Menjadi Mahasiswa Baru (Maba) itu idaman anak-anak setelah Sekolah Menengah Atas (SMA), meski berat, menyandang gelar mahasiswa sebuah kebanggaan sekolahnya. Ada harapan besar orang tua yang ikut tumbuh ketika seorang anak mengenakan almamaternya untuk pertama kali.

Di mata orang tua, langkah menuju kampus bukan sekadar berpindah dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) ke perguruan tinggi, tetapi merupakan awal dari perjalanan panjang menuju pendewasaan cita-cita dan masa depan. Namun, di balik kebanggaan itu, ada sesuatu yang diam-diam membuat hati orang tua bertanya-tanya, mengapa langkah pertama menuju dunia perkuliahan terasa begitu berat bagi sebagian anak-anak kita?

Belum lama menyandang status mahasiswa, mereka sudah harus mengikuti berbagai kegiatan kampus sejak pagi. Bahkan pada hari-hari yang seharusnya menjadi waktu beristirahat, kegiatan masih dapat berlangsung. Pagi berangkat ke kampus, mengikuti perkuliahan dan aktivitas akademik hingga sore, kemudian pulang menjelang maghrib, selanjutnya bukan benar-benar rehat. Sesampainya di tempat tinggal, masih ada tugas yang harus dikerjakan.

Laporan kemarin belum selesai perbaikan, tugas berikutnya sudah menyusul. Belum sempat menyentuh piring makan dan mengecap seteguk air minum, pekerjaan lain kembali menunggu. Ada tugas dari dosen, ada arahan dari asisten, ada pula tugas atau koreksi dari senior yang harus diselesaikan.

Hari berganti hari. tugas datang silih berganti. Saya mengerjakan laporan, lalu saya mengoreksinya. Diperbaiki, kemudian kembali diperiksa. Kesalahan ditemukan, laporan dikembalikan. Dikerjakan lagi, diperbaiki lagi. Pada titik tertentu, bukan lagi tugas yang terasa berat, tetapi rasa lelah karena merasa tidak pernah ada habisnya.

Akhirnya ada anak yang menangis. Bukan karena mereka tidak mau belajar. Bukan pula karena mereka malas mengerjakan tugas. Mereka berusaha. Mereka duduk berjam-jam di depan laptop, membaca, menulis, mengoreksi, mencari referensi, dan mencoba memahami apa yang diminta. Tetapi tubuh juga memiliki batas. Mata membutuhkan tidur. Tubuh membutuhkan makanan. Pikiran membutuhkan jeda. Hati juga membutuhkan ketenangan. Ketika semua kebutuhan itu terus dikorbankan demi menyelesaikan tugas, wajar jika orang tua mulai merasa cemas.

Anak yang dahulu pulang sekolah dengan wajah ceria, kini lebih sering lesu, diam seribu bahasa. Anak yang biasanya banyak bercerita, perlahan menjadi lebih pendiam. Ada yang mulai mengeluhkan kurang tidur. Ada yang makan tidak teratur. Ada yang bahkan sampai ketiduran ketika sedang mengerjakan tugas karena tubuh sudah terlalu lelah memikul tugas yang berulang.

Sebagai orang tua, tentu hati mulai tidak tenang melihat keadaan seperti itu. Kami memahami bahwa kuliah memang berbeda dengan sekolah. Dunia perguruan tinggi menuntut mahasiswa lebih mandiri. Mereka harus mampu mengatur waktu, mencari bahan sendiri, menyusun laporan, berpikir kritis, bertanggung jawab terhadap tugas, dan menyelesaikan persoalan tanpa selalu bergantung kepada orang lain. Itu semua merupakan bagian dari proses pendewasaan. Namun, apakah menjadi mandiri berarti harus kehilangan waktu tidur?

Apakah menjadi mahasiswa berarti “mahasiksa” harus mengerjakan tugas hingga dini hari setiap hari?. Apakah banyaknya laporan harus selalu menjadi ukuran bahwa seorang mahasiswa baru sedang belajar dengan baik?. Atau, apakah semua mahasiswa baru memang harus melewati fase seperti ini sebagai bagian dari proses pembentukan mental?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu bukan untuk menyalahkan pihak mana pun. Orang tua hanya ingin memahami apa yang sebenarnya sedang dijalani anak-anak mereka. Sebab, di satu sisi kita ingin anak-anak menjadi kuat. Tetapi di sisi lain, kita juga tidak ingin mereka menjadi kuat karena dipaksa melewati tekanan yang tidak mereka pahami.
Mahasiswa baru sebenarnya sedang berada pada masa transisi yang sangat penting.
Mereka baru meninggalkan dunia sekolah menengah. Cara belajar berubah. Lingkungan berubah. Teman-teman berubah. Jadwal berubah. Sistem penilaian berubah. Bahkan cara berkomunikasi dengan dosen pun berbeda.

Ada yang langsung mampu beradaptasi. Namun, ada pula yang membutuhkan waktu.
Karena itu, masa awal perkuliahan seharusnya menjadi ruang untuk mengenalkan mahasiswa pada dunia akademik secara bertahap.
Matrikulasi, misalnya, pada dasarnya merupakan proses pembelajaran awal untuk menyetarakan dan memperkuat kemampuan dasar sebelum mahasiswa memasuki pembelajaran utama. Tujuannya agar mahasiswa memiliki bekal awal yang relatif setara sesuai bidang yang akan dipelajari.
Artinya, mahasiswa baru memang perlu dibentuk.

Tetapi membentuk bukan berarti membebani tanpa batas. Mendidik bukan sekadar memberikan tugas. Mendidik juga berarti memberikan arahan. Membimbing bukan hanya menyuruh “perbaiki”. Membimbing berarti menjelaskan bagian mana yang salah, mengapa salah, dan bagaimana cara memperbaikinya.

Salah satu hal yang cukup membuat mahasiswa baru merasa tertekan adalah laporan yang berkali-kali dikembalikan untuk diperbaiki. Revisi tentu merupakan bagian dari proses belajar. Dari revisi, mahasiswa mengetahui kesalahan, memahami kekurangan, dan belajar menghasilkan pekerjaan yang lebih baik. Namun, revisi akan menjadi lebih bermakna apabila disertai penjelasan.

Jika terdapat kesalahan dalam sistematika laporan, mahasiswa perlu diberi pemahaman tentang sistematika yang benar. Jika cara penulisan belum sesuai, tunjukkan bagaimana penulisan yang seharusnya. Jika referensi belum tepat, berikan arahan bagaimana mencari sumber yang relevan. Sebab, mengatakan “salah, perbaiki” tanpa memberikan penjelasan tidak selalu membuat seseorang menjadi lebih pintar.
Bisa jadi justru membuat mahasiswa baru frustrasi dan semakin bingung.

Dan ketika kebingungan itu berlangsung berulang kali, rasa percaya diri perlahan dapat berkurang. Mahasiswa mulai bertanya kepada dirinya sendiri,
“Apakah saya memang tidak mampu?”

“Mengapa pekerjaan saya selalu salah?”

“Kapan tugas ini selesai?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut, jika terus muncul dalam pikiran seorang mahasiswa yang kelelahan, dapat menjadi beban tersendiri.

Dalam kehidupan kampus, keberadaan senior tentu dapat memberikan banyak manfaat.
Senior memiliki pengalaman lebih dahulu. Mereka mengetahui lingkungan kampus, memahami kebiasaan akademik, dan dapat membantu mahasiswa baru beradaptasi.
Karena itu, senior seharusnya menjadi tempat mahasiswa baru belajar.

Pengalaman senior seharusnya menjadi jembatan agar adik tingkat tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama. Senioritas akan memiliki makna positif ketika digunakan untuk membimbing, mengarahkan, dan membantu. Bukan ketika berubah menjadi tekanan. Mahasiswa baru bukanlah manusia yang berbeda dari mahasiswa senior. Mereka sama-sama memiliki keterbatasan fisik dan kemampuan yang berbeda.

Senior pernah menjadi mahasiswa baru. Dosen juga pernah menjadi mahasiswa.
Semua orang yang telah sampai pada tahap lebih tinggi pernah melewati masa belajar. Karena itu, alangkah indahnya jika pengalaman yang dahulu pernah diterima kemudian diwariskan dalam bentuk bimbingan yang lebih baik kepada generasi berikutnya.

Ada satu hal yang perlu selalu diingat dalam dunia pendidikan:
mahasiswa adalah manusia. Mereka bisa lelah.

Mereka bisa salah. Mereka bisa bingung.
Mereka bisa takut, Mereka bisa kehilangan semangat. Mereka juga bisa menangis. Mereka bukan robot yang dapat bekerja tanpa berhenti. Bahkan mesin yang terus digunakan tanpa istirahat pun pada akhirnya mengalami kerusakan.

Apalagi manusia. Jika mahasiswa terus menerus kekurangan tidur, makan tidak teratur, dan memaksakan diri menyelesaikan tugas sampai dini hari, tentu kondisi tubuh perlu diperhatikan. Kelelahan yang terus menumpuk dapat membuat seseorang sulit berkonsentrasi dan tidak nyaman menjalani aktivitas sehari-hari.

Karena itu, keseimbangan antara kewajiban akademik dan kebutuhan dasar manusia tidak boleh dianggap sebagai hal yang sepele. Kuliah memang membutuhkan perjuangan. Tetapi perjuangan tidak harus selalu identik dengan penderitaan.

Ada orang tua yang akhirnya mendengar anaknya berkata, “Saya sudah tidak sanggup kuliah.”

Kalimat tersebut tentu sangat menyayat untuk didengar orang tua, bukan karena tidak membayar, sebab di Indonesia tidak ada kuliah “cuma-cuma” alias gratis. Apalagi ketika alasan yang disampaikan adalah tugas yang terlalu banyak, laporan yang terus mengalami revisi, kurang tidur, dan rasa takut tidak mampu menyelesaikan semuanya.

Sebagai orang tua, tentu ada keinginan untuk mengatakan,

“Sabar, Nak. Jangan berhenti.”

Tetapi sebelum mengatakan itu, mungkin kita juga perlu mendengarkan apa yang sedang mereka rasakan. Anak yang mengeluh belum tentu ingin menyerah. Bisa jadi mereka hanya sedang meminta seseorang untuk mengatakan bahwa mereka tidak sendirian.

Maka ketika anak merasa lelah, jangan langsung mengatakan bahwa dirinya lemah. Ketika anak menangis, jangan langsung mengatakan bahwa dirinya cengeng..Ketika anak merasa takut, jangan langsung mengatakan bahwa dirinya tidak punya mental. Kadang-kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang duduk di sampingnya dan berkata, “Tidak apa-apa lelah. Istirahat sebentar. Setelah itu kita lanjut lagi.”
Kalimat sederhana seperti itu dapat menjadi kekuatan yang sangat besar.

Setiap mahasiswa mempunyai kemampuan adaptasi yang berbeda. Ada yang cepat memahami tugas. Ada yang membutuhkan penjelasan berkali-kali. Ada yang mudah bergaul. Ada yang membutuhkan waktu untuk merasa nyaman. Ada yang terbiasa belajar hingga malam.

Ada pula yang membutuhkan tidur cukup agar pikirannya dapat bekerja dengan baik.
Tidak adil jika semua mahasiswa diukur menggunakan ukuran yang sama tanpa mempertimbangkan kondisi masing-masing. Pendidikan seharusnya membantu seseorang berkembang sesuai potensinya. Bukan membuatnya merasa tidak berharga karena belum mampu mengikuti kecepatan orang lain.

Semester pertama bukanlah akhir perjalanan. Masih ada semester-semester berikutnya.
Masih ada berbagai mata kuliah. Masih ada ujian. Masih ada penelitian. Dan suatu saat nanti akan tiba masa penyusunan skripsi atau tugas akhir. Karena itu, mahasiswa baru tidak perlu merasa bahwa satu tugas adalah penentu seluruh masa depannya.

Jika hari ini tugas belum sempurna, masih ada kesempatan untuk memperbaiki. Jika hari ini melakukan kesalahan, masih ada kesempatan untuk belajar. Jika hari ini merasa tertinggal, masih ada waktu untuk mengejar. Yang penting adalah tetap berjalan. Tidak harus berlari. Yang penting jangan berhenti.

Kerjakan tugas satu per satu. Jika salah, perbaiki. Jika tidak mengerti, bertanya. Jika lelah, istirahat. Jika gagal, belajar lagi.
Jangan malu meminta bantuan. Jangan takut mengakui bahwa kalian sedang kesulitan. Dan jangan pernah menganggap diri kalian tidak mampu hanya karena sebuah tugas belum selesai.

Orang tua juga memiliki peran besar dalam perjalanan pendidikan anak. Kita mungkin tidak dapat mengurangi semua tugas mereka. Kita tidak dapat menggantikan mereka mengikuti perkuliahan. Kita tidak dapat mengerjakan laporan mereka. Tetapi kita dapat memberikan sesuatu yang sangat penting,
ketenangan.

Tugas harus diselesaikan, tetapi tubuh juga harus dijaga. Prestasi harus diperjuangkan, tetapi kehidupan tidak boleh kehilangan keseimbangan.

Terlebih bagi anak-anak yang harus tinggal jauh dari orang tua, di kos atau di kota lain demi mengejar pendidikan. Mereka membutuhkan dukungan yang lebih kuat karena menghadapi banyak hal seorang diri.
Intinya kampus bukan tempat untuk mendidik mahasiksa hingga “mampus”. Kampus adalah tempat bagi mahasiswa untuk belajar, menempuh pendidikan, dan bertumbuh menjadi manusia yang lebih dewasa.

Pendidikan di kampus bukan sekadar tentang nilai, prestasi, atau kemampuan akademik. Kampus juga harus menjadi ruang untuk belajar bertanggung jawab, menghargai sesama, memahami konsekuensi dari setiap tindakan, serta membangun kedewasaan dalam berpikir dan bersikap.

Namun, proses mendewasakan mahasiswa tidak boleh menghilangkan sisi manusiawinya. Mahasiswa tetap manusia yang memiliki rasa takut, lelah, salah, gagal, membutuhkan dukungan, dan berhak diperlakukan dengan martabat.

Mendidik bukan berarti menghancurkan.
Mendisiplinkan bukan berarti merendahkan.
Membentuk karakter bukan berarti menghilangkan kemanusiaan.

Kampus seharusnya menjadi tempat mahasiswa belajar menjadi manusia dewasa: cerdas dalam berpikir, bertanggung jawab dalam bertindak, kuat menghadapi kehidupan, tetapi tetap memiliki empati dan hati nurani.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan universitas, dosen, asisten, maupun senior dengan segala sistemnya. Tidak semua tugas adalah beban. Tidak semua revisi adalah tekanan.
Tidak semua senioritas bersifat negatif. Dan tidak semua mahasiswa mengalami kesulitan yang sama.

Namun, pengalaman sebagian mahasiswa dan kekhawatiran orang tua layak menjadi bahan renungan. Jika ada tugas yang memang penting, jelaskan tujuannya. Jika ada laporan yang harus diperbaiki, berikan bimbingannya. Jika mahasiswa melakukan kesalahan, jadikan kesalahan itu sebagai kesempatan belajar. Jika mahasiswa terlihat kelelahan, jangan abaikan kondisinya.
Sebab pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak tugas yang dapat diselesaikan.
Pendidikan juga tentang bagaimana manusia belajar bertanggung jawab tanpa kehilangan kemanusiaannya.
Di tengah segala kesibukan, jangan lupa kepada Sang Pencipta. Ketika kemampuan manusia terasa terbatas, kepada Allah SWT kita memohon pertolongan. Dekatkan diri kepada-Nya.

Berdoalah sebelum belajar.
Berdoalah ketika menghadapi kesulitan. Dan bersyukurlah ketika satu demi satu persoalan dapat dilewati.

Semoga setiap tugas yang dikerjakan menjadi bagian dari proses mendapatkan ilmu.
Semoga setiap air mata menjadi kekuatan.

Semoga setiap malam yang dilewati dengan perjuangan menjadi pengalaman yang kelak dikenang sebagai bagian dari perjalanan menuju keberhasilan. Anak-anak kita sedang belajar.

Mereka sedang bertumbuh. Mereka sedang mencari jalan. Dan tugas kita bukan hanya meminta mereka kuat, tetapi juga memastikan mereka memiliki alasan untuk tetap kuat.

Karena boleh jadi, apa yang terasa berat hari ini justru sedang mempersiapkan kalian menjadi manusia yang jauh lebih kuat, matang, sabar, dan bermanfaat di masa depan.

Semoga kesehatan mereka selalu terjaga. Dan semoga suatu hari nanti kami dapat melihat mereka berdiri dengan bangga mengenakan toga, membawa ilmu dan pengalaman yang telah diperjuangkan dengan penuh kesabaran.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga, membimbing, dan memudahkan langkah anak-anak kita. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

(Visited 3 times, 3 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.