Oleh : Rosmawati*

Cermin telah menjadi kebutuhan dasar bagi umumnya orang. Semua ingin melihat diri mereka sendiri, memastikan penampilan mereka sempurna, dari bedak hingga lipstik, dari model rambut sampai cara berjalan. Cermin memberikan kita gambaran tentang bagaimana kita terlihat di mata orang lain, memuaskan kebutuhan akan pengakuan dan kepercayaan diri. Tapi, di balik kebutuhan ini, ada sisi lain yang perlu kita maknai.

Dalam kehidupan sehari-hari, cermin bukan hanya tentang fisik, tapi juga tentang jiwa. Tidak jarang orang menghindari cermin, karena tidak siap melihat diri sendiri, tidak siap menghadapi kekurangan dan kelemahan. Ini bukan hanya tentang penampilan, tapi tentang moralitas dan integritas.

Cermin jiwa kita seringkali tidak lebih penting daripada cermin fisik. Ini tentang bagaimana kita melihat diri kita sendiri, tentang nilai-nilai dan prinsip yang kita pegang. Ketika kita tidak siap menghadapi kebenaran tentang diri, kita cenderung untuk menyangkal dan menghindari cermin diri. Ini bisa berakibat pada sikap apatisme yang terisolasi dari lingkungan sosialnya.

Tantangan besar kita adalah bagaimana bisa menghadapi cermin jiwa kita dengan jujur. Bagaimana kita bisa menerima diri kita apa adanya, dengan semua kekurangan dan kelemahan. Ini bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang menjadi diri sendiri yang lebih baik. Jadilah diri sendiri agar tidak alergi sama cermin. Berhentilah mengimpresi orang lain menggunakan topeng.

Dari sinilah kekuatan quote sang inspirator penggerak jiwa Ruslan Ismail Mage yang mengatakan, “Cermin memantulkan diri sendiri. Itulah kenapa dalam konteks moralitas, etika, dan adab, banyak orang alergi cermin”. Kurang lebih mungkin maksudnya, banyak orang tidak siap melihat kebenaran tentang dirinya, tentang kekurangan dan kelemahan. Meragukan moralitasnya, sanksi etikanya, dan adabnya.

Terinspirasi dari quote Bang RIM itu, nampaknya kita perlu belajar untuk menghadapi cermin jiwa kita dengan jujur, untuk menjadi diri sendiri yang lebih baik, dan untuk meningkatkan moralitas dan etika kita. Jadi jangan alergi dengan cermin, hadapilah dengan kerendahan hati, dan jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri, agar cermin jiwanya bisa memancarkan kedamaian ke sesama.

*BNsiana sejati dan penggerak literasi Kolaka Utara

(Visited 9 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.