Oleh: H.Tammasse Balla

Di dunia ini, yang paling sulit bukan mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang paling sulit adalah menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan ukuran keadilan yang kita buat sendiri. Lapangan sepak bola hanyalah sepetak rumput, tetapi di atasnya manusia membawa seluruh isi kepalanya: harga diri, sejarah, dendam, doa, dan harapan.

Piala Dunia 1986 menghadirkan sebuah adegan yang sampai hari ini masih diperdebatkan. Ada yang melihatnya sebagai kecerdikan, ada yang menganggapnya pelanggaran. Anehnya, waktu tidak pernah berusaha menghapus perdebatan itu. Ia justru memeliharanya agar manusia terus belajar bahwa kebenaran sering kali tidak sesederhana hitam dan putih.

Maradona mengangkat tangannya sesaat. Yang sesungguhnya terangkat bukan hanya sebuah tangan, melainkan ribuan tafsir. Sejak saat itu, dunia tidak lagi hanya berbicara tentang gol, tetapi tentang nurani, keberuntungan, dan bagaimana sejarah kadang memilih jalan yang tidak lurus.

Kita sering meminta pertandingan yang adil. Namun hidup tidak pernah menandatangani kontrak untuk selalu adil. Ada orang yang bekerja keras tetapi gagal. Ada yang terpeleset justru menemukan jalan menuju puncak. Itu bukan alasan untuk berhenti berjuang, melainkan alasan untuk tetap rendah hati.
Orang Inggris mungkin merasa dirugikan. Orang Argentina merasa bersukacita. Namun, rumput Stadion Azteca tidak pernah bersorak kepada siapa pun. Ia tetap hijau bagi kedua kubu. Alam tidak berpihak; manusialah yang memberi warna pada setiap peristiwa.

Yang menarik, dunia lebih lama mengingat gol itu daripada skor akhirnya. Begitulah manusia. Kita lebih mudah mengingat cerita daripada angka. Angka selesai di papan skor, sedangkan cerita hidup dari mulut ke mulut.

Kadangkala Tuhan membiarkan sebuah peristiwa menjadi teka-teki, bukan agar kita saling membenci, tetapi agar kita belajar berpikir. Kalau semua jawaban sudah tersedia, manusia tidak lagi membutuhkan kebijaksanaan.
Sepak bola mengajarkan satu hal yang sering dilupakan para pemenang, yaitu kemenangan tidak otomatis membuatmu benar. Sebaliknya, kekalahan juga tidak otomatis membuatmu salah. Ada ruang yang lebih luas daripada sekadar menang dan kalah, yaitu ruang untuk bercermin.
Hari ini kita membicarakan Maradona. Besok akan ada tokoh lain. Lusa akan lahir kontroversi baru. Pertanyaan yang sama tetap tinggal, yaitu apakah kita lebih sibuk menghakimi orang lain daripada memperbaiki diri sendiri?

Bola memang bundar. Karena bundar, ia bisa memantul ke mana saja. Hati manusia juga bundar. Hari ini memuji, besok mencaci. Hari ini mengangkat seseorang ke langit, esok menjatuhkannya ke bumi. Jangan terlalu mabuk oleh pujian, dan jangan terlalu patah oleh celaan.
Barangkali yang disebut “Tangan Tuhan” bukanlah pembenaran atas sebuah pelanggaran. Barangkali itu hanyalah cara manusia memberi nama kepada sesuatu yang gagal dijelaskan oleh logika dan emosi pada saat yang bersamaan.

Setelah empat dasawarsa berlalu, kita masih membicarakannya. Itu berarti pertandingan telah selesai, tetapi pelajarannya belum selesai. Sejarah selalu lebih panjang daripada sembilan puluh menit.

Jangan hanya melihat bola yang masuk ke gawang. Lihatlah juga bagaimana sebuah peristiwa mampu mengubah cara manusia berdiskusi, berdebat, bahkan memaknai kejujuran. Di situlah sepak bola melampaui olahraga; ia menjadi cermin kehidupan.

Mungkin benar, wasit bisa keliru, pemain bisa khilaf, penonton bisa berbeda pendapat, tapi waktu adalah hakim yang paling sabar. Ia tidak meniup peluit. Ia hanya membiarkan manusia belajar sedikit demi sedikit. Ketika orang berkata bahwa bola itu bundar, jangan hanya bayangkan bentuknya. Bayangkan juga kehidupan. Biasanya kita menang dengan cara yang tidak kita duga. Biasa pula kita kalah ketika merasa paling kuat. Pada akhirnya, bukan trofi yang paling lama hidup, melainkan hikmah yang kita bawa pulang setelah peluit panjang kehidupan ditiupkan. [HTB]

Makassar, 6 Juli 2026
Pk. 09.03 WITA
[…….. sambil menyaksikan laga 16 Besar Piala Dunia 2026, Inggris – Mexico @Azteca Stadium Mexico. Tulisan in diilhami dari kejadian “Gol Tangan Tuhan” Sang Mega Bintang Maradona di Azteca, 40 tahun silam ketika Argentina kontra Inggris di Azteca]

(Visited 1 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.