Untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi Pejabat Fungsional dalam
bidang penulisan artikel di media online. Forum Fungsional Lingkungan Hidup Kehutanan (LHK) Sulawesi Selatan berkolaborasi dengan
Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Wilayah VI, menggelar workshop literasi.
Workshop literasi tersebut berlangsung di Ruang Kelas C BP2SDM Wil. VI, beralamat di Jalan Perintis Kemerdekaan km.17 Makassar. Mengusung tema ‘Menulis Artikel Populer, Menghasilkan Cuan dengan Tulisan’. Rabu, 18 Juni 2025 pagi.
Kegiatan tersebut menggandeng media klikhijau, sekaligus menghadirkan Direkturnya Anis Kurniawan sebagai narasumber.
Dalam sambutannya, Ketua Forsi LHK Sulawesi Selatan, Sudirman Sultan mengatakan, kegiatan menulis ini sudah dimulai dari online kemarin. Online ini merupakan pembekalan terkait dengan “Workshop Literasi Menulis Artikel Populer, Menghasilkan Cuan dengan Tulisan.
“Saya harapkan workshop literasi ini bermanfaat untuk kita semua. Kegiatan ini merupakan bagian komitmen dari Forsi LHK Sulsel untuk mendorong tumbuhnya budaya menulis di kalangan jabatan fungsional,” ungkap dia.
Dari workshop ini, lanjut Sudirman, lebih banyak pejabat Fungsional yang menyampaikan tulisan-tulisannya. Sehingga meskipun ada kekhawatiran dengan adanya kecerdasan buatan.
“Padahal dengan rajinnya para profesional, seperti tenaga-tenaga teknis lapangan itu menuliskan pengalaman nyatanya, karya-karyanya atau keahlian teknisnya. Maka kita bisa bayangkan tulisan-tulisan kita tentang lingkungan, tentang kehutanan, tentang konservasi, itu akan menjadi referensi utama kecerdasan buatan seperti chatGPT,” jelas Widyaiswara Madya di BP2SDM ini.
Sudirman Sultan menegasakan, ketika teman-teman menulis dan dibaca oleh banyak orang, maka itu menjadi rekomendasi kecerdasan buatan seperti ChatGPT.
“Kita jangan terlalu hawatir dengan munculnya kecerdasan buatan, ini adalah teknologi yang akan membantu kita. Tapi produknya itu dari semua profesional yang ada. Jadi tulisan-tulisan kita itu, baik dimuat secara formal maupun informal, kalau masih ragu-ragu formal, informal saja,” kata Sudirman dihadapan peserta workshop literasi.
Dia mengingatkan semakin banyak tulisan kita, maka pahala jariyahnya pastinya akan banyak. Olehnya itu kegiatan workshop ini mudah-mudahan bisa menjadi wahana bagi kita jabatan fungsional untuk menulis.
Pada kesempatan tersebut Kepala BP2SDM Wilayah VI, Komaruddin sempat mengutip pepatah kuno tuntutlah ilmu hingga daratan cina.
Pepatah ini menurutnya mempunyai makna bahwa pentingnya terhadap ilmu pengetahuan, tanpa ilmu pengetahuan tidak bisa apa-apa. Olehnya itu kita harus bersemangat mengejar ilmu pengetahuan tersebut.
“Hari ini kita akan banyak menyimak pengalaman bagaimana menulis artikel populer tersebut,” sebutnya.
Dia berpesan agar hasil-hasil kerja lapangan dapat dituangkan dalam bentuk tulisan dan dibagikan di media-media sosial.
“Menulis itu tidak mudah, tetapi kalau kita tidak memulainya, maka kita tidak pernah melakukannya, jadi mari kita memulai, saya setuju itu, saya setuju betul bahwa sesuatu yang tidak kita lakukan akan sulit, kita akan merasa mudah kalau kita sudah memulainya. Olehnya itu mari kita mulai menulis,” ajak Kepala BP2SDM Wilayah VI.
Pada akhir sesi pembukaan workshop, Toko Syurah menyerahkan cinderamata kepada Kepala Balai, Ketua, Forsi LHK Sulsel, dan Narasumber.
Cinderamata berupa madu karst, madu hasil hutan bukan kayu dari hutan karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Owner Toko Syurah, Mansur, menyerahkan secara langsung.
Usai rehat kopi sejenak, Anis Kurniawan mulai menyampaikan materinya.
“Menulis itu prinsipnya 3 P, yakni Praktis, Praktis, Praktis,” sebutnya.
Menurutnya, dalam membuat tulisan itu perlu menerapkan prinsip 3 O: Open Mind, Open Heart, dan Open Will. Open Mind. Maksudnya bahwa seorang penulis harus membuka wawasan selebar-lebarnya. Open Heart berarti membuka hati, memandang sesuatu dengan penuh cinta, menuangkan perasaan dalam tulisan. Dan Open Will, yang berarti bahwa seorang penulis harus menentukan tujuan mereka menulis.
Lebih lanjut, Anis mengatakan bahwa arti menulis bukan sekedar soal tata bahasa yang benar, tetapi mencakup kemampuan menyampaikan gagasan dengan jelas, efektif, dan menyentuh pembaca. Menurutnya, menulis itu butuh energi dan ketulusan.
“Penulis yang baik adalah mengubah ide menjadi kata-kata yang menggerakkan. Ia memadukan logika, empati, dan keterampilan teknis untuk membuat pembaca paham, tertarik bahkan terinspirasi,” tutup penulis buku Demokrasi di Sarang Penyamun ini.
