Oleh: Muhammad Sadar*

Pada bulan Agustus 2023 lalu, saya mengulik tentang Ayahku dalam dua edisi tulisan di platform media digital Bengkel Narasi Indonesia masing-masing mengangkat tema perjuangan sang ayah dalam peran mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Sang ayah kuanggap sebagai Patriot dan Pahlawan Gerilya sebagaimana predikat yang disematkan oleh Pemerintah Republik Indonesia kepada beliau.

Aku merasa kurang elok dan tidak berimbang jika menulis tentang sang ibu kulewatkan begitu saja. Oleh karena itu, melalui momentum kelahiranku hari ini, 05 Desember 2023 pasca usiaku genap setengah abad yang silam dan jelang hari kelahiran ibuku 11 Desember 2023, maka aku desain sebuah narasi tentang IBU.

Ibuku melahirkan aku di kampung pada sebuah rumah panggung sederhana. Keberadaan rumah tersebut di sisi jalan nasional dan jembatan eks peninggalan kolonial Belanda di pinggiran sungai kampung.
Proses bersalin ibuku dibantu oleh seorang bidan puskesmas dan ketika aku nongol ke bumi dan mulai bernapas laik seorang bayi, ibuku berucap alhamdulillah karena melihat kelahiranku sempurna tanpa cacat. Begitu ibuku khawatir jika aku lahir cacat karena perilaku ibu ketika mengandungku pernah menyakiti seekor bebek nakal di kampung.

Sejarah ini kurancang sebagai sebuah analisis perjalanan hidup singkat dan tak luput dari kesalahan maupun khilaf. Ketika aku ditakdirkan lahir dari sebuah rahim ibu yang kuat, keras,sabar, sederhana dan ibu yang selalu bersyukur, ikhlas dan santun. Berbagai gelar yang disematkan kepada seorang ibu, beberapa kalangan menyebutnya sebagai pahlawan, seorang ibu bagaikan malaikat, ibu sebagai permata hati, ibu pejuang dan sebutan lain yang diberikan hanya semata-mata sebagai bentuk penghargaan dan kasih sayang kepada seorang ibu.

Peran dan kasih sayang ibu yang tak berujung pasca melahirkan aku 50 tahun lalu sungguh sangat tidak bisa dilupakan dan wajib hukumnya untuk berbakti kepadanya. Betapa tidak, pada masa itu, aku belum
genap berumur 4 tahun tepatnya awal tahun 1977 ibuku menderita sakit typus dan harus off-name di rumah sakit. Selama dalam proses perawatan ibu di rumah sakit, aku diasuh oleh sang ayah bersama sang nenek dan para bibi/paman maupun kerabat keluarga yang lain. Aku bersama adik yang selisih satu tahun sering dibawa oleh sang ayah menjenguk ibu di rumah sakit. Selama sebulan penuh ibuku menjalani proses pemulihan di rumah sakit dan perawatan medis yang luar biasa hingga dinyatakan sembuh untuk kembali ke rumah bersama keluarga.

Hingga aku beranjak antara umur 5-12 tahun ibuku memulai mengajarkan metode untuk mengaji-baca Al-Qur’an. Aku belajar ngaji dititipkan kepada Bibi yang guru ngaji dan aku sanggup khatam Al-Qur’an pada usia 8 tahun. Aku masih teringat proses ketika mampu menulis dan mengeja beberapa kalimat dari koran yang tertempel di dinding rumah dan kulaporkan ke ibu bahwa aku sudah bisa baca tulis pada saat ibu baru balik dari pasar.

Pada rentang masa anak-anak hingga remaja ibuku sering mengajak jalan menyusuri alam di kampung sendiri. Mandi dan mencuci di sungai,petik sayur segar,mengolah dan memasaknya sambil mencicipi di kebun kerabat sebagai bagian refreshing keluarga hampir setiap waktu pada masa liburan sekolah. Di samping tentunya ibuku biasa melegan ke sawah untuk membantu ayahku dalam bertani padi di sawah. Selain rutinitas tersebut ibuku juga sekali-kali berpesiar nonton bioskop di kota ketika setiap kali film Rhoma Irama ditayangkan. Bahkan di hari sekolah pun aku dimintaizinkan kepada guru agar bisa ikut menyaksikan film raja dangdut tersebut.

Perhatian ibuku sungguh luar biasa terhadap anak-anaknya, terutama dalam giat kunjungan silaturrahim kepada keluarga. Seperti aku biasa diboyong ke kota untuk menginap di rumah para kerabat keluarga sambil menikmati city tour dengan mengendarai jasa layanan damri sebagai bus double decker menjelajahi kota seharian.

Hingga aku berumur 13 tahun keluarga kami melakukan hijrah, pindah tempat tinggal dari kampung kelahiran yang berjarak 7 kilometer. Pada domisili yang aku tempati sekarang inilah semuanya digerakkan dalam pencapaian harapan keluarga. Di tempat baru inilah ibuku sudah memberikan petunjuk pekerjaan yang harus aku lakoni. Profesi dengan memandang jauh ke depan bahwa saya harus bekerja di sektor pertanian. Naluri seorang ibu yang sangat mumpuni, mungkin karena ibu mengalami jaman paceklik pangan di mana pada masanya disebut zaman very-very coloso. Para orang tua kita dahulu mengonsumsi nasi-jagung ala kadarnya, minyak tanah sulit diperoleh, stabilitas sosial-politik-keamanan tidak menentu akibat kekurangan pangan. Visi seorang ibu sangat compatible dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) saat ini yang menekankan pentingnya pengamanan sumber daya pangan, air, dan energi.

Atas saran dan nasihat ibu, aku memutuskan setelah tamat SMP di kampung untuk melanjutkan pendidikan pada sekolah menengah kejuruan pertanian. Sejak namaku terdaftar sebagai siswa pertanian, ibuku langsung menyiapkan perlengkapan kos laksana perantau seperti tempat tidur dan lemari pakaian, peralatan dapur, buku, tas, dan alat tulis. Setiap kali aku pulang kampung dan libur sekolah, ibu selalu membekaliku bahan makanan dan minuman maupun kebutuhan lain seperti uang jajan sekolah dan terkadang ibu seorang diri mengunjungiku di tempat bersekolah yang berjarak tempuh 130 kilometer atau 4 jam perjalanan darat.

Selama 3 tahun menempuh pendidikan pertanian hingga selesai, selama itu pula ibuku mengurus sang ayah menderita sakit dan bahkan 3 kali masuk off name di rumah sakit. Sungguh berat perjuangan seorang ibu mengurus sang suami yang nyaris sudah tak berdaya sekaligus mengurus tiga orang anaknya yang masih berusia remaja.

Hingga takdir hidup telah berakhir di dunia, ayahku wafat ketika jelang peringatan emas 50 tahun Indonesia Merdeka, 1995. Kami berkabung dalam suasana kemerdekaan dan ibuku berstatus single parent untuk anak-anaknya. Sang Patriot-Sang Gerilya telah pergi meninggalkan legacy dana pensiun tentara untuk ibuku. Atas warisan pensiun tersebut ibuku berjuang menanggulangi kehidupan anak-anaknya yang belum mandiri. Nyaris setahun aku tinggal di rumah tanpa kerja hingga aku ditawarkan untuk bergabung pada sebuah proyek perkebunan di luar daerah kami.

Dalam dunia kerja ini, usiaku sudah beranjak dewasa dan mulai memiliki penghasilan sendiri sehingga ibuku betul-betul menjalankan fungsi pengawasan, pengendalian, dan pemantauan terhadap prilaku anak-anaknya, mengingat masa produktif tersebut aku telah banyak berhimpitan dengan kehidupan anak muda masa itu.

Beririsan dalam pergaulan kaum muda merupakan tantangan dan dinamika kehidupan hedonis semata ketika kobaran nafsu manusiawi mewarnai semangat dan eksistensi diri pemuda yang ingin mencoba dan merasakan pernik-pernik glamour pesta dunia. Akibat pergaulan ini membuat repot sang ibu untuk menjagaku atas keselamatan anaknya. Ibuku memberi warning keras dan nasihat jitu sehingga semuanya aku tinggalkan dan menyatakan pertaubatan seutuhnya.

Pada akhirnya usiaku menjelang 30 tahun, ibu berkehendak melamarkan seorang gadis pujaan hati untuk kupersunting sebagai calon pasangan hidup agar aku bisa merasa nyaman-tenteram dan tidak lagi mengikuti syahwat para kaum muda. Dalam proses peminangan, persiapan dan biaya nikah hingga ijab kabul semuanya diurus oleh ibu sebagai orang tua tunggal yang penuh dedikasi dan tanggung jawab.

Lima bulan pasca pernikahan, aku berkesempatan mengikuti tugas belajar di bidang pertanian di lembaga pendidikan Departemen Pertanian kala itu. Selama itu pula ibuku membersamai sang istri di rumah dengan seorang saudari perempuanku. Selama 4 tahun lamanya menjalani masa kuliah, ibuku yang berenergi penuh semangat,terus membantu dan mendukung hingga penyelesaian akhir di perguruan tinggi. Berkat do’a ibuku juga pada tahun lulus kuliah, aku diangkat menjadi seorang abdi negara, Pegawai Negeri Sipil/ASN di sektor pertanian. Sesuai yang diharapkan ibu maka tercapailah obsesinya agar aku bisa bekerja di bidang pertanian. Pekerjaan yang mengurus pangan sebagai hajat hidup orang banyak.

Pada kesempatan menulis ini, saya hendak menyampaikan bahwa ibuku yang luar biasa ini,
bagaimana anugerah Allah subhanahu wa ta’la yang tercurah kepadanya sehingga bisa lolos dari cengkeraman penyakit yang mematikan di mana perawatan medis tidak sebaik seperti saat ini.
Ibuku yang istimewa ini, bagaimana mengeksplorasi potensinya dalam merawat, mengurus dan melayani suaminya hingga akhir hayatnya serta mengayomi dan menghidupi anak-anaknya dari warisan pensiun yang ditinggalkan oleh ayahku sang patriot-sang gerilya.

Ibuku yang superior ini, bagaimana memiliki visi pendidikan jauh kedepan hingga mampu menyekolahkan hingga perguruan tinggi dan melegitimasi para generasinya dalam mempersunting pasangannya masing-masing padahal ibuku menyandang status orang tua tunggal. Sangat bangga memiliki ibu seperti demikian dan aku tak sanggup untuk membalas seluruh kasih sayang dan kebaikannya.

Berbagai cerita kenangan bersama ibu tak terhitung jumlahnya. Kebersamaan dengan ibu sungguh tak terhingga volumenya dan kontribusinya dalam hidup ini. Peran nyata ibu dalam membentuk karakter dan kepribadian sang anak tak lekang oleh waktu dan tak punah oleh zaman. Dan aku menilai ibuku sangat layak dan yakin bahwa, Dialah makhluk sang bernyawa ganda dalam memimpin, membina serta melindungi anak-anaknya.

Aku hanya bisa mengabdi tanpa batas dan berbakti tanpa sekat kepadanya serta berucap syukur dalam pencapaian umurnya saat ini 77 tahun. Aku hanya mampu berucap dan berdoa setiap waktu untuk kesehatan, kekuatan, keselamatan, dan ampunan kepada ibuku.

Do’a khusus untuk Bundaku tercinta. Rabbi ghefirli wali wali dayya war hamhuma kama rabbayani shaghira. Semoga Allah subehanahu wa ta’la senantiasa melimpahkan kasih sayang kepada ibuku sebagaimana ketika memelihara aku pada masa kecil serta memberikan rahmat dan perlindungannya kepada ibuku. Al-Qur’an surah Al-Ahqaf: 15, memberikan petunjuk amalan kepada kita, ketika sudah berumur di atas 40 tahun yaitu; “Rabbi awzi’ni an asykura ni’matakallati an ‘amta ‘alayya wa ‘ala wali dayya wa an a’mala shalihan tardhahu wa ashliheli fi dzurriyyati inni tubettu ilaika wa inni minal muslimin.”

Selamat Hari IBU semoga semua perempuan yang telah menyandang gelar ibu dan calon ibu mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya dan melahirkan generasi berkualitas, beriman dan bertakwa kepada Tuhannya maupun berbakti kepada bangsa dan negara.

Barru,05 Desember 2023

*Penguji Perbenihan/ Perbibitan TPHBun Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru

(Visited 94 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.