Peringatan ulang tahun ke-80 Republik Indonesia secara resmi sudah selesai. ‘Aktor utama’ dalam ritual resmi tahunan yaitu para pasukan pengibar bendera, pelatih, ofisial, panitia dan semua elemen pendukung yang ada di dalamnya kini sudah bisa sujud syukur, apapun hasil yang diperoleh di lapangan pada peringatan detik-detik proklamasi maupun pada penurunan bendera. Seperti biasa, peringatan HUT RI tidak hanya sebatas upacara di hari H. Banyak kegiatan berlangsung di mana-mana, oleh setiap warga, bahkan WNI yang bermukim di negara lain. Ini sering disebut Agustusan.

Lalu apa makna yang bisa diperoleh dari peringatan ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Presiden Republik RI Prabowo Subianto rupanya serius menghadirkan tontonan yang menarik lagi istimewa pada peringatan yang baru pertama kali dipimpinnya ini. Presiden ke-8 RI ingin memberikan kesan, bahwa di bawah kepemimpinannya, negara ini bisa mempertontonkan persatuan nasional yang indah dalam balutan multi budaya nusantara.

Dimulai dari istana. Gemerlap perayaan ulang tahun ke-80 RI diwarnai dengan berbagai atraksi. Terlihat di layar yang disaksikan langsung secara virtual oleh seluruh Kepala Daerah se-Indoensia, pertunjukan paling membanggakan bagi presiden adalah karnaval udara dengan pesawat tempur TNI AU. Tampak wajah sang presiden serius dan terharu saat pilot salah satu pesawat menyampaikan ucapan selamat dari angkasa di atas bumi Jakarta.

Begitu juga dengan warga yang menyaksikan pertunjukan udara ini. Ketika pesawat tempur menampilkan formasi angka 80, banyak warga yang membusungkan dada, dengan bangga berucap: ini Indonesiaku.

Itu di udara. Di darat, tak kalah meriahnya. Di bagian lain upacara peringatan HUT RI, gemerlapnya istana diwarnai dengan tampilan hiburan yang meriah. Dikutip dari laman setneg.go.id, sebelum upacara dimulai, panggung seni terlebih dahulu dibuka dengan penampilan Gita Bahana Nusantara (GBN), dilanjutkan penampilan Endah Laras dengan ‘Tanah Airku’. Kemudian penampilan diisi suara merdu Cakra Khan dan Isyana Sarasvati lewat lagu ‘Rumah Kita – Negeriku’. Disusul penampilan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jakarta, hingga Rossa yang membawakan lagu ‘Indonesia Pusaka’.

Sementara itu usai upacara, kemeriahan belum berhenti. GBN dan Sekolah Rakyat kembali mempersembahkan lagu ‘Hari Merdeka’ yang menggugah rasa nasionalisme. Yang paling ditunggu adalah persembahan spesial bertajuk ‘Bhinneka Tunggal Ika’, menghadirkan keragaman seni dari seluruh penjuru tanah air.

Masih di laman yang sama disebutkan bahwa pagelaran-pagelaran ini menghadirkan lintas generasi, lintas usia, dan lintas daerah. Dari Tari Barong Bali yang sarat filosofi hidup, Tarian Merah Putih dengan payung sebagai simbol pengayoman, hingga pencak silat yang dibawakan oleh pesilat sekaligus aktor Iko Uwais bersama para pesilat lainnya sebagai lambang kekuatan dan diplomasi budaya bangsa.

Lalu ada pula penampilan anak-anak dari Miracle Dancers Family yang memadukan tarian tradisional dengan sentuhan modern. Kemudian ada juga Musikal Dol dari Bengkulu yang disebut sebagai simbol keperkasaan musik tradisi nusantara.

Ada juga pertunjukan beberapa anak kecil dari Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau dengan tari pacu jalur yang sebelumnya sempat viral ke mancanegara. Dan terakhir, Silet Open Up feat Diva Aurel membawakan lagu ‘Tabola Bale’. Lagu itu bukan hanya menghibur tamu undangan, tetapi juga mengundang semua peserta upacara. Puncaknya Presiden Prabowo Subianto turun ke lapangan dan ikut bergoyang dan berjoget bersama para ‘aktor utama’.

Ada yang menarik di luar skenario saat pelepasan merpati putih. Sampai di sini, tidak ada yang istimewa. Hingga salah satu dari hewan dengan nama ilmiah Columba livia domestica ini hinggap di atas topi salah satu prajurit, kehebohan di istana merdeka pun muncul. Ketika pasukan bergerak, seperti maju 4 langkah beberapa kali, terus balik kanan, burung tetap tenang di atas topi. Dia hanya bergerak untuk mempertahankan keseimbangan. Dan setiap gerakan Merpati diikuti dengan riuhnya hadirin.

Makna dari pagelaran seni budaya dan atraksi di istana negara saat peringatan ulang tahun ke-80 RI adalah bekersamaan. Dengan nuansa meriah dan penuh kebanggaan, pagelaran seni dan budaya di istana Merdeka menjadi penegas bahwa kemerdekaan Indonesia adalah milik semua, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, dari generasi tua hingga muda, Baby Boomers sampai Alfa, dari tradisi hingga modernitas.

Gemerlap di istana pada Minggu, 17 Agustus 2025 pra dan pasca upacara proklamasi yang berisi tampilan nyanyi-nyanyi, dance masa kini, atraksi seni bela diri silat dengan berbagai corak pakaian dan budaya dan lain-lain, adalah pemersatu bangsa di tengah tercabiknya persatuan dan kesatuan akibat beberapa kebijakan pemimpin yang dianggap tidak pro-rakyat dan menyebabkan banyaknya protes di media sosial.

Pesan berikutnya adalah pemerintahan sangat fleksible berbaur dengan masyarakatnya tanpa protokoler yang melekat. Pemerintahan terlihat santai, rileks walau tetap serius menghadapi tantangan domestik dan global. Kekuasaan harus tetap dalam standing amanah dan profesional.

Bagaimanapun, Presiden Prabowo berhasil menghadirkan hari yang bersejarah, dipenuhi dengan kemeriahan atraksi budaya nasional dari berbagai latar suku, bahasa, adat, golongan dan nuansa keakraban antar anak bangsa. (AKS)

Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.

Selamat ulang tahun ke-80 Indonesia.

Dirgahayu bangsaku.

Paser-Kaltim, 19 Agustus 2025.

Untuk senior, Muhammad Sadar, di Barru.

(Visited 26 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.