Oleh: Rosmawati*

Menjadi dosen adalah sebuah panggilan jiwa. Bukan hanya sekadar mentransfer ilmu, tapi juga membimbing mahasiswa menemukan jati dirinya.Namun, tidaklah mudah untuk menjadi pengajar sekaligus motivator yang bisa mengantarkan pelajar menjadi sukses meraih masa depan yang gemilang.

Menurut Ruslan Ismail Mage, seorang akademisi, inspirator, sekaligus penulis buku motivasi, untuk sukses menata masa depan, maka pelajar atau mahasiswa tidak sekadar butuh guru atau dosen yang mengajarkan teori-teori keilmuan, tetapi butuh juga seorang inspirator yang bisa merekonstruksi jiwanya menjadi generasi petarung masa depan. Artinya, tugas dosen bukan hanya mengajar tapi memberi motivasi dan optimisme dalam mengarungi gelombang kehidupan yang penuh onak dan duri.

Banyak mahasiswa yang cerdas dari segi akademik. Namun, mudah patah semangat (galau) ketika menghadapi persoalan hidup yang terkadang tidak sesuai antara harapan dan kenyataan.

Seorang dosen memainkan peran penting dalam membentuk karakter dan kepribadian mahasiswa. Mereka membina, memberikan masukan, memotivasi dan membantu mahasiswanya dalam memahami dan mencapai potensinya.

Selain sebagai motivator, seorang dosen juga tidak hanya terbatas berdiri di depan kelas mengajar, setelah itu selesai tanggung jawab. Faktanya, mereka juga harus menangani berbagai tugas administratif, memberi penilaian, merencanakan kurikulum, hingga tugas-tugas administratif lainnya.

Jadi, jangan berpikir bahwa menjadi seorang dosen hanya seputar mengajar, jauh di balik itu bagaimana bisa melahirkan pemuda-pemudi generasi emas yang cerdas, beretika dengan tetap mengedepankan adab.

Semoga pengabdian mereka menjadi seorang dosen bernilai ibadah dan kita bisa lebih menghargai perannya dalam membentuk generasi penerus bangsa dan mendapat kesejahteraan yang sesuai dengan kinerjanya.

*Penulis adalah pecinta dan penggerak literasi Kolaka Utara

(Visited 361 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.