Oleh : Rosmawati

Setiap karya memiliki jalan kelahirannya sendiri. Ada yang dimulai dari sebuah gagasan besar, dirancang dengan matang, lalu dikerjakan sampai menjadi nyata. Tetapi ada pula karya yang lahir tanpa pernah direncanakan sebelumnya, tumbuh perlahan dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang, sampai suatu hari kita menoleh ke belakang dan menyadari bahwa ternyata perjalanan itu telah membawa kita begitu jauh.

Barangkali begitulah cara sebuah buku menemukan jalannya. Ia bisa bermula dari halaman yang dibaca, sebuah kalimat yang menyentuh, atau gagasan seseorang yang membuat kita berhenti sejenak. Bagi saya, kata-kata yang baik selalu punya alasan untuk disimpan. Sebab sebuah kalimat mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk dibaca, tetapi maknanya bisa tinggal jauh lebih lama di dalam pikiran dan kehidupan seseorang.

Sejak kuliah, saya memang senang membaca buku-buku motivasi. Perpustakaan menjadi salah satu tempat yang favorit karena di sanalah saya sering menemukan kalimat-kalimat yang mampu menguatkan hati ketika menghadapi gelombang kehidupan. Kebiasaan membaca itu kemudian menemukan bentuk baru ketika media sosial menjadi bagian dari keseharian.

Sejak 2014, saya mengikuti tulisan-tulisan sang inspirator Ruslan Ismail Mage, yang akrab dipanggil Bang RIM. Ada kalimat-kalimatnya yang membuat saya berhenti sejenak, membacanya kembali, bahkan merasa seperti sedang ditegur. Dari sanalah saya mulai menyimpan satu demi satu kalimat inspiratif yang beliau tulis. Awalnya untuk diri sendiri, kemudian saya bagikan kembali kepada teman-teman dan keluarga.

Tanpa pernah merencanakan sebuah buku, saya terus mengumpulkannya. Kata demi kata saya jahit, kalimat demi kalimat saya tenun. Bertahun-tahun proses itu berjalan. Hingga pada 2021, setelah kurang lebih tujuh tahun merawat catatan tersebut, muncul keberanian untuk memperlihatkannya kepada pemilik gagasan. Dari catatan yang semula hanya saya simpan sebagai dokumentasi pribadi, menjelma menjadi buku elegan berjudul “Ensiklopedia Sang Penggerak: Pemikiran Inspiratif Ruslan Ismail Mage”.

Buku itu kemudian diluncurkan di Kolaka Utara. Saya masih mengingat suasananya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Orang-orang datang, sahabat-sahabat memberikan dukungan, teman-teman Bengkel Narasi ikut membersamai, dan ucapan selamat mengalir dari berbagai kalangan. Ada akademisi, mentor, sahabat, pejabat, hingga ucapan selamat dari satrawan Taufiq Ismail yang menjadi salah satu kenangan sangat berharga bagi saya.

Namun, ketika hari ini melihat kembali buku itu, yang paling saya ingat bukan semata-mata kemeriahan peluncurannya. Saya justru teringat pada proses panjang sebelum buku itu lahir. Pada catatan-catatan kecil yang dikumpulkan satu demi satu. Pada kesabaran untuk terus membaca dan menyimpan. Dari sana saya belajar bahwa sesuatu yang dikerjakan sedikit demi sedikit, tetapi terus-menerus, bisa menjelma menjadi sesuatu yang bahkan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Pertemuan saya dengan Bengkel Narasi kemudian membuat perjalanan itu menemukan ruang yang lebih luas. Di sana saya tidak hanya belajar bagaimana menulis, tetapi juga memahami bahwa menulis tidak harus dipisahkan dari kehidupan: menulis sambil memeluk kemanusiaan, menulis sambil mengurus kehidupan, menulis sambil berbagi, dan menulis sambil menginspirasi. Nilai-nilai itulah yang membuat perjalanan kepenulisan ini terasa begitu berarti.

Hari ini, ketika kembali memegang karya yang lahir dari perjalanan tersebut, saya semakin percaya bahwa seorang penulis tidak selalu memulai perjalanannya dengan sebuah buku. Kadang ia memulainya dari kebiasaan membaca, dari satu kalimat yang disimpan, dari catatan kecil yang mungkin tidak dianggap penting oleh siapa pun. Jika dirawat dengan tekun, serpihan-serpihan itu perlahan akan menemukan bentuknya sendiri. Dan mungkin, itulah pelajaran paling indah dari perjalanan ini: kita tidak pernah benar-benar tahu ke mana sebuah kata akan membawa kita. Yang bisa kita lakukan adalah terus membaca, terus belajar, terus menulis, dan terus merawat apa yang kita yakini bermanfaat.

*Penggiat Bengkel Narasi Indonesia dan mentor Pena Anak Indonesia

(Visited 4 times, 4 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.