Sudah dua tahun lebih dunia dilanda pandemi COVID-19. Secara sadis, jasad renik ini telah merampas ribuan jiwa anak bangsa.
Protokol kesehatan pun diterapkan. Mulai dari 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak dan menghindari kerumunan), bertambah menjadi 5 M (Memakai masker, Mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, serta Membatasi mobilisasi dan interaksi), bahkan sampai 6 M (Memakai masker, Mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, Mengurangi mobilitas, dan Menghindari makan bersama). Semua diatur secara ketat seiring diberlakukannya berlevel-level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga sebagian orang merasa jenuh dibuatnya.
Ya, pandemi COVID-19 boleh saja menyekat pergerakan fisik kita. Namun, kondisi ini jangan sampai membatasi gagasan dan karya kita. Karena itu, bertepatan di Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia 23 April 2021, saya bersama seorang sociopreneur dan writerpreneur Iyan Apt mendirikan rumah jiwa di angkasa bernama Bengkel Narasi (BN). Dalam komunitas ini, kami menggabungkan manusia-manusia pembelajar yang rendah hati dengan manusia-manusia pemelajar yang semangatnya bergelora untuk belajar menulis.
Alhamdulillah, melepas usia “bayi” satu tahun pada tanggal 23 April 2022 ini, Bengkel Narasi terus tumbuh dan berkembang. Dengan prinsip manajemen satu rasa, Bengkel Narasi mendapat apresiasi dari berbagai kalangan sebagai komunitas menulis yang lain daripada yang lain. Ditekankan pula kepada seluruh anggota komunitas tentang bagaimana menulis sambil memeluk kemanusiaan, menulis sambil mengurus kehidupan, dan menulis sambil berbagi dan menginspirasi.
Sejak berdirinya 23 April 2021, Bengkel Narasi telah melahirkan beberapa penulis baru yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Tercatat sudah ada 20 buku berlabel Bengkel Narasi yang terbit ber-ISBN dengan tampilan dan isinya yang apik.
Ruslan Ismail Mage
Jika dirata-ratakan, artinya setiap bulan pasti terbit buku dari anggota komunitas Bengkel Narasi. Sebagai komunitas menulis yang hanya bermodalkan harapan lahirnya penulis-penulis baru berbakat di seluruh pelosok Nusantara, tentu hal ini merupakan sebuah capaian yang wajib disyukuri.
Bagi sebagian anggota komunitas BN, proses mereka sejak awal belajar menulis hingga berhasil menerbitkannya dalam bentuk sebuah buku tidaklah instan. Satu per satu judul tulisan yang berhasil mereka susun diposting di situs web menulis daring www.bengkelnarasi.com. Platform ini sangat sederhana dan user friendly. Satu lagi, di situs web menulis daring ini tidak dipasang iklan. Jadi, pembaca tidak merasa terganggu dan bisa fokus pada tulisan yang dimuat.
Setelah terkumpul 40 hingga 50 judul tulisan, biasanya teman-teman BN sudah mulai merasa pede. Kemudian, mereka mengumpulkan tulisan-tulisannya menjadi satu kesatuan draf naskah.
Jangan khawatir, serahkan saja draf tersebut kepada Kang Iyan Apt. Owner dari full stack publisher Elfatih Media Insani ini benar-benar mahir dan andal. Dengan mengadaptasi konsep one stop solution, “Simsalabim!” jadilah buku-buku yang apik dan berkualitas.

Bagi sebagian anggota komunitas BN yang belum siap menerbitkan hasil karyanya secara solo, buku antologi ini kami hadirkan secara khusus dalam rangka satu tahun kebersamaan kami di Bengkel Narasi. Di dalamnya ada karya testimonial dari komitmen “Sumpah Pena”, curahan hati yang terdalam, hikmah yang didapat dari pengalaman dan aktivitas keseharian, hingga fiksi-fiksi yang menggugah jiwa.
Seperti yang ditulis oleh Bapak Bakhtiar, “Demi Pena, dengarkan sumpahku ini. Aku akan selalu menulis, menulis, dan menulis. Tidak akan kubiarkan tinta pena ini mengering. Semoga lahir karya-karya yang membuat orang mengenang dan merindukanku.”
Selamat membaca. Sampai jumpa lagi di karya antologi “Dua Narasi” tahun depan!
Depok, Ramadan 1443 H/April 2022 M
Ruslan Ismail Mage
