Puncak peringatan ulang tahun ke-80 Persatuan Guru Republik Indoensia (PGRI) dilaksanakan sangat meriah di Britama Arena (Mahaka Square) Jakarta Utara, Sabtu (29/11/2025). Sebelum acara inti dimulai, para guru se-Indonesia menampilkan berbagai hiburan. Mayoritas menyanyi. Yang hadir di tribun dan di aula ikut menari. Dan berjoget mengikuti irama. Suara yang merdu, goyangan yang asyik dan pantun yang berbalas, mewarnai suasana indah hari itu.
Wajah-wajah itu, baik yang hadir di dalam arena berkapasitas 5.000 orang, maupun yang tidak bisa masuk dan jumlahnya jauh lebih banyak, menunjukkan rona kegembiraan luar biasa. Suasana kekeluargaan dan keakraban terlihat di kantin-kantin lantai 1, di beberapa photobooth yang tak pernah sepi, di sudut-sudut ruangan, di antrean toilet, di tempat penjualan pin dan souvenir, juga di pinggir kali di mana ratusan batik PGRI berjejer. Di semua tempat, ada seragam batik PGRI.
Sampai di sini, penulis percaya, bahwa pahlawan tanpa tanda jasa ini adalah salah satu insan paling bahagia di muka bumi. Paling sejahtera. Dan, paling mulia, karena mereka adalah instrumen utama dalam mewujudkan Tujuan Nasional ke-3, yaitu Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.
Tapi benarkah demikian? Menjawab ini, perlu ada definisi dan ruang lingkup sejahtera. Banyak teori tentang sejahtera, dan kesejahteraan. Jika disimpulkan, maka sejahtera berarti suatu kondisi yang aman, sentosa, makmur, dan damai, di mana kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan terpenuhi, serta kondisi fisik, mental, dan sosial individu atau masyarakat dalam keadaan baik. Ini mencakup tidak hanya aspek materi, tetapi juga kesehatan, pendidikan, dan rasa cukup dalam berbagai aspek kehidupan.
Ini indikator ideal. Lalu mari tengok kondisi ril guru di Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari tahun ke tahun. Banyak sekali guru yang beprestasi lagi inovatif, memberi warna bagi pendidikan, menjadi penerus Ki Hajar Dewantara dalam Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani.
Akan tetapi sebaliknya, tak bisa dipungkiri, banyak juga yang jalan hidupnya termasuk kategori ‘koq begini amat’. Beberapa contoh terbaru bisa disebutkan. Zaharman guru SMA Rejang Lebong, Supriyani guru SDN 4 Baito, Konawe Selatan, dan Roni Ardiansyah Kepala SMPN 1 Prabumulih. Lalu ada Kepala SMAN 1 Cimarga Dini Fitria, dan 2 dari SMAN 1 Luwu Utara yaitu Rasnal mantan Kepala Sekolah dan rekannya Abdul Muis.
Prosentasi kasus ini mungkin kecil dibanding jumlah guru keseluruhan. Dan sebagian sudah selesai dengan kabar menggembirakan di pihak guru. Namun dampaknya terhadap dunia pendidikan sangat luar biasa.
Simaklah pidato ketua PGRI Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd. di Mahaka Square. Penyampaian yang -maaf lebih mirip rintihan- ini sarat makna dan pesan. Dua di antaranya adalah anggaran untuk kesejanhetaraan guru, dan kriminalisasi yang selalu terjadi ibarat gelombang di lautan. Sayangnya yang hadir waktu itu memberikan tanggapan ‘hanya’ Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., yang waktu mendapat giliran memberikan pidato, jawabannya adalah: semua penyampaian ibu Ketua PGRI tadi sudah kami catat.
Lalu, muncullah pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mengatakan bahwa gaji guru harusnya setara dengan gaji DPR. Ini langsung mendapat respon pro dan kontra. Satu hal yang perlu jadi catatan adalah Purbaya telah berhasil membuka mata publik tentang ketidakadilan yang selama ini tersembunyi di balik tembok gedung DPR. Apapun hasilnya nanti, inilah jawaban dari penyampaian-penyampaian Prof. Uniffah. Jawaban yang ril, meski ujungnya belum diketahui me mana arahnya.
Kedua jawaban ini, jika ditimbang-timbang maka hasilnya sebagai berikut. Pernyataan Wakil Menteri lebih realistis, namun kurang meyakinkan. Sebaliknya pernyataan Menteri Keuangan lebih meyakinkan, meskipun kurang realistis, bahkan kalau mau jujur, hampir mustahil terjadi.
Akan tetapi mari berandai-andai. Jika ucapan Menteri Purbaya jadi kenyataan, maka luar biasa dampaknya. Anda tahu berapa pendapatan seorang anggota DPR? Gaji pokok kurang lebih setara dengan PNS golongan III. Tapi ada pendapatan lain yang berkali-kali lipat.
Bayangkan, di saat seorang guru lagi capek-capeknya pulang mengajar, tiba-tiba ada notifikasi SMS banking. Saat dicek ada masuk 50 juta rupiah. Di sekolah bermasalah dengan anak yang merokok dan dilaporkan ke polisi, tiba-tiba ada pemberitahuan masuk take home pay sebesar 200 juta rupiah. Atau, guru yang selama ini tinggal di rumah dinas yang atapnya bocor dan terkadang air tidak mengalir berhari-hari, tiba-tiba tinggal di rumah dinas full AC dengan fasilitas lengkap. Lagi, pasukan Oemar Bakri dengan sepeda kumbang sehari-hari tiba-tiba berubah jadi mobil mewah.
Ah sudahlah. Membayangkan ini, ucapan Menteri Keuangan ibarat angin surga. Meskipun, lagi-lagi, sangat meyakinkan.
Apapun itu, di ulang tahun ke-80 PGRI, seharusnya kualitas insan yang bernaung di bawahnya mendapatkan kesejahteraan dalam arti yang sesungguhnya. Nyaman mengajar, kebutuhan keseharian lebih dari cukup, mampu menyekolahkan anak-anak sampai sarjana, dan ada fasilitas berupa tempat tinggal, serta yang tak kalah penting, kendaraan memadai.
Khusus untuk kendaraan sebenarnya permintaan Prof Unifah tidak terlalu muluk-muluk. Yang penting saat hujan tidak kehujanan, dan saat panas tidak kepanasan. Yang ada saat ini, sebagian masih sebaliknya. Saat hujan tidak kepanasan, dan saat panas tidak kehujanan.
Selamat memperingati ulang tahun ke-80 PGRI. Guru bukan sekadar pengajar, ia adalah motor penggerak kemajuan. “Guru Bermutu Indonesia Maju, Bersama PGRI Wujudkan Indonesia Emas.”
Mahaka Square-Jakarta Utara, 29 November 2025
