Oleh: Sumardi, S.E., Ak., M.Si., CA.*

Minggu pagi waktu itu masih segar udara di bilangan Rawamangun. Matahari pun seakan malas bergerak ke peredarannya. Tepat pukul 07:20 saya berangkat dari Jakarta menuju Kota Solo untuk sebuah urusan. Saya bersama kolega mencoba menyusuri perjalanan darat nan panjang yang biasanya ditempuh dalam waktu hampir seharian.

Sesampainya di Interchange Cawang, sebuah titik bertemunya ruas jalan dari arah timur Cikampek, arah barat Bandara Soekarno Hatta, arah selatan Bogor, dan arah utara  Tanjung Priok terbersitlah dalam pikiran betapa ruwetnya jalan di Kota Jakarta. Jalan saling bertumpuk dua, tiga, bahkan empat lapis yang dibuat untuk menghindari terjadinya kemacetan di kota yang berada di urutan ke-31 termacet di dunia.  

Ruas jalan yang saling bertemu itu berdiri kokoh dan sombong menampakkan sebuah pemandangan layaknya latar belakang beberapa film Amerika yang saya tonton ketika aku masih duduk di bangku SD dan SMP. Pagi itu jalan memang agak sepi. Berbeda dengan hari biasanya karena hari itu memang hari libur. Mulusnya jalan tol sungguh memanjakan kolega saya yang kebetulan memegang kendali mobil untuk memacu kencang kendaraannya. Ia seakan  mendapatkan kesempatan menjajal sebuah sirkuit Catalunya di pinggiran Kota Barcelona. Aku pun sesekali melirik dan mencuri pandang setengah khawatir berapa kecepatan kendaraan itu dipepet pedal gasnya. Alamaaak… ternyata jarum speedometer kendaraan itu menunjukkan angka di atas 130, bahkan sesekali menunjukkan angka 140. Tentu saja ada perasaan senang namun juga sedikit khawatir.  

Tepat pukul 09:20, posisi  mobil berada di ruas Tol Palimanan, Kabupaten Cirebon. “Luar biasa,” bisikku dalam hati. Dalam kisaran waktu dua jam sudah sampai di Cirebon. Suatu hal yang tidak mungkin terjadi pada era sebelumnya.

Ruas jalan Tol Cipali-Cikopo-Paliman merupakan rus tol terpanjang kedua sejauh 116 km membuat mobil kami melesat bak meteor. Kami berdua benar-benar menikmati perjalanan ini sambil terpikir berapa banyak biaya yang diperlukan untuk membangun ruas jalan tol ini. Mulai dari pembebasan tanah, land clearing, desain, membelah bukit, dan menjadi jalan yang mulus nan enak untuk kita lewati bersama hingga sampai di kota tujuan. Tentu dibutuhkan dana yang luar biasa banyak. Bisa mencapai ratusan triliunan, ya?

Sambil sedikit berpikir menyelidik, saya bergumam sendiri. Pantaslah pemerintah harus menempuh jalan berutang kepada berbagai negara dan lembaga kreditor di luar negeri demi sebuah tujuan mulia, yaitu terbangunnya koneksitas yang semakin lancar. Jokowi, menurut pandangan penulis termasuk Presiden yang berani mengambil keputusan sulit ini. Penulis bukan nge-fans berat terhadap Jokowi. Namun, secara sadar dan bertanggung jawab saya katakan bahwa beliau merupakan Presiden yang wajib saya hormati. Beliau adalah produk sebuah proses demokrasi yang selayaknya kita terima, terlepas dari segala kelemahan dan kebaikannya. Dialah Presiden yang berani memutuskan mengambil utang untuk membangun berbagai infrastruktur. Beliau juga Presiden yang menuntaskan beberapa proyek mangkrak di era pemerintahan sebelumnya. Sebuah pilihan sulit, pikirku.

Sebagai orang awam, saya hanya berpikir sederhana. Saya membutuhkan perjalanan lancar, nyaman, dan waktu yang singkat sampai di tempat tujuan. Karena itu, “Emang Gue Pikiran” utang negara yang sudah ribuan triliun rupiah. Biarlah para penggede memikirkan berapa debt ratio yang sebaiknya dijaga, financing management yang seharusnya, dan berbagai seluk-beluk utang. Penulis yakin merekalah orang yang lebih paham dari penulis. Mereka memang digaji oleh negara sebagai  pembantu Presiden untuk urusan itu. Saya juga tidak peduli apakah ada fee project atau tidak, biarlah itu menjadi urusan Aparat Penegak Hukum (APH). Itulah pikiran saya yang sederhana yang barangkali ada kesamaan dengan sebagian besar rakyat Indonesia lainnya.

Saya hanya berharap dan berdoa semoga para Pemimpin di negeri ini diberikan jiwa kenegarawan yang paripurna. Semoga mereka benar-benar bekerja untuk kesejahteraan rakyat dan mampu membawa negeri ini sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Sebuah doa sederhana dari saya yang kecil dan buka siapa-siapa di negeri ini. Kalaupun semua doaku meleset dan mereka bermain-main dengan uang negara, biarlah peradaban ini mengutuk mereka. Tetap semangat!

*Penulis adalah pegawai BPKP dalam penugasan sebagai Asisten Komisioner KASN RI.

(Visited 110 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sumardi

One thought on “Jalan Tol dan Utang Negara, EGP…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.