Oleh: H. Tammasse Balla
Pada awal Desember ini, dunia maya gempar dengan peristiwa menghebohkan. Seorang ustaz kondang melontarkan kata-kata yang kurang pantas kepada seorang penjual es teh keliling. Ucapan ustaz seharusnya menyejukkan, malah membakar emosi. Sebagaimana yang kita tahu, mulut adalah pedang, dan dalam kasus ini, mulut sang ustaz telah menjadi pedang bermata dua, mengiris hati orang yang tak bersalah dan akhirnya menghujamkan dirinya sendiri. Pada awalnya, ia mungkin berniat bercanda atau membuat dagelan. Namun, begitulah masalahnya, niat tidak selalu sejalan dengan akibatnya. Bisa jadi niatnya hanya ingin “ngocol” sedikit, tetapi yang datang malah badai hujatan. Ustaz ini lupa bahwa bukan hanya niat baik yang harus dijaga, tapi juga kata-kata yang keluar dari mulut kita. Dalam hidup, seringkali mulut kita lebih cepat dari otak.
Sejak kejadian itu, warganet langsung menyerbu dengan kritik pedas. Seolah-olah seluruh dunia berbondong-bondong memanggil ustaz tersebut untuk “ceramah” tentang adab berbicara. Mulai dari ”meme-meme” yang bikin ngakak hingga unggahan-unggahan yang mengingatkan akan pentingnya menjaga lisan. Netizen tampaknya tak mau melewatkan kesempatan untuk menunjukkan bahwa kata-kata yang kita keluarkan punya efek yang luar biasa besarnya. Nah, di sinilah letak ironi terbesar, sang ustas yang biasa mengajari orang untuk menjaga lisan, malah terpeleset dan terperosok dalam jebakan lisan sendiri. Siapa sangka, “bercanda” dengan penjual es teh keliling bisa membuatmu mengundurkan diri dari posisi yang diberikan oleh Presiden Prabowo. Sudah mengundurkan diri, masih banyak juga yang bertanya: “Mau bercanda, tapi kok malah masuk jebakan?”
Satu hal yang tak bisa dihindari adalah realita bahwa dalam setiap perkataan, ada kekuatan yang tersembunyi. Ustaz kondang ini seharusnya tahu betul bahwa mulut itu bisa membangun, bisa juga meruntuhkan. Jika dahulu ia menyuarakan kebenaran dan kearifan, maka kini ia harus merasakan sendiri pahitnya kesalahan yang datang dari sebuah kata yang terlalu cepat keluar. Sering kali kita merasa terlalu pintar dalam berbicara, tanpa berpikir lebih panjang tentang dampaknya. Begitu mudahnya kita melupakan bahwa dalam dunia digital, “kalimat yang tidak matang” bisa berlipat ganda, berubah menjadi konsumsi massa yang cepat dan berbahaya. Sebuah canda yang mungkin tidak dipikirkan matang-matang, bisa saja menjadi bom waktu yang merusak karier dan citra seseorang.
Lalu, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari insiden ini? Selain untuk selalu menjaga mulut, kita juga diajarkan untuk lebih berhati-hati dalam memandang situasi. Tidak semua hal bisa dijadikan bahan lelucon. Canda itu harus punya batas, bahkan jika kamu seorang ustaz sekalipun. Jangan sampai niat bercanda malah menambah luka, atau lebih parah lagi, mengorbankan orang yang tidak bersalah. Untuk para pemuka agama atau siapa pun yang memiliki pengaruh publik, hati-hati. Jangan sampai mulut yang semula berniat untuk menenangkan, malah menjadi api yang membakar.
Dari “insiden” ini, yang kita lihat adalah sebuah pelajaran berharga bahwa dalam dunia yang serba cepat ini, mulutmu adalah segalanya. Mulut bisa membawa kita pada keberuntungan, atau malah menjebloskan kita ke dalam kehancuran. Jadi, sebelum berkata, pikirkan dulu seribu kali. Ingatlah pepatah yang tak lekang oleh waktu, “Berjalan selangkah menghadap surut, berkata sepatah dipikirkan.” Mulut memang bisa jadi maut, dalam arti yang sesungguhnya. Kalau tak hati-hati, kita bisa terjerumus ke dalam jebakan mulut sendiri. (HTB)
