Oleh: Kang Abin Kusut
Runtuhnya orde baru merupakan lembaran baru bangsa Indonesia menyongsong kehidupan bernegara ke arah yang lebih baik. Dengan napas reformasi, setahap demi setahap perbaikan di segala lini kehidupan berbangsa dan bernegara terus dilakukan. Salah satu agenda utama reformasi adalah membebaskan rakyat dari belenggu kebebasan yang terpasung selama era Orde Baru.
Produk reformasi terus bergulir, di antaranya kebebasan mendirikan partai politik dan pemilihan langsung presiden dan wakil presiden. Karenya rakyat Indonesia pada umumnya menyambut gegap gempita lahirnya nuansa “demokrasi” sebagai hasil ternak para aktor jalanan yang meruntuhkan rezim Orde Baru.
Sudah 20 tahun kita mengalami era reformasi. Namun, celakanya reformasi hari ini seperti kelakuan bencong lemah gemulai tak berkutik menghadapi kekuatan oligarki yang semakin menancapkan kuku-kukunya di Bumi Nusantara ini.
Produk reformasi di tiga eleman utama penyelenggara negara, yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif hampir semuanya masuk angin dalam cengkraman kekuatan oligarki. Lebih menyedihkan lagi, para aktor jalanan yang dulu “berteriak lantang” hancurkan rezim Orde Baru, kini tertidur pulas di atas kursi goyang yang dihidangkan para oligarki.
Sangat memilukan sekarang kondisi negeri ini, dimana rakyat harus jadi korban mesin-mesin kebijakan politik yang sudah didesain oleh para pembesar dengan dukungan penuh oligarki. Akibatnya, para pemimpin tidak bisa melakukan apa-apa. Semua disandera oleh pemegang remote kekuasaan yang dikendalikan oligarki.
Kelangkaan minyak goreng akhir-akhir ini dan melambungnya harga-harga kebutuhan pokok adalah bagian dari permainan oligarki yang menjadikan rakyat sebagai tumbal perselingkuhan antara penguasa dan oligarki.
Begitulah episode kehidupan rakyat. Ia hanya dijadikan raja ketika datang musim Pemilu. Setelahnya, rakyat dijadikan hidangan santapan lezat bagi para penguasa. Sebagaimana kata Emma Goldman, tokoh pergerakan perempuan paling ditakuti di Rusia tahun 1870-an, “Politisi akan menjanjikan surga sebelum Pemilu, dan memberimu neraka setelahnya.”
Kisah ini akan terus berlanjut jika rakyat tidak menjadi aktor jalanan menyuarakan kebenaran.
Jika kita sadari dan membuka hati lebih dalam, sesungguhnya oligarki lebih berbahaya dari Orde Baru.
Oligarki ini seperti mesin pembunuh yang terus-menerus meminta tumbal melalu aktor-aktor politik untuk melancarkan kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Jika ini didiamkan, sama saja kita membiarkan reformasi jadi bangkrut. Rakyat seperti bebas tapi terbelenggu oleh kebutuhan hidup dalam suasana ketidakpastian. Jika oligarki sudah merambat ke semua saluran pemerintah, maka yang ada rakyat seperti “budak milenial” di negeri sendiri. Artinya, reformasi sudah bangkrut.
Salam perjuangan tanpa limit.
Jakarta 14 April 2022
