Oleh: Kang Abin Kusut
Kejadian Ade Armando (bonyok) adalah mewakili wajah asli bangsa ini, dimana kebutuhan hidup terus meroket, harga-harga melambung tinggi ke angkasa, menyebabkan kondisi hidup mereka (rakyat) bonyok berkali-kali. Saking bonyoknya wajah rakyat kecil, kendatipun sudah bekerja keras seharian, baru cukup untuk tidak kelaparan di keesokan harinya.
Terjadinya pemukulan terhadap Ade Armando adalah pesan bahwa keadaan lapangan sudah tidak bisa dikendalikan lagi, aturan-aturan sudah tidak diindahkan lagi. Mungkin sebagian rakyat sudah kesal dengan para pembesar yang berada di istana sang raja yang sibuk dengan celoteh tiga periode, di tengah hampir semua harga kebutuhan pokok mencekik leher mereka tanpa ampun.
Banyak pengamat lapangan “amatiran” mengatakan bahwa “bonyoknya” Ade Armando adalah bentuk keberhasilan rezim mengalihkan isu utama, yaitu aksi menolak tiga periode. Saya pribadi melihat bahwa adanya “kekerasan” terhadap “gundik” kekuasaan adalah bentuk pesan rakyat yang serius kepada para pembesar di istana sang raja. Terlebih jika kita melihat runtuhnya kekuasaan disebabkan kemarahan rakyat yang tidak bisa dibendung.
Jika melihat kilas balik sejarah runtuhnya kekuasaan, selalu berangkat dari hal-hal yang terkecil. Dimusnahkan dulu para penjilat dan anjing penjaga. Zaman dulu, istilah anjing penjaga dan penjilat dikenal dengan gundik, demang, dan centeng. Jika itu terjadi, tentu menjadi pesan yang sangat mencekam bagi para pembesar yang ada di istana sang raja.
Rakyat sudah tidak bisa lagi dininabobokan dengan kalimat sakti yang biasa terucap manis dari para pembesar yang katanya dulu kehidupannya sama dengan rakyat yang tinggal di pinggir kali. Gerakan perlawanan rakyat akan semakin membesar dan gelombang kesadaran rakyat pun mulai membuncah ke seantero zamrud khatulistiwa.
Lihat saja, rakyat hampir seirama dalam menyanyikan perlawanan terhadap para pembesar-pembesar, baik di daerah maupun di pusat. Turun ke jalan adalah pilihan utama. Menurut mereka (rakyat), di jalan adalah cara terbaik bernyanyi keras agar suara-suara sumbang terdengar jelas di telinga penguasa yang tersumbat kotoran oligarki.
Kekuasaan itu tidak bisa didiamkan. Rakyat harus berisik agar dansa-dansa oligarki tak seindah seperti biasanya. Harus ada nada-nada fals dan sumbang agar mereka (oligarki) tidak menikmati dansanya.
Kang Abin Kusut
Kekompakan rakyat didasari oleh perasaan “kolektivitas sosial” yang sama. Sejenis perasaan yang memiliki nasib dan tanggung jawab serta nilai-nilai moral yang sama terhadap ketidakpastian dalam memenuhi kebutuhan hidup dan tuntutan kehidupan. Gerak langkah dan iramanya pun sudah mulai bersatu. Hampir seluruh pemain musik (rakyat) bergabung untuk menciptakan lagu kebersamaan berjudul revolusi.
Jika rakyat sudah seirama, itu pertanda pesan keras sudah didengungkan kepada mereka penguasa hedonis bahwa “pesta dansa akan segera berakhir”. []
(Jakarta 12 April 2022, Umur panjang pergerakan Indonesia).
