Kabar duka dan cemas menyelimuti keluarga besar Bapak Sarmi Wendi dan Ibu Reni Wati. Belum hilang sepenuhnya rasa lelah dari ujian-ujian sebelumnya, kini putra mereka, Agim, harus terbaring lemah di bangsal RSUD Suliki.

Sebagai adik kandung dari Rendion Pratama, Agim adalah sosok yang ceria, namun kini keceriaannya tertahan oleh diagnosa dokter dan aroma obat-obatan.

Berikut adalah sebuah cerpen singkat untuk menggambarkan situasi dan doa tulus dari kejauhan.

Langit di atas Nagari Simpang Kapuak terasa lebih abu-abu dari biasanya.

Di Jorong Simpang Goduang, tepatnya di Bukiktogang, sebuah rumah terasa sunyi. Sang pemilik rumah,

Bapak Sarmi Wendi dan Ibu Reni Wati, kini sedang setia menjaga putra mereka, Agim, di RSUD Suliki.
Rendion Pratama pun tak henti memberikan dukungan moral bagi adik tercintanya itu.

Kabar sakitnya Agim menjalar cepat melalui pesan-pesan singkat dan obrolan di lepau-lepau.

Di koridor rumah sakit, Ibu Reni sesekali menyeka sudut matanya, berharap ada keajaiban yang mengembalikan kekuatan tubuh putra bungsunya.

Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya, di Koto Merapak, Kecamatan Sutera, Pesisir Selatan, ada hati yang bergetar mendengar kabar tersebut. Ia adalah dunsanak yang terpisah jarak namun terikat kuat oleh darah dan rasa.

“Hanya doa yang bisa ambo kirimkan dari pesisir ini,” bisiknya dalam hati sambil menatap hamparan laut yang tenang. Ada rasa sesak karena raga tak bisa langsung hadir di sisi bed pasien. Namun, ia tahu bahwa semangat adalah obat yang paling mujarab.

Ia berharap kepada karib kerabat, dunsanak nan ado di Bukiktogang, jika memiliki kelapangan waktu dan kesempatan, ringankanlah langkah menuju RSUD Suliki.

Kehadiran fisik dunsanak di sana bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan suntikan nyawa dan semangat bagi Agim dan penguat bahu bagi Bapak Sarmi serta Ibu Reni.

“Tunggu ociak pulang, Agim. Sebelum puasa nanti, saat libur tiba, ambo akan pulang ke kampung halaman. Kita akan berkumpul lagi dalam keadaan sehat,” janjinya dalam doa.

Pesan untuk Keluarga

Untuk keluarga di rumah sakit, tetaplah bersabar. Ujian ini adalah tanda kasih sayang Tuhan agar kita semakin erat. Untuk Agim, capek lah cegak, Nak.

Dunia luar dan indahnya Simpang Kapuak sudah menantimu kembali. Syafakallah, Agim.

(Visited 12 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.