Oleh: Sesbania grandiflora*

Berbagai penamaan yang disematkan pada kompleks perumahan baik di ibukota negara, kota besar hingga dipinggiran kota/kabupaten mewarnai pembangunan suatu wilayah. Para developer mengembangkan hunian permanen baik berskala kecil, menengah hingga besar dengan sumber pendanaan antara subsidi pemerintah atau biaya mandiri. Tersebutlah beberapa nama identitas pemukiman atau nama kampung di Jakarta dan sekitarnya yang sangat familiar pada keluarga Indonesia, khususnya etnis Betawi diantaranya pondok bambu, pondok cabe, pondok gede, pondok kelapa, pondok kopi, pondok labu, pondok melati, pondok ranggon, dan kawasan elit pondok indah yang berada dalam zona kampung pondok pinang.

Penulis sangat terkesan dengan penyematan identitas pondok karena membawa memori penulis kepada suasana ketika masih menjalani status siswa pertanian tiga dasawarsa silam. Kesan ini lahir dari kepiawaian para guru pendidik yang mendesain nama tempat bermukim pada saat ia mengemban amanah penugasan sebagai tenaga pengajar muda di Sekolah Menengah Teknologi Pertanian Negeri Sidrap. Para guru tersebut merupakan alumni IPB era tahun 1980 yang pada umumnya berasal dari tanah Jawa dan pulau Sumatera.

Pondok sebagai tempat menetap, yang merupakan bagian dari paket bangunan sekolah diawal pendirian sekolah pertanian Sidrap. Pada masa itu, selain asrama yang dibangun sebagai pelengkap fasilitas boarding school bagi siswa, di dalam kompleks sekolah pertanian ini juga dibangun perumahan guru. Namun, penyematan tempat mukim yang menampung tenaga pengajar sangat eksentrik dan menarik perhatian karena dilabeli nama Pondok Bumi Janda.

Identitas perumahan tersebut berlatar dari kombinasi empat suku bangsa terbesar Indonesia sebagai penghuni pondok yaitu Bugis-Minangkabau- Jawa-Sunda (Bumi Janda) yang melakukan hijrah penugasan mengajar dari pemerintah cq. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengalirkan ilmunya di tanah Sulawesi. Bisa jadi istilah pondok terinspirasi dari kawasan pemukiman kampung di Jakarta ketika para guru tersebut menempuh pendidikan di IPB Bogor. Hunian ini sejak awal telah menunjukkan ragam kebhinekaan bangsa sebagai panggung representasi etnis negeri di sekolah pertanian Sidrap.

Pondok Bumi Janda yang merupakan perumahan permanen dgn konstruksi bangunan pada model arsitektur jaman orde baru yang mementingkan kekuatan-ketahanan dan kelestarian karya anak bangsa. Pondok Bumi Janda sarat adanya berbagai pola pembinaan siswa di jamannya. Teringat guru-guru yang tinggal di pondok tersebut, setiap malam melakukan patroli keliling di asrama siswa atau pada lokasi kos tempat siswa bermukim di kolong rumah penduduk di kawasan sekolah.

Habitat pondok Bumi Janda juga dijadikan tempat konsultasi dan konseling bagi siswa di luar jam pelajaran normal di ruang kelas yang monoton. Kegiatan ekstra kurikuler terkadang menjadi topik diskusi pelajar dengan guru pembina. Prihal praktek mata pelajaran kejuruan dan solusi masalah kesiswaan diselesaikan di dalam pondok Bumi Janda. Penyelenggaraan sidang terkait masa PKL dan sanksi kedisiplinan yang pernah dialami penulis, semuanya dibicarakan di bilik pondok Bumi Janda. Bahkan ruang komunikasi pembinaan spiritual agama Islam dilakukan di dalam kawasan pondok Bumi Janda agar para siswa mudah dikontrol oleh pembina asrama.

Kehadiran guru yang menghuni pondok Bumi Janda nyaris dikatakan momok bagi siswa yang memang tidak berkehendak dibentuk karakter didiknya. Pembentukan integritas maupun moralitas siswa diluar pembelajaran on-class bernuansa harmoni dilakukan oleh tenaga pendidik yang bernaung di pondok Bumi Janda layaknya relasi antara orang tua dengan anak. Pembinaan mental dan fisik bela diri yang dikawal oleh ahli pencak silat Panca Sera atau Seni Pembela Diri semuanya bermukim di pondok Bumi Janda, termasuk didalamnya adalah pembinaan siswa yang berpredikat peraih beasiswa Supersemar dilakukan oleh guru yang berada di dalam perumahan Bumi Janda.

Peran dan jasa pengabdian guru yang bermukim di pondok Bumi Janda nyaris tak bisa dikalkulasi oleh mesin hitung manapun secara keseluruhan. Penugasan pengajaran keilmuan teknis pertanian dan non pertanian kepada siswa sangat berpengaruh nyata terhadap pembentukan karakter bagi alumni yang telah menjalani bimbingan dan arahan. Jalinan komunikasi dan keakraban sejak pada masa sekolah hingga hari ini pasca menjadi alumni masih terus berlangsung dengan guru-guru yang pernah menempati pondok Bumi Janda.

Warisan silaturrahim melalui pembinaan akhlak dan adab siswa yang terbangun sejak dulu hingga sekarang tetap menjadi bagian ilmu bagi para alumninya. Dengan berbagai latar dan ragam asal daerah pendidik utamanya dari Jawa dan Sumatera maupun etnis lokal Bugis sangat melengkapi semangat pluralisme tanpa jejak primordial serta memperkaya khazanah keilmuan selain ilmu yang bersumber dari kurikulum pertanian. Sistem pengajian halaqah ala pesantren yang diterapkan dari pembina sekolah di kawasan pondok Bumi Janda ternyata menjadi patron fundamental di dalam menguatkan basic ajaran Islam di kemudian hari bagi alumni.

Penguatan dasar Islam tak lepas dari peran guru pembina di base pondok Bumi Janda. Malah ketika berstatus siswa baru pertanian, pada masa menjalani orientasi belajar dan pengenalan lingkungan sekolah, persaksian syahadatain direkonstruksikan kembali pembacaan dan pelafalannya bagi calon siswa yang beragama Islam. Persepsi penulis pada saat itu seakan kembali “diIslamkan” secara kaffah melalui bimbingan pengucapan dua kalimat syahadat yang dipandu langsung oleh guru pembina di area pondok Bumi Janda.

Kini, pondok Bumi Janda tinggal nama di kompleks sekolah pertanian Ciro-CiroE bahkan bangunan fisiknya yang gagah pada era orde baru yang menganut azas kekuatan-ketahanan dan kelestarian tak terawat diselimuti rimbunan semak yang tidak bisa dikenali lagi sebagai sebuah hunian layak. Arsitekturnya yang kokoh nan indah menyisakan tembok yang membisu lagi kusam. Atap, lantai dan bilik-biliknya tak terangkai telah berserak maupun pilarnya ikut roboh tak sekuat dulu lagi ketika menjadi saksi bina mental dan spiritual siswa pertanian.

Pondok Bumi Janda yang sarat-penuh dengan kenangan pendidikan dan sejarah pembinaan karakter siswa pertanian pada jamannya tak lebih dari sebuah bangunan tua nan rapuh. Potret bangunan lawas yang telah ditinggalkan penghuninya mungkin karena migrasi ketempat asal, promosi dan mutasi jabatan atau telah meninggalkan dunia fana ini selamanya. Pondok Bumi Janda telah mewariskan legacy yang tiada terkira bersama penghuninya yang hebat dan tak kenal menyerah, para pemukim tangguh yang menebar ilmu dan kebaikan serta membantu anak didiknya meraih masa depan yang gemilang.

Tenaga guru di pondok Bumi Janda yang sudah bertindak selaku pengajar profesional berdasarkan kurikulum ajar di zamannya, sangat berkontribusi besar didalam mengantarkan muridnya menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Peran pendidik yang berdomisili di pondok Bumi Janda, ilmunya tak akan lekang oleh waktu dan akan terus diamalkan untuk menjadi wasilah dan pencipta generasi unggul di sektor pertanian. Bumi harapan tempat berpijak para murid, tak akan pernah berkhianat dari amanah guru yang pernah menetap di pondok Bumi Janda.

Pada akhirnya, penulis menghaturkan terima kasih tak terhingga dan penghargaan yang tiada tara kepada guru-guruku yang pernah bermukim di Pondok Bumi Janda beserta kawasannya atas dedikasi, tanggungjawab dan pengabdiannya di tanah Bugis dalam menularkan sains pertanian kepada putra putri anak bangsa. Semoga amal baktinya, pikirannya, ayunan langkahnya dan keringatnya hingga amarahnya sekalipun dinilai sebagai ladang pahala di sisi Allah subehanahu wa ta’la. Mungkin saja privasi guru tidak sanggup lagi melawan lupa akan identitas muridnya karena gergaji zaman, namun para alumni konsisten seterusnya memposisikan diri tetap sebagai murid dan tak akan pernah melupakan jasa pengabdian GURU kepada bangsa dan negara.

Salam hormatku kepada setiap guru pertanian Ciro-CiroE baik yang berasal dari land of Java or Andalas island maupun kerabat guru lokal Bugis di manapun berada. Semoga mereka dalam keadaan sehat sejahtera beserta kepada segenap anak- keturunannya dan senantiasa memperoleh rahmat dan perlindungan dari Allah subehanahu wa ta’la. Sekali lagi, salam hangat dari murid Sesbania grandiflora di tanah Ugi, yang kerap kali berkunjung ke Pondok Bumi Janda.

*Warga Ikasemtani yang pernah bermukim di kawasan Pondok Bumi Janda tahun 1990-1993.

(Visited 104 times, 4 visits today)
One thought on “Pondok Bumi Janda”
  1. Narasinya sangat menarik dan baru kutau kalau pondok bumi janda asal kata dari jawa sunda yg penempatannya di sidraap doi sekolah pertanian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.