Oleh : Yusriani Nuruse

Setelah beberap jam yang lalu saat Yudhi melemparkan mangkok sampai hancur berkeping-keping, Widya memilih menyingkir sementara waktu kerumah orang tuanya.Itu adalah salah satu jalan yang sering Widya lakukan ketika Yudhi Khilaf.

2-3 Jam cukup waktu membiarkan Yudhi sendiri menetralisir kembali emosinya dan menenangkan jiwanya. Ketimbang bila Widya berada di rumah meladeni amarah Yudhi yang semakin membuncah.
Setelah beberapa jam membiarkan Yudhi, Widya segera pulang kerumah dan memastikan emosi Yudhi sudah terkontrol, Yudhi pasti segera meminta maaf atas keihlafannnya, dan itu sering sekali terjadi dan itu pula yang membuat Widya tetap bertahan di samping Yudhi. Beruntung Yudhi tak pernah melakukan KDRT, melainkan hanya melampiaskan amarahnya pada barang-barang yang dapat dijangkaunya. Setelah 3 bulan tak mampu lagi beranjak dari tempat tidurnya akibat diabets yang menggorogoti tubuhnya.

Sebagai wanita, sebenarnya Widya sangatlah lelah namun juga sangat kasihan melihat keadaan Yudhi. Widya kerap menangis dalam doa-doanya dan sesaat ingin merebahkan tubuhnya setelah seharian beraktivitas, mengurusi anak semata wayangnya dan juga Yudhi serta sederet pekerjaan rumah tangga yang mesti dikerjakannya.

Namun Widya tak dapat berbuat apa-apa kecuali hanya merawat Yudhi di rumah. Yudhi enggan berobat di rumah sakit lagi setelah beberapa waktu yang lalu sempat di opname sealama seminggu, ia mencabut jarum infus di tangannya dan meminta pulang ke rumah. Ia tak betah berurusan dengan rumah sakit.
Widya hanya bisa menuruti segala kemauan dan permintaan Yudhi selama Widya mampu memenuhinya, karena kalau tidak Yudhi pasti akan emosi ataupun menangis, menganggap dirinya tak diurusi lagi.

Widya hanya berharap Tuhan memberinya kesehatan, kekuatan dan ketabahan agar mampu menghadapi dan merawat Yudhi yang kadang menyayat hati ketika Yudhi memintanya memegang tangannya dan meminta maaf menangis dan meratapi nasibnya. Menangis bersama adalah suatu hal yang sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga Yudhi dan Widya.

Khilaf dan jnsyaf dalam menjalani takdir yang dilalui bersama. Widya hanya berdoa”
Ya Allah jika aku ditakdirkan menjadi wanita kuat, sehatkanlah badanku,ridhoi setiap langkahku, tetesan keringat dan air mataku dan kesabaranku menjadi kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiin Allahuma Aamiin.

Watansoppeng, 25 Januari 2022

(Visited 30 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.