Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tahun ini yang masih dalam suasana Pandemi COVID-19, setidaknya telah mengubah cara dan gaya hidup banyak orang di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Atas hal tersebut, maka tema Harkitnas yang ke-113 tahun ini pada 20 Mei 2021 adalah “Bangkit! Kita Bangsa yang Tangguh!”.
Tema ini dipilih sebagai pengingat bahwa Kebangkitan Nasional dapat mengajarkan kita untuk selalu optimis dalam menghadapi masa depan. Bangsa yang tangguh tentu saja bisa menghadapi semua persoalan dan tantangan yang ada saat ini. Pemilihan tema pun bertujuan agar Harkitnas menjadi momentum bangsa Indonesia untuk bersatu padu memutus rantai COVID-19.
Menteri Kominfo Johnny G Plate dalam sambutannya pada peringatan ke-113 Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2021 menyatakan, peringatan Kebangkitan Nasional ini menjadi titik awal dalam membangun kesadaran untuk bergerak mengatasi permasalahan-permasalahan bangsa Indonesia. Hari Kebangkitan Nasional, kata dia, juga mengingatkan kita kepada semangat untuk bergerak sebagai bangsa, dengan tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan mana pun.

“Tujuan peringatan Harkitnas ke-133 adalah untuk terus memelihara, menumbuhkan dan menguatkan semangat gotong-royong kita sebagai landasan dalam melaksanakan pembangunan dan selalu optimis menghadapi masa depan, untuk mempercepat pulihnya bangsa kita dari Pandemi Covid-19” jelas Menkominfo.
Bangkit Tidak Sendiri
Saat Indonesia memperingati Harkitnas, bangsa Palestina sedang berjuangkan mempertahankan kedaulatannya. Terlepas dari pro dan kontra nasib bangsa Palestina sebagai “urusan” bangsa Indonesia atau bukan “urusan” bangsa Indonesia, satu hal yang perlu diingat bahwa kebangkitan bangsa itu tidak pernah sendiri. Ada baiknya kita rentang literasi sejarah, jangan hanya seumur generasi Z.
“Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.”
Soekarno, 1962
Ya, dukungan Bung Karno terhadap kemerdekaan Palestina tak terbantahkan dan selalu konsisten. Bukan sekadar lewat kata-kata, tapi juga dibuktikan melalui tindakan nyata. Meskipun Bung Karno belum pernah menjejakkan kaki di tanah Palestina, jejak dukungannya untuk kemerdekaan Palestina telah terpatri dalam catatan sejarah.
Dukungan pemerintah Indonesia, yang digaungkan Bung Karno, terhadap kemerdekaan Palestina tak lepas dari sokongan yang diberikan pemerintah dan rakyat Palestina terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.
dukungan Palestina untuk kemerdekaan Indonesia dimulai sejak tahun 1944. Mufti besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dan saudagar kaya negara tersebut Muhammad Ali Taher menyatakan dukungannya.
“Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia,” kata Ali Taher dalam siaran radio pada 6 September 1944. Dukungan berlanjut dengan aksi turun ke jalan yang dilakukan rakyat Palestina.
Untuk itu, Indonesia perlu lebih dari sekadar upaya diplomatis untuk mendukung perjuangan bangsa Palestina saat ini. Kita tidak perlu “kacang yang lupa pada kulitnya” yang hanya bisa mengatakan bahwa urusan bangsa Palestina bukan urusan bangsa Indonesia.
Jangan menjadi bangsa yang merugi yang hanya mengeluh bahwa dirinya pun masih banyak mengalami masalah sehingga tidak merasa harus membantu bangsa Palestina. Jangan egois, karena bangkit itu tidak pernah sendiri. []

Bangkit itu bersama-sama……