Oleh: Ruslan Ismail Mage*

Warisan termahal bagi sebuah bangsa bukanlah tambang emas, minyak, atau hutan yang hijau. Ia juga bukan gedung pencakar langit, jalan tol megah, atau bendungan raksasa yang dibanggakan penguasa. Bahkan, bukan pula teknologi canggih atau tingginya pendapatan per kapita warganya. Semua itu penting, tetapi tidak menjamin keabadian sebuah bangsa.

Sejarah telah memberi pelajaran yang tak terbantahkan. Uni Soviet pernah berdiri sebagai negara adidaya dengan kekuatan militer, teknologi, dan kekayaan sumber daya alam yang sulit ditandingi. Yugoslavia juga pernah tegak dengan identitas sosialisme yang gagah. Kini, keduanya hilang dari peta dunia. Negara-negara di Timur Tengah, dengan cadangan minyak melimpah, justru sebagian hancur karena perpecahan dan perang yang mengorbankan warganya. Kekayaan alam dan teknologi ternyata tidak cukup menjaga mereka tetap utuh.

Dua paragraf sejarah itu membawa kita pada sosok seorang gadis berusia 13 tahun di Sabah, Malaysia: Zara Qairina. Ia bukan presiden, bukan politisi, apalagi jenderal. Ia hanyalah seorang remaja, seorang anak sekolah yang seharusnya sibuk dengan pelajaran dan permainan. Tetapi Zara telah meninggalkan sebuah warisan yang jauh lebih mahal dari minyak, emas, atau gedung pencakar langit: persatuan.

Kematian tragis Zara akibat perundungan (bullying) bukan sekadar catatan kriminal. Ia adalah alarm moral yang membangunkan kesadaran kolektif, bahwa keadilan hanya bisa ditegakkan jika kita bersatu. Persatuan itulah warisan termahal yang ditinggalkan Zara, bukan hanya bagi Malaysia, tetapi juga bagi dunia.

Warisan itu begitu universal. Tidak ada benua yang tidak membutuhkannya. Tidak ada negara yang tidak menginginkannya. Persatuan selalu menjadi kata kunci setiap bangsa yang ingin bertahan, setiap masyarakat yang ingin maju. Untuk itu, darah rela ditumpahkan, nyawa pun dipertaruhkan. Keadilan dan persatuan selalu berjalan beriringan, dan Zara—dengan cara yang pahit—telah mengingatkan kita akan hal itu.

Saya tidak mengenal Zara secara pribadi. Saya tinggal di Depok, Jawa Barat, jauh dari tanah kelahirannya. Namun setiap membaca kabar tentangnya, mata saya basah. Setiap mendengar lagu yang didedikasikan untuknya, dada saya sesak. Ia menjadi semacam cermin yang menyingkap luka sosial kita: keadilan yang dipermainkan, hukum yang ditertawakan, kekuasaan yang sering membutakan.

Zara pernah mengaku kepada bundanya, ia tidak takut pada para perundung. Ia ingin melawan, tetapi tidak ada teman yang berani berdiri di sisinya. Kini, ironisnya, jutaan orang di berbagai penjuru dunia justru bangkit menjadi sahabat setianya. Ia telah tiada, tetapi suara dan keberaniannya memicu api persatuan yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Terima kasih, Zara. Engkau memang telah pergi terlalu cepat. Tetapi warisanmu abadi: persatuan yang menyatukan orang-orang tertindas, orang-orang yang merindukan keadilan, orang-orang yang menolak menyerah pada kebisuan. Warisan yang mahal itu akan terus hidup, bukan hanya di Malaysia, tetapi juga di hati semua orang yang mencintai kemanusiaan.

Maafkan kami, hanya tulisan ini yang bisa mewakili perasaan kehilangan dan penghormatan untukmu.

*Akademisi dan penulis buku-buku motivasi. Founder Bengkel Narasi Indonesia.

(Visited 26 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.