Oleh: Zulkifli Azir

PASASAMA adalah ungkapan khas (idiom) dalam bahasa Bajau ditujukan bagi orang-orang yang bukan berdarah Bajau namun ingin disebut sebagai orang Bajau. Mereka berupaya copas (copy paste), mulai dari gerak-gerik bahasa tubuh (body language), gaya bicara (logat), hingga penggunaan beberapa kata dalam bahasa Bajau agar bisa tampak seperti orang Bajau.

Penggunaan kata PASASAMA dalam percakapan harus diucapkan utuh, tidak boleh diucapkan sepotong-sepotong agar pengertiannya tidak berubah atau bergeser. Misalnya PASA’=masuk; atau PASASA’=tukang berkelahi.

Lawan kata (antonim) dari PASASAMA adalah PABABAGAI, yaitu orang Bajau yang tidak mau mengakui kesukuannya atau merasa tidak nyaman disebut orang Bajau. Dalam kesehariannya, mulai dari bahasa tubuh (body language), makanan, gaya bicara (logat), hingga bahasa yang dipakai pun semua menirukan BAGAI (orang asing) atau SEHE’ (kawan).

Dari logat atau cara berbicara, ada semacam ciri khas orang Bajau yang sulit dihilangkan atau disamarkan meskipun sudah berupaya keras menyembunyikannya (PABABAGAI), yaitu nada bicara (tone) atau dalam bahasa Bajau disebut LEOH. Ciri khas ini kadang kala menjadi bumerang dan bahan tertawaan BAGAI dan SEHE’. “Tone-nya nggak dapet!” demikian sering dikatakan kepada orang-orang PABABAGAI.

Pada kenyataannya, banyak dijumpai keluarga Bajau yang sejak masa kanak-kanak atau bahkan sejak lahir sudah mukim di luar kawasan masyarakat Bajau. Keseharian mereka sejak berpuluh tahun lamanya bersosialisasi dengan penduduk tempatan. Akibatnya, kemampuan berbahasa mereka bahkan sudah tidak lagi bisa dibedakan dengan penduduk lokal.

Typical orang Bajau semacam ini tentu tidak bisa disebut PABABAGAI selama mereka tidak menyembunyikan identitas dan kodratnya sebagai orang Bajau. Misalnya, apabila ditanya orang (suku) apa, mereka menjawab: “Saya Bajau”. HAl ini wajar-wajar saja terjadi akibat terlalu lama tinggal bersama BAGAI. Typical orang Bajau seperti ini disebut LEBBA’ BAGAI.

Jika ada typical LEBBA’ BAGAI , apakah ada juga yang LEBBA’ SAMA? Ya, ada. Ini terjadi bukan saja di Indonesia, tetapi banyak pula terjadi di Malaysia dan di Filipina. Typical masyarakat yang LEBBA’ SAMA terjadi karena persamaan budaya bahari, misalnya:

  • Suku “Orang Laut” di Riau Kepulauan dan di Johor, Malaysia;
  • Bangsa “Urak Lawoi” (Moken dan Moklen) di Selatan Thailand; dan
  • Bangsa “Tanka” yang bermukim di pesisir pantai China dan Vietnam.

Namun, typical LEBBA’ SAMA paling sering dijumpai di kalangan artis. Mereka berupaya keras, kadang kala terlebih dahulu perlu melakukan riset berbulan-bulan lamanya hidup dan tinggal bersama orang Bajau, bisa tampil prima sebagai LEBBA’ SAMA untuk memenuhi tuntutan peran, skenario dan sutradara.

Perlu dipahami bahwa typical pada dasarnya adalah kodrat. Bagaimana pun kepiawaian mereka berupaya tampil “ PASASAMA dan LEBBA’ SAMA menirukan keseharian orang Bajau, tetap ada celah (ciri khas) yang akan menunjukkan jati diri bahwa mereka bukan orang Bajau. Nah, orang Bajau bilang:“Tone-nya nggak dapet, Bro!” Impas, ya?

Terjadinya berbagai typical tersebut secara teoretis dimulai dari adanya hubungan interaksi sosial (social relation), suatu hubungan timbal balik antara individu atau kelompok untuk menjalin hubungan yang dinamis dalam proses kehidupan, membangun struktur sosial yang saling memengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Menarik bahwa iInteraksi tersebut dimulai dari suatu pengakuan (recognition) yang oleh pelakunya dianggap sebagai pilihan terbaik.

Typical apa pun pilihannya, itulah yang terbaik menurut pribadi masing-masing. Namun, tentu saja pilihan terbaik adalah be your self, pasrah menerima kodrat untuk tetap menjadi diri sendiri, oke?

Tetap bertahan pada typical PABABAGAI ataupun pindah ke typical lainnya adalah pilihan, bukan kewajiban. Pola interaksi sosial yang terjadi antara individu maupun kelompok bersifat dinamis sebagaimana kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan berulang secara terus-menerus dalam jangka panjang.

Nah, apa yang terbaik menurut Anda belum tentu yang terbaik menurut orang lain. Pun sebaliknya, apa yang terbaik menurut orang lain belum tentu terbaik menurut Anda. Keinginan menjadi yang terbaik adalah upaya mewujudkan hubungan sosial yang harmonis. Secara dogmatis, Islam mengajarkan yang terbaik hanyalah kepunyaan Allah Swt. Setiap ketetapan-Nya itulah yang terbaik bagi hamba-Nya. []

Sumber: https://www.facebook.com/zulkifli.azir/

(Visited 41 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

One thought on “Pengakuan bagi Orang Bajau”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.