Pada suatu siang di bulan Agustus, di sebuah restoran cepat saji yang penuh nuansa merah-putih, seorang laki-laki sedang berdiri antre. Di belakangnya ada beberapa orang yang sepertinya dalam satu grup. Saat tiba giliran laki-laki itu, dia memesan dada ayam. Namun belum selesai bicara, petugas layanan pelanggan menjawab bahwa pesanannya masih kosong di display warmer showcase (etalase penghangat) dan baru akan ada dalam 10 sampai 15 menit. Kru restoran itu menawarkan chicken drumstick (paha pentung) atau paha atas. Dia memilih menunggu pesanannya siap, lalu mengambil tempat duduk.
Salah satu anggota rombongan yang di belakang berkata padanya, ayolah ini hanya daging. Rasanya sama saja. Hanya semenit di leher. Laki-laki itu melirik sebentar, tanpa ekspresi, duduk dan mengeluarkan novel dari tas. Mulai membaca. Tidak peduli. Ternyata, ini membuat orang itu menahan rasa jengkel, dongkol plus mengkal berkata kepada kru di konter kasir, tampak minta dukungan bahwa semua daging ayam itu sama rasanya. Pelayan mengangguk kecil sambil menanyakan pesanan.
Rupanya mereka tidak puas karena respon pelayan biasa saja. Setelah pesanan lengkap dan duduk, rasa penasaran antara paha dan dada ayam masih mewarnai pembicaraan mereka. Yang lain mulai makan, namun satu-dua di antaranya masih membahas topik itu, sampai pesanan laki-laki yang pertama siap. Berdiri mengambil makanan, membayar, dan sebelum duduk di mejanya, dia mendekati rombongan itu dan berkata: maaf, ini bukan tentang rasa.
Paser, Kalimantan Timur, 12 Agustus 2026
