BPP di wilayah Kabupaten Barru yang membina WKPP sebanyak 8 Desa, 2 Kelurahan yang terdiri atas 10 gapoktan dan 134 kelompok tani. Dalam perjalanan dan pembinaan petani, BPP Tanete dituntut untuk memberikan pelayanan penyuluhan dan penciptaan inovasi baru di bidang pertanian. Inovasi baru bisa berupa perlakuan atau teknik budidaya komoditi pertanian maupun ragam demonstrasi penerapan teknologi yang berbeda dilakukan petani dan sanggup memberikan produktivitas pertanian optimal dengan biaya tidak mahal serta tidak boros sumberdaya.

Dalam rangka mewujudkan program diversifikasi komoditi pertanian, meningkatkan pendapatan petani, mengurangi belanja konsumsi masyarakat serta pemanfaatan lahan pekarangan petani disamping sebagai salah satu cara untuk mengendalikan inflasi harga-harga pangan saat ini yang masih tinggi, maka BPP Tanete sejak 5 tahun terakhir, memperkenalkan model usaha budidaya cabai yang efektif, efisien dan mudah dilakukan petani dalam skala rumah tangga maupun skala komersil.

Model usaha tani yang dikembangkan BPP Tanete adalah budidaya cabai dengan penggunaan mulsa plastik dan kompos produk lokal, pengairan secara mekanis menggunakan water sprinkler dan yang paling khas adalah pemanfaatan agensi hayati pada pengendalian organisme pengganggu tanaman. Agensi hayati yang dimanfaatkan adalah trichoderma harzianum yang merupakan hasil eksplorasi para tenaga SDM BPP Tanete. Pengendalian OPT secara hayati inilah merupakan kekhasan dalam inovasi budidaya cabai di BPP Tanete yang akan ditawarkan kepada pengguna inovasi. Paling spesifik di BPP Tanete dalam inovasi cabai ini adalah menyiapkan informasi dari aspek agronomi hingga aspek analisis ekonomi usaha tani cabai, pendampingan dan penyiapan paket pengendali.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan kesesuaian lahan untuk budidaya tanaman cabai.
Cabai rawit Capsicum frutescens L. merupakan tanaman yang cocok dikembangkan di daerah tropis terutama sekitar khatulistiwa. Tanaman ini paling baik ditanam di dataran rendah dengan ketinggian 0-500 meter dpl. Meskipun demikian, cabai rawit bisa tumbuh baik hingga ketinggian 1000 meter dpl.

Di dataran tinggi, tanaman cabai rawit masih bisa berbuah, hanya saja periode panennya lebih sedikit dibanding dataran rendah. Selain itu, produksi biji pada buah cabai rawit lebih sedikit, Ini bisa dianggap keunggulan atau kelemahan. Karena tentu saja konsumen menyukainya namun bobot buah menjadi ringan (Balitsa, 2009).

Menurut Rukmana (2001), melaporkan komposisi gizi dari berbagai macam cabai antara lain kalori, protein, lemak, karbohidrat, fosfor, zat besi, vitamin A, B, dan C serta cabai mengandung formula air. Sedangkan Kementerian Pertanian (2022) menguraikan manfaat cabai yang mengandung senyawa capsaicin antara lain sebagai penghilang rasa sakit dan penurun berat badan, meningkatkan imunitas tubuh, menjaga kesehatan mata, mengurangi risiko terserang penyakit jantung dan mencegah penyakit kanker, detoksifikasi, serta mengurangi asma.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Barru sedang mensosialisasikan gerakan tanam cabai di kalangan ASN dan swasta, sekolah, pesantren, perkantoran maupun unit kerja lain untuk terlibat dalam gerakan ini. Bahkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan turut mendukung gerakan tanam cabai di seluruh pemerintah daerah di Sulawesi Selatan.Gerakan ini menjadi wajib di kalangan ASN dalam rangka menjaga angka inflasi pangan terutama komoditi cabai.

Pada berbagai kesempatan, Pj.Gubernur Sulawesi Selatan kerap menyampaikan program prioritas pembangunan terutama pada sektor ketahanan pangan.Di antara implementasi program tersebut adalah pengembangan komoditi cabai secara luas hingga tingkat rumah tangga dan mewajibkan para ASN lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk menanam cabai di halaman rumah masing-masing. Pj.Gubernur telah mengalokasikan anggaran untuk pengadaan benih/ bibit cabai hingga 200 juta pohon dan akan dibagikan kepada seluruh masyarakat Sulawesi Selatan.
Prihal tersebut disampaikan pada acara silaturrahim bersama Forkopimda Pemerintah Kabupaten Barru di pondok pesantren DDI Mangkoso pada akhir tahun 2023 lalu.Tujuan program ini adalah dalam rangka pengendalian inflasi harga cabai yang hampir setiap hari harganya melonjak naik.

Peran BPP Tanete selama ini cukup memberikan kontribusinya dalam menyiapkan BPP sebagai tempat layanan inkubator dan coaching clinic penerapan agribisnis cabai atau penggunaan aspek teknologi untuk mendesiminasikan potensi cabai sebagai komoditi yang layak secara ekonomi.

Kapasitas BPP saat ini yang dinahkodai oleh Koordinator Subhan, S.ST yang sebelumnya dipimpin oleh Abdul Azis, SP dengan pembina Bapak Sappewali, SP dan Bapak Yoyok Bhakti Sugiyo, SP telah berperan nyata dalam memberikan arah pengembangan BPP Tanete dan membentuknya BPP sebagai show window penerapan agroteknologi yang spesifik lokasi. SDM yang lain seperti Umar Pawiloi dan Saparuddin,S.ST sebagai tenaga ekspert memprepare lapangan mulai pengelolaan lahan dan hara tanah, perlakuan dan seleksi benih, teknis pesemaian, penanaman dan pemeliharaan hingga panen. Sedangkan dukungan para PPL yang lain adalah mengorganisasikan semua sarana pendukung budidaya, seperti Bapak Marhaeni yang cukup ahli dalam mengeksplorasi agensi hayati serta pengolahan kompos lokal dan pemanfaatannya.

Support lain untuk bagian kelayakan ekonomi usaha tani cabai dianalisis oleh penulis Artati Latif, SP., MP, yang dibantu oleh PPL lain yaitu Sumarni, S.Pt., Hj. Sitti Rahmaniah, SP., Marhaeti, SP., MP., Muhlisah Ali ,S.Pt, Yuliana, S.Pt, dan Andi Paturusi, S. Pt serta tenaga pendukung BPP Tanete lainnya. Informasi yang disiapkan berupa jumlah kebutuhan sarana produksi cabai dan penggunaan tenaga kerja, teknis penyelenggaraan tanam,cara pengendalian OPT cabai,nutrisi tanaman,analisis pasar dan kelayakan ekonominya.

Peran aparat pertanian yang tak kalah pentingnya adalah petugas POPT(Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman)yang mana atensi dan pengamatan dilakukan untuk perlindungan tanaman serta memproduksi dan mengaplikasikan sarana pengendali hayati PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Aktivasi ini dijalankan oleh Bapak Makmur, SP sebagai bagian dari tenaga organik Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan.

Pemberdayaan BPP Tanete sebagai suatu BPP Model akan mewarnai perjalanan dan aliran teknologi budidaya cabai sebagai suatu inovasi akan mempercepat penerapannya di tingkat lapangan. Model seperti ini akan memberikan suatu jaminan dan tingkat kepercayaan yang presisi kepada petani dalam menggunakan hasil inovasi yang dilakukan oleh aparat pertanian.

Capacity building BPP Tanete saat ini telah on the track di mana kemampuan tersebut menunjukkan BPP kembali kepada khittahnya yang mengorganisasikan dirinya dan memaksimalkan sumberdaya yang dimiliki sehingga melahirkan suatu inovasi usaha tani pembibitan dan budidaya cabai rawit kredible yang dikelola langsung oleh para SDMnya serta memaksimalkan lahannya yang pada gilirannya mengantarkan statusnya menjadi penerap instrumen pertanian di daerah.

Kamis, 07 Januari 2024

*PPL Desa Lalabata Kecamatan Tanete Rilau Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru

(Visited 87 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.