Oleh: Gugun Gunardi*

Setelah lulus SMA, hampir dipastikan sebagian besar para pemelajar ingin melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Tidak sedikit dari para pemelajar kelas XII sejak awal tahun ajaran mengikuti berbagai bimbingan tes dalam rangka persiapan mengikuti testing ke perguruan tinggi favorit di kota masing-masing.

Bagi mereka yang orang tuanya memiliki biaya yang cukup, banyak yang mengikuti bimbingan tes pada lembaga-lembaga yang sudah banyak berhasil mengantarkan siswa-siswanya masuk di perguruan tinggi favorit mereka. Akan tetapi, bagi yang kurang begitu siap pembiayaanya, mereka harus puas dengan memelajari gabungan soal-soal bekas testing ke perguruan tinggi terdahulu di sekolahnya.

Ada banyak pemelajar kelas XII yang mengikuti kegiatan tambahan setelah selesai jam sekolah: belajar kelompok, belajar bersama untuk membahas soal-soal bekas testing ke perguruan tinggi, dan mematangkan mata ajar yang akan mereka hadapi pada ujian akhir.

Mengikuti bimbingan belajar pada lembaga-lembaga bimbingan tes ternama tidaklah menjadi jaminan bahwa pemelajar akan dengan mudah masuk perguruan tinggi favorit. Proses belajar sejak awal memasuki bangku SMA-lah yang biasanya banyak membantu pemelajar dapat lolos ke perguuan tinggi favorit. Meskipun tidak sedikit para pemelajar yang mengikuti persiapan testing ke perguruan tinggi, berhasil lewat persiapan di lembaga bimbingan tes. Akan tetapi, persiapan dirilah yang biasanya mengantarkan calon mahasiswa lolos melewati testing ke perguruan tinggi favorit.

Jadi, proses belajar bersama teman-teman di sekolah dan disiplin pribadi belajar yang serius menjadi picu yang bisa meloloskan siswa melewati testing ke perguruan tinggi favorit.

Bagi mereka lulusan SMA yang dapat diterima di perguruan tinggi favorit melalui testing yang berat, tentu saja menjadi kebanggaan tersendiri. Meskipun bukan jaminan bahwa mereka dapat menyelesaikan kuliahnya di program studi dan fakultas pada perguruan tinggi pilihannya.

Akan tetapi, bolehlah berbangga, sebab dari sekian banyak calon mahasiswa hanya sebagian kecil yang dapat diterima di perguruan tinggi favorit, perguruan tinggi negeri yang masih dianggap lebih lebih baik dari perguruan tinggi swasta. Terutama biaya kuliah yang tidak terlalu memberatkan para mahasiswanya, serta tersedianya berbagai fasilitas beasiswa yang dapat membantu biaya kuliah, bagi mereka yang memiliki prestasi akademik dan prestasi lainnya selama menempuh kuliah di perguraun tinggi tersebut.

Bagi mereka lulusan SMA yang tidak lolos dan tidak diterima di perguruan tinggi negeri yang difavoritkan, ketidaklolosan ke perguruan tinggi favorit bukanlah kiamat. Sebab, masih banyak perguruan tinggi swasta yang berkualitas yang bisa kita masuki sesuai dengan minat dan latar belakang kemampuan akademik. Yang mungkin menjadi masalah manakala kita memilih melanjutkan kuliah di perguruan tinggi swasta, biaya kuliahnya cukup tinggi. Sebab, sampai saat ini, biaya kuliah di perguruan tinggi negeri masih dianggap lebih murah dibandingkan dengan biaya kuliah di perguruan tinggi swasta.

Sangat wajar, sebab perguruan tinggi negeri (ptn) mendapatkan banyak subsidi dari pemerintah untuk pelaksanaan proses belajar mengajar (pbm). Bagaimana dengan perguruan tinggi swasta (pts)? Biaya pbm-nya lebih banyak nengandalkan dari uang kuliah (biaya kuliah) para mahasiswanya. Jadi, sangat wajar jika pts ternama dan berkualitas, uang kuliahnya juga mahal.

Akan tetapi, saat ini ada beberapa pts yang memberikan kelonggaran dalam hal pembayaran uang kuliah. Para mahasiswanya dibolehkan membayar uang kuliah dengan mencicil tiap bulan, sehingga tidak terasa berat pembayarannya. Sebab, tidak dibayarkan untuk 1 (satu) semester. Program pts seperti ini banyak membantu para pemelajar untuk lanjut kuliah.

Bentuk bantuan lain yang juga diberikan oleh pts kepada para pemelajar, adalah beasiswa. Beasiswa ini diberikan kepada para pemelajar yang memiliki prestasi. Prestasi di bidang olahraga, prestasi di bidang seni, prestasi di bidang karya (tulis, lukis, patung, dsb), juga prestasi hapalan Al-Qur’an. Biasanya, para pemelajar yang lolos wawancara dengan disertai dokumen yang resmi, mereka dibebaskan dari kewajiban membayar uang kuliah sejak semester pertama.

Tetapi, meskipun sudah ada fasilitas beasiswa dari awal semester, fasilitas itu tidak diperuntukan untuk semua calon mahasiswa. Jadi, masih ada sebagian dari calon mahasiswa yang tidak mendapatkan fasilitas tersebut. Lebih-lebih jika dikaitkan dengan kondisi perekonomian orang tuanya. Banyak yang perekonomiannya tidak mendukung untuk mereka kuliah. Padahal, dari sisi akademis dan kemauan belajar mereka termasuk yang diperkirakan bisa menyelesaikan pbm di perguruan tinggi.

Adakah jalan keluarnya?

Setiap permasalahan pasti ada solusinya. Tinggal bagaimana kita mengambil peluang untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Bagi mereka yang ingin melanjutkan kuliah tetapi dengan keterbatasan biaya, pasti dihadapkan pada dua pilihan, antara bekerja untuk mencari uang, atau kuliah. Jawabannya, dua-duanya bisa dilakukan. Yakni kuliah sambil mencari uang.

Saat ini, ada banyak tempat kuliah yang bisa dijalani sambil mencari uang. Tentu saja, pemelajar harus pandai-pandai memilih waktu kuliah. Kelas kuliah reguler malam, sangat memungkinkan para pemelajar untuk menjalani kuliah sambil mencari uang sendiri. Jika pekerjaan yang dijalaninya dilaksanakan di waktu pagi hingga sore hari. Tinggal kemauan kita memanfaatkan waktu, dan mau bekerja keras.

Pengalaman penulis, ketika masih di bangku kuliah. Tahun pertama kuliah (tahun 1977), seluruh biaya ongkos kuliah selama satu tahun masih bergantung kepada orang tua. Tetapi, membayar uang kuliah sejak tahun awal sudah dibebaskan oleh Unpad, melalui beasiswa Provinsi Jabar. Berhubung program studi yang penulis pilih saat itu (program studi sastra Sunda). Jadi, orang tua hanya menyediakan ongkos kuliah saja.

Pada tahun kedua masa kuliah penulis, yaitu tahun 1978. Penulis mulai mencari uang untuk ongkos kuliah sendiri. Pekerjaan yang dijalani saat itu adalah menjadi guru honorer mata ajar bahasa Sunda. Karena, banyak SMP di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah Pasundan dan Muhammadiyah kekurangan guru bahasa Sunda. Lalu, yang lebih lagi membantu penulis untuk menjadi guru honorer di yayasan tersebut saat itu ada SMP, SMA, dan SPG di Pasundan dan Muhammadiyah di Bandung yang menyelenggarakan PBM di siang hingga sore hari. Peluang ini tidak penulis sia-siakan demi memperoleh uang untuk ongkos kuliah.

Aktivitas menjadi guru honorer, penulis jalani hingga tahun 1987. Meskipun sejak tahun 1984, penulis sudah menjadi dosen tetap di Unpad. Namun, kedekatan emosional antara penulis dengan para siswa SMP dan SMA, membuat penulis enggan meninggalkan mereka. Baru pada tahun 1987, penulis mengikhlaskan meninggalkan PBM di SMP dan SMA, berhubung dengan kesibukan penulis menjadi Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan di STIE Pasundan Bandung.

Jadi, bukan satu alasan yang primer jika kita tidak melanjutkan ke bangku kuliah saat ini, hanya karena masalah biaya. Saat ini banyak pekerjaan yang bisa dijalani sambil juga melanjutkan kuliah. Kalau penulis mencontohkan pekerjaan yang bisa dijalani sambil kuliah, yaitu menjadi guru honorer kelas siang sampai sore. Bagi para mahasiswa saat ini, bisa memilih ragam pekerjaan yang cukup menjanjikan untuk biaya dan ongkos kuliah.

Beberapa pekerjaan yang bisa dijalani sambil kuliah saat ini, antara lain; driver ojek online, kurir makanan online, kurir ekspedisi, jasa multi kurir (MuKu), konsinyasi makanan, memberikan kursus pelajaran matematika, bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan Alam;, dan tentu saja menjadi guru honorer mata ajar tertentu. Tinggal, bagaimana kita memanfaatkan peluang yang tersedia tersebut. Jadi, kuliah sambil kerja, sangat memungkinkan. []

*Dosen Unfari, Bandung

(Visited 65 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: