Oleh: Ghinda Aprilia
Masih teringat dua tahun silam, tuan memperlihatkan poto seorang wanita dari ponselnya.
“Ghinda, dia mau ke sini.”
Aku menjawab dengan nada acuh
“Oke.”
Minggu berikutnya sosok wanita itupun muncul mungkin untuk mengambil hatiku dan Sailo, pertamakali datang nampak ramah. Dia mau antar jemput Sailo kerja, tentu senang dong tugasku lebih ringan.
Tidak lama kemudian dia memperlihatkan karakter aslinya, aku lupa entah permasalahan apa, tapi yang jelas dia ngoceh-ngiceh tanpa titik koma.
Aku kira dia disini cuma sesaat, ternyata dia juga mencari pekerjaan, tidak lama kemudian diterima menjadi satpam di daerah Tsuen Wan. Pukul 5.30 berangkat, pulang pukul 19.30.
Setiap malam sehabis pulang kerja tuan menyiapkan makanan untuk bekal dia kerja. Terkadang hatiku jengkel melihat dia pulang lebih awal, sedangkan tuan pulang pukul 20.30.
Mungkin sekitar enam bulan kerja, pindah kerja di tempat lain dan waktu bekerja berangkat jam 14.00, pulang jam 24.00.
Kebiasaan di rumah ini dia rubah, sarapan pagi harus ada bermacam-macam, selain rebus Ubi juga harus ada Jagung, Talas, Kentang dan Oat yang dicampur susu, telur, garam dan minyak. Ini mirip sarapannya tukang kuli nyangkul. Bagi dia makan karbo banyak tidak masalah, lain halnya dengan Sailo yang sudah kegemukan.
Pernah suatu pagi, di hati minggu waktunya aku libur, dia berani mengetuk pintu kamarku dan teriak-teriak.
“Kamu beli telur, tidak cukup telur di kulkas.”
Dengan enteng aku jawab,
“Kamu suruh tuan beli telur!
Dia semakin kencang teriak
“Lei kungyan, timkai lei kiu goi mai keitan?” ( Kamu pembantu, bagaimana mungkin kamu nyuruh singsang beli telur?”)
Aku tinggal libur, aku abaikan dia yang lagi ngamuk-ngamuk, di hari libur masih berani nyuruh aku ke pasar.
Tuan tidak suka makan buah, selain Pisang, Semangka dan Melon, sejak kehadiran dia disini tuan harus makan buah, lagi-lagi aku yang disalahkan. Beli buah Apel harus yang manis, mana ada buah Apel yang manis harga $20 untuk delapan buah? Harga buah Apel Jepang tentu tidak akan mencukupi dengan uang belanjaku.
Pernah pada suatu pagi marah-marah gara-gara ada kotoran di toilet, aku belum buang air besar, selain kencing di pagi hari, salahku tidak menyalakan lampu. Ternyata yang buang air besar itu Sailo.
Sepulang libur aku bicara sama tuan tentang Sailo, entah ada syetan mana yang mampir, dia banting pintu lalu teriak-teriak memarahi tuan. Suara teriakan sedikit reda ketika Sailo membuka pintu kamar. Terkadang aku merasa kasihan sama tuan, kehadiran dia disini bukan meringankan, malah menjadi beban.
Waktu itu menjelang aku iftar kamis, dia marah-marah gak jelas, kulkas bawah dia buka dan dicuci, sebelumnya sudah aku cuci tetapi aku tidak tahu pintu bawah bisa dibuka. Semua isinya berceceran di lantai, otomatis lantas basah dan kotor. “Terbayangkan waktunya berbuka puasa malah menyaksikan orang marah-marah dan rumah berantakan?”
Tidak lama tuan balik, aku berbisik sama dia, “lei lobo hak yan, ho mafan.” (strimu tidak bagus, rewel)
Tuan tidak menjawab, karena dia tahu faktanya istrinya berkarakter buruk. Malam itu untuk menghilangkan rasa suntuk, aku pergi ketemu teman di Mong Kok hingga pukul 23.30.
Sebelum dia datang di rumah ini, uang belanja $600 per minggu, naik jadi $700 per minggu, aku komplin tidak cukup ditambah jadi $800. Tetapi sejak tuan pindah kerja, dia selalu membawa bekal dari rumah, pusing tujuh keliling uang $800 buat makan empat orang, pagi, siang dan malam. Beli Ayam, Ikan dan daging harus yang fresh, tidak mau barang frozen food.
Akhirnya aku membuat list belanja, barang-barang yang harus dibeli setiap bulan yang jumlahnya hampir $500. Lalu aku kasih tahu Nona, yang ujungnya aku dikasih $900 perminggu.
Di Senin pagi buta saat aku mau antar Sailo ke kantor, tuan ngasih aku $900 uang belanja, dia langsung teriak-teriak.
Timkai, lei pongka, $900 mai sai?” (Bagaimana, kamu libur, $900 habis buat belanja?”)
Langsung aku kasih dia duit sambil ku sahut, “lei cikei mai.”
Aku nangis sambil antar Sailo ke kantor, rupanya tuan menyusulku menyerahkan kembali uang belanja.
Saat di kantor aku chat majikanku, “Sir, kamu punya duit dan masih ada waktu, kamu bisa ambil pembantu baru.”
Dia langsung balas WhatsAppku, “Ghinda, apakah kamu sudah tidak mau bekerja lagi?”
“Sir, sekarang terserah bapakmu, pilih dia atau aku?”
Seketika sir langsung telepon tuan (bapaknya) menanyakan perihal yang telah terjadi pagi ini.
Aku masih posisi di pasar sir langsung telepon aku,”Ghinda dia berjanji tidak akan memarahi kamu dan bapakku lagi, sekali lagi dia berulah, dia kick dari rumah.” Kehadiran dia tidak sir inginkan, mungkin belum bisa terima tuan nikah diam-diam setelah ibunya sir meninggal. Sampai detik ini belum sekalipun bertemu dengan sosok ibu tirinya. Bahkan aku sarankan untuk tidak ketemu, aku takut sama-sama punya sifat keras, yang ujungnya ribut setiap saat.
Keesokan paginya aku bekerja seperti biasanya walau bayangan dia marah-marah kemarin masih menghatuiku, tiba-tiba dia menyapaku.
“Cece tuemci, haji ngo mo kamyong,” maaf lain kali saya tidak begitu lagi) seraya memelukku dan tanpaku sadari dia sambil video untuk dikasih ke sir, sebagai bukti dia telah minta maaf, sementara sikapku tetap dingin. Sebelumnya sir pernah mengingatkanku, dia berasal dari desa yang tidak punya sopan santun.
Sejak kejadian itu aku lebih banyak diam di kamar, kalau dia ada di rumah, aku kerjakan pekerjaanku saat dia sudah pergi bekerja. Sejak itu dia tidak marah-marah lagi cuma karakter buruk masih nampak, barang-barang yang sudah aku cuci, dia cuci lagi, tersinggung sudah pasti, tapi aku abaikan.
Dia di Hong Kong cuma numpang hidup, gaji dia hanya untuk dia tabung, pernah suatu hari aku salah membuka surat dari bank, aku kira punyaku, jumlahnya yang fantastis. Tidak usah membelikan barang untuk kami, untuk urusan perut sendiri dia tidak mau keluar uang sendiri.
Dibalik gaji Rp 10 000 000 ada harga yang harus dibayar, Hong Kong tak seindah poto profil atau status yang sering berseliweran di medsos. Masih banyak teman-teman yang kurang beruntung, tidak dapat jatah sarapan atau makan siang, tidak punya kamar sendiri alias tidur di dapur atau di ruang tamu.
Ada juga yang punya majikan cerewet, pelit, tidak bisa libur atau majikan laki-laki yang genit berujung pelecehan seksual. Bagi yang job lansia, harus sudah pasti harus memandikan, nyebokin, mendorong kursi roda dan terlebih harus siap mental karena biasanya pikun, kembali seperti anak kecil. Yang mengasuh anak, sudah menjadi rahasia umum, anak-anak disini rata-rata nakal tapi pintar, harus siap-siap 24 jam menjaga anak.
