Oleh : Rosmawati*

Usia senja bukanlah jeda untuk saling mencurigai apalagi menjatuhkan. Pada fase ini, energi yang tersisa terlalu berharga jika hanya dipakai untuk membandingkan, menyalahkan, dan merasa paling dirugikan.

Kita sering terjebak pada rasa cemburu yang diam-diam menggerogoti. Melihat orang lain maju sedikit saja, dada terasa sesak. Padahal, setiap orang punya lintasan hidup yang berbeda. Membandingkan diri dengan orang lain di usia senja hanya akan membuat hati tua sebelum waktunya.

Masa ini seharusnya menjadi ruang untuk intropeksi. Duduklah sejenak, tanya pada diri sendiri: apa yang sudah kulakukan, apa yang masih bisa kuberikan, dan siapa yang bisa kuringankan bebannya hari ini? Intropeksi bukan tanda menyerah, tapi tanda jiwa yang masih hidup dan mau berbenah.

Ketika kita berhenti merasa besar sendiri, kita mulai melihat orang lain sebagai kawan seperjalanan, bukan saingan. Ketika kita berhenti merasa kecil terus-menerus, kita mulai menemukan nilai yang selama ini sudah ada dalam diri kita.

Usia senja adalah waktu menuai ketenangan, bukan menanam kecurigaan berlebih. Ia adalah waktu merawat hati, bukan merawat luka lama. Apa gunanya panjang umur jika hati tetap sempit dan mudah tersinggung?

Sisa waktu ini juga kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang renggang. Kata maaf yang tertunda, sapaan yang lama tak terdengar, dan kebaikan kecil yang terlupakan bisa menjadi jembatan yang menyambungkan kembali hati yang berjarak.

Jadikan sisa waktu ini untuk menebar manfaat, meski hanya lewat kata yang menenangkan, senyuman yang tulus, atau doa yang tidak pernah putus. Itulah warisan yang tidak akan pudar dimakan waktu.

Dan salah satu cara paling sederhana untuk menjaga hati tetap tenang adalah dengan membuang sampah yang ada di kepala. Tuliskan hal-hal positif, sekecil apa pun. Menulis menjadi terapi jiwa, tempat kita menyalurkan pikiran kusut menjadi kata yang jernih dan menyejukkan.

Karena pada akhirnya, yang diingat orang bukan siapa yang paling besar atau paling menang. Yang diingat adalah siapa yang paling tulus menebar kebaikan di masa senjanya, dan bagaimana ia menjaga hatinya tetap bersih sampai akhir.

Dalam konteks ini kalimat bijak sang penggerak jiwa Ruslan Ismail Mage menarik untuk di renungi, “Usia senja membuatku bergeser memuliakan jiwa bukan fisik, melayani kehidupan bukan hidup, memeluk kemanusiaan bukan manusia. Efeknya menyegarkan jiwa, memekarkan hidup, dan mendamaikan sesama”.

*Perempuan biasa yang tetap menulis karena dukungan sahabat BNsiana

(Visited 6 times, 2 visits today)
Avatar photo

By Inspirasi Daerah

Inspirasi Daerah memuat narasi pemerintahan daerah seluruh Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.