Pertemuan dua Budaya (Indonesia-Timor Leste) di Lautem-Com

Oct 26, 2026 · @Emiliano dos Santos

Com, Lautem, 23-25 Oktober 2026

Dari tepi pantai Lautem, pada malam hari, tampak sebuah pulau kecil di utara. Itulah Kisar, atau Yotowawa dalam bahasa setempat, yang jaraknya hanya sekitar 25 kilometer dari ujung paling timur Timor-Leste. Kini Kisar berada di Provinsi Maluku, Indonesia. Namun sejarah, bahasa, dan adat menunjukkan bahwa orang Lautem dan sebagian orang Kisar berbagi leluhur yang sama.

Pada 23-25 Oktober 2026, dua sisi laut itu bertemu kembali di Pantai Com, Lautem, dalam Festival Fronteira.

Bagian I: Akar Sejarah

Diolah dari tulisan Tiago Amaral Sarmento, “Lautém dan Kisar: Kakak-Beradik yang Dipisahkan oleh Laut, tetapi Tidak Dipisahkan oleh Bahasa dan Adat”.

Bahasa yang berkerabat: Fataluku dan Oirata

Di Kisar dituturkan dua bahasa. Yang paling banyak penuturnya adalah Meher, sedangkan Oirata sangat dekat dengan Fataluku, bahasa Lautem. Para peneliti menyebut kerabat terdekat Fataluku adalah Oirata di Kisar, bahkan sebagian menganggap Oirata sebagai dialek Fataluku. Kajian linguistik juga menunjukkan bahwa Oirata, Fataluku, dan Makasae memiliki hubungan genetik yang dekat.

Jejak perpindahan

Arsip VOC Belanda mencatat bahwa pada 1714 pendatang dari Timor sudah lama tinggal di kampung Oirata, Kisar. Mereka melarikan diri dari perang setelah kampung mereka diserang dan dibakar. Pada 1719, tiga perahu dari Timor tiba di Kisar membawa 93 orang Oirata, yang sempat kembali ke Timor tetapi pulang lagi akibat tekanan Portugis. Riedel mencatat bahwa orang Oirata berasal dari wilayah Fataluku bernama Loikera (Loiquero), di ujung timur Timor. Warga setempat menyebut bahasa mereka Maaro, nama klan pertama yang pindah dari Timor ke Kisar.

Adat dan cerita rakyat

Dalam cerita rakyat Oirata, leluhur mereka, Hano’o, adalah orang pertama yang menetap di pulau itu, melalui Pulau Damar dan Timor. Para tetua Oirata juga mengisahkan sumpah pembagian tanah dengan orang Meher: Meher di bagian barat, Oirata di bagian timur. Sumpah itu disebut wossi dalam bahasa Oirata dan possi dalam bahasa Meher.

Struktur sosialnya pun menunjukkan akar yang sama. Orang Oirata terbagi dalam tujuh klan: empat di Oirata Timur (Hano’o, Hunlori, Pa’umodo, Selewaku) dan tiga di Oirata Barat (Asatupa, A’udoro, Ira Ara). Tiap klan memiliki rumah adat (kodo), dan tingkatan yang lebih tinggi disebut ratu, kata yang juga dikenal dalam bahasa Fataluku.

Hubungan yang lebih tua dari ingatan

Hubungan ini tidak baru muncul pada abad ke-18. Para arkeolog menemukan lukisan di gua-gua batu Kisar, dan banyaknya kemiripan menunjukkan bahwa kedua pulau sudah lama terhubung dalam satu pandangan hidup. Pada abad ke-19, perdagangan terbesar Kisar adalah dengan Timor Portugis, dan hingga kini bahasa Melayu setempat masih dipakai dalam perdagangan dengan orang Timor-Leste.

Hubungan keluarga raja Kisar dengan Timor juga tercatat. Pada 1953, Raja Hairmere Bakker pindah ke Dili untuk memegang jabatan di pemerintahan setempat. Raja ke-12 bekerja selama lima tahun sebagai pegawai pemerintah di Timor-Leste pada masa Indonesia. Sejarah garis raja Kisar sendiri tercatat dalam Buku Tembaga, dimulai dari Cornelis Bakker pada 1665.

Jalur para klan melalui Lautem

Menurut sejarah lisan Woirata, para klan datang melalui jalur yang berbeda:

  • Paumodo melewati Ilmanu, Laiway, Ili Ara, dan Seti Ara (Lospalos), lalu ke Leti, Lakor, Seram, dan Romang, hingga tiba di Kisar. Banjir besar di Iliara Setiara diyakini turut membentuk sebuah danau, yang mungkin merujuk pada kawasan Ira Lalaro, meski belum ada kepastian sejarah.
  • Hunlori berangkat dari Luang, tiba di Iliara Setiara, dan bertemu keluarga Paumodo di sana.
  • Salawaku melalui Maubesi, Maubara, Suai Loro, dan Lauten, lalu ke Wetar.
  • Hano’o: ketika perahu terbalik di antara Timor dan Kisar, beberapa keluarga hanyut hingga ke Timor, dan keturunan mereka masih ada sampai sekarang.

Dua kisah yang saling melengkapi

Tetua Woirata menolak anggapan bahwa mereka pendatang baru. Menurut mereka, Woirata adalah penghuni pribumi pertama Kisar, dan orang Meher datang kemudian. Arsip VOC mencatat migrasi abad ke-18. Keduanya mungkin saling melengkapi: ada hubungan yang sangat tua, lalu gelombang migrasi baru pada abad ke-18.

Tetua Woirata juga mengatakan bahwa orang Meher diterima tinggal karena bahasa mereka berasal dari Mehara, Lospalos, tetangga Fataluku. Ini adalah klaim lisan. Para ahli bahasa menggolongkan Meher sebagai bahasa Austronesia, bukan rumpun Fataluku.

Kemiripan budaya tampak pula pada rumah adat Woirata, Le Opo, yang terdiri dari Lau-lau (halaman), Le Panu, dan Le iya modo kail (tempat paling suci). Kampung dibangun di gunung dengan pagar batu, pola yang sangat dekat dengan rumah dan kampung tua Fataluku.

Sebagian tetua Woirata juga menuturkan tradisi lisan tentang asal-usul dari Israel, dengan membandingkan Le Opo dengan Tabernakel. Narasi ini berasal dari penuturan para tetua, bukan dari penelitian akademis.

Bagian II: Festival Fronteira Lautem 2026

Hari 1 (23 Oktober): Pembukaan dan seminar

Festival Fronteira 2026 dibuka oleh Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão, dengan kehadiran anggota Pemerintah, anggota Parlemen Nasional, serta delegasi dari Timor-Leste dan Indonesia.

Ini adalah edisi ke-4. Festival dimulai di Munisipalitas Bobonaro pada 2023, berlanjut ke Wilayah Administratif Khusus Oecusse-Ambeno (RAEOA) pada 2024 dan Munisipalitas Covalima pada 2025, lalu pada 2026 digelar di Lautem. Penyelenggaranya adalah Pusat Nasional Chega! I.P (CNC), Sekretariat Negara Seni dan Budaya (SEAK), Kementerian Administrasi Negara (MAE), dan otoritas munisipalitas, bersama Kantor Perbatasan Darat dan Maritim (GFTM).

Dalam seminar bertema “Interkambiu Kultural ba Hametin Rekonsiliasaun” (Pertukaran Budaya untuk Memperkuat Rekonsiliasi) di Suku Com, Postu Lautem, perwakilan Komisi Penyelenggara sekaligus Direktur Eksekutif CNC, Hugo Maria Fernandes, menegaskan tujuan festival:

“Festival Fronteira bukan hanya untuk menandai jarak geopolitik, politik sebagai bangsa dan negara, tetapi juga untuk memperkuat hubungan budaya, kedalaman batin, dan kehidupan manusia.”

Menurut Hugo, festival ini bukan hanya untuk mereka yang hadir, para orang tua dan tetua adat, tetapi terutama untuk generasi baru agar mengenal budaya mereka dan perjalanan hidup bangsa dari masa lampau hingga kini.

Perdana Menteri Xanana menyampaikan apresiasinya. Ia mengaku baru pertama kali hadir dan menilainya sangat baik. Ia merekomendasikan agar tahun depan festival dapat digelar di Kupang, meski secara teknis hal itu masih perlu dibicarakan.

Malam pertama (23 Oktober): Tarian budaya dari enam pos administratif

Malam itu, di Suku Com, festival berlanjut dengan penampilan tarian budaya dari enam pos administratif Munisipalitas Lautem: Lospalos, Iliomar, Lore, Tutuala, Luro, dan Lautem, berkolaborasi dengan sanggar seni dari Timor-Leste dan NTT.

Sekretaris Negara Seni dan Budaya (SEAK), Jorge Soares Cristóvão, atas nama Pemerintah mengundang delegasi Indonesia, khususnya dari NTT dan sekitarnya (Kabupaten Timor Tengah Utara, Belu, Maluku Barat Daya, dan Kupang), para tamu kehormatan, dan masyarakat Com untuk menyaksikan tarian tradisional dari pos-pos Lautem. Ia juga mengajak sesama warga Timor-Leste menjadi tuan rumah yang baik: menghabiskan beberapa hari di Com dan menyaksikan kelompok sanggar dari Dili maupun tiap pos administratif, yang masing-masing menampilkan tarian dengan ciri khas berbeda.

Festival ini terselenggara berkat dukungan:

  • Otoritas Munisipalitas, masyarakat, dan para pemuda
  • Kementerian Administrasi Negara (MAE), dukungan peralatan
  • Kementerian Pemuda, Olahraga, Seni dan Budaya (MJDAC), dukungan bagi para pemuda
  • Pusat Nasional Chega (CNC), dukungan penuh untuk penyelenggaraan acara

Hamutuk, ita lori susesu ba futuru! (Bersama, kita bawa kesuksesan ke masa depan!)

Hari 2 (24 Oktober): Malam pertukaran budaya untuk rekonsiliasi

Pada malam kedua Festival Fronteira Pertukaran Budaya ke-IV, kelompok tari tradisional dari pos-pos administratif Lautem tampil bersama sanggar dari Nusa Tenggara Timur (NTT), menyuguhkan tarian tradisional masing-masing. Grup Koremetan Lautem, artis Vidigal Pinto, dan Inferno Band turut memeriahkan malam itu.

Pertunjukan ini menjadi bagian penting festival, dengan tujuan melestarikan dan mempromosikan budaya tradisional serta memastikan warisan budaya tetap hidup dan diteruskan ke generasi mendatang.

Festival ke-IV ini mengusung subtema “Ha’u Nia Rai, Ha’u Nia Tasi, Ha’u Nia Kultura” (Tanahku, Lautku, Budayaku), dengan tujuan mendorong rekonsiliasi, mempererat persahabatan, dan menumbuhkan kerja sama antarmasyarakat di kawasan perbatasan melalui pertukaran budaya dan penghargaan terhadap budaya serta tradisi kedua bangsa.

Hari 3 (25 Oktober): Penutup dan pesan perpisahan

Menjelang festival usai, kesan mendalam disampaikan oleh Camat Pulau Kisar, Maluku, mewakili rombongan Indonesia:

“Terima kasih, Bapak Bupati Lautem, terima kasih Lospalos… Terima kasih, Pantai Com, atas cinta, keramahan, dan kenangan indah yang telah kalian berikan kepada kami. Sambutan yang begitu hangat, penuh persaudaraan, dan kasih sayang selama kami mengikuti Festival Fronteira Lautem 2026 tak akan kami lupakan.

Kami datang sebagai tamu, tetapi pulang dengan membawa rasa persaudaraan yang begitu dalam. Jarak dan batas negara boleh memisahkan kita, tetapi hati dan budaya telah menyatukan kita dalam satu cerita yang indah.”

Rasa yang sama bergema dari seberang lautan. Dari bukit batu Pantai Kiou, Pulau Kisar, sebuah renungan lahir:

Hanya beberapa mil laut terbentang di hadapan mata. Di seberang sana ada Timor-Leste. Begitu dekat untuk dipandang, tetapi masih ada batas negara yang memisahkan langkah untuk saling mengunjungi. Akankah suatu hari nanti laut ini kembali menjadi jalan pulang bagi persaudaraan yang telah lama dirindukan?

Laut ini bukan sekadar hamparan air biru. Ia menyimpan cerita para leluhur, jejak perdagangan masa lalu, ikatan keluarga, dan kenangan tentang kedekatan masyarakat Kisar dengan saudara-saudara di Timor-Leste.

Memang, kini kita hidup di bawah dua negara berdaulat, dan batas negara harus dihormati. Namun batas administratif tidak harus menjadi batas kasih sayang, tidak harus menghapus sejarah, dan tidak harus memutus tali persaudaraan yang diwariskan para leluhur. Ada harapan besar pada upaya dialog antara Indonesia dan Timor-Leste, sehingga pada waktunya terbuka kesempatan yang sah dan aman bagi masyarakat kedua wilayah untuk saling mengunjungi, mempererat hubungan keluarga, menghidupkan perdagangan, dan membangun kerja sama yang membawa kesejahteraan bersama.

Kita tidak sedang meminta batas negara dihapuskan. Kita berharap batas itu dikelola dengan kebijaksanaan, menjadi jembatan kerja sama, bukan penghalang hubungan antarmanusia.

Perjalanan itu mungkin tidak mudah. Akan ada aturan yang harus dipenuhi, kesepakatan yang perlu dibangun, dan proses diplomasi yang harus dihormati. Namun setiap jalan besar selalu dimulai dari harapan dan langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan.

Dari bukit batu Pantai Kiou, dititipkan sebuah doa:

Semoga batas yang selama ini memisahkan langkah, kelak menjadi pintu masuk bagi persahabatan yang lebih erat. Semoga laut yang membentang menjadi penghubung kembali bagi saudara yang lama terpisah. Dan semoga generasi mendatang tidak hanya mendengar cerita tentang kedekatan Kisar dan Timor-Leste dari para leluhur, tetapi juga dapat merasakan sendiri indahnya persaudaraan itu dalam kehidupan nyata.

Penutup: Satu Pantai, Dua Negara, Satu Rasa

Garis perbatasan ada di peta, tetapi kedekatan budaya, bahasa, dan adat sudah ada jauh sebelum batas negara dibuat. Para leluhur Oirata dan Fataluku yang berlayar melintasi laut berabad-abad lalu, serta para tamu dari Kisar, Kupang, dan Atambua yang disambut hangat di Com hari ini, sedang bercerita tentang hal yang sama: persaudaraan yang tidak bisa dipisahkan oleh air.

“Fronteira” berarti perbatasan. Festival ini mengubah maknanya, dari tempat yang memisahkan menjadi tempat bertemu. Persahabatan tumbuh bukan hanya dari pernyataan resmi para pemimpin, tetapi dari pertemuan sederhana antarwarga: berbagi budaya, saling menyapa, saling menjamu. Semoga Festival Fronteira menjadi awal dari pertukaran budaya yang lebih sering dan persaudaraan yang terus terjaga untuk generasi mendatang. Dan siapa tahu, tahun depan perayaan ini akan berlabuh di Kupang.

Pada akhirnya, kita boleh berbeda negara, tetapi tidak harus menjadi orang asing satu sama lain.

Kisar dan Timor-Leste: berbeda batas, satu harapan; berbeda negara, tetap bersaudara.

Terima kasih, Lautem. Terima kasih, Com. Sampai jumpa di festival berikutnya.

Laut hanya memisahkan jarak, tapi tidak pernah memutus ikatan sejarah dan persaudaraan. Dari 23–25 Oktober 2026, Pantai Com di Lautem, Timor-Leste, menjadi saksi digelarnya Festival Fronteira ke-4, yang mempertemukan kembali masyarakat Lautem dengan saudara serumpun dari Pulau Kisar (Maluku, Indonesia).

Poin Penting Festival:

  • Akar Sejarah & Budaya: Hubungan masyarakat Lautem (penutur Fataluku) dan Kisar (penutur Oirata) telah terjalin berabad-abad lalu melalui kedekatan bahasa, adat istiadat, dan jalur leluhur yang sama.
  • Momen Rekonsiliasi: Dibuka secara resmi oleh Perdana Menteri Xanana Gusmão, festival ini mengusung subtema “Ha’u Nia Rai, Ha’u Nia Tasi, Ha’u Nia Kultura” (Tanahku, Lautku, Budayaku) untuk mempererat persahabatan kedua bangsa di wilayah perbatasan.
  • Pertunjukan Seni Meriah: Selama tiga hari, panggung dimeriahkan oleh kolaborasi tarian tradisional dari enam pos administratif Lautem serta delegasi seni dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
  • Harapan ke Depan: Batas negara di peta tidak boleh menghapus kasih sayang dan tali persaudaraan. Melalui budaya, batas ini diubah menjadi jembatan kebersamaan—bukan penghalang.

Semoga laut yang membentang kembali menjadi jalan pulang bagi persaudaraan yang dirindukan, dan sampai jumpa di festival berikutnya!

#FestivalFronteiraLautem2026 #Lautem #Com #TimorLeste #Indonesia #Kisar #PulauKisar #Fataluku #Oirata #Maluku #PertukaranBudaya #Rekonsiliasi #PersahabatanIndonesiaTimorLeste #BudayaPerbatasan

by Aldo Jlm’26

(Visited 5 times, 5 visits today)
Avatar photo

By Aldo Jlm

Elemen KPKers-Lospalos,Timor Leste, Penulis, Editor & Kontributor Bengkel Narasi sejak 2021 hingga kini telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan ke BN, berupa cerpen, puisi, opini, dan berita, dari negeri Buaya ke negeri Pancasila, dengan motonya 3S-Santai, Serius dan Sukses. Sebagai penulis, pianis dan guru, selalu bergumul dengan literasi dunia keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.