“Di atas landasan ideeel Pancasila ini kita bisa membangun budinya bangsa Indonesia yang setinggi-tingginya. Dan inilah keyakinan kita, hanya di atas landasan ideel yang bernama Pancasila itu kita bisa membangun kita punya budi dan daya yang sesempurna-sempurnanya.” 

Bung Karno



Moment sejarah yang tidak boleh terlupakan Pertama pada tanggal 1 Juni 1945 yang menjadi Hari Lahir Pancasila dan setiap tanggal 1 Oktober yang menjadi Hari Kesaktian Pancasila untuk memeringati para pahlawan revolusi yang gugur peristiwa G30S/PKI.

Di balik terciptanya Pancasila yang digunakan hingga saat ini, terdapat tiga tokoh penting yang berperan dalam perumusan Pancasila.

Dilansir dari buku Pancasila sebagai Ideologi dan Dasar Negara (2012) karangan Ronto, Pancasila adalah lima dasar yang di jadikan perjanjian luhur dan di sepakati oleh pendiri bangsa Indonesia.

Secara etimologis, Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta panca artinya lima dan syla berarti batu sendi atau alas dasar.ada tiga tokoh perumus Pancasila yakni Soepomo, Moh.Yamin dan Soekarno.

Rumusan Pancasila Ir.Soekarno

Presiden pertama Indonesia, Soekarno juga turut serta merumuskan Pancasila.

Dalam pidatonya di sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan pidato yang berisi gagasan mengenai dasar negara yang terdiri dari lima butir gagasan.

Gagasan tersebut adalah:

Kebangsaan Indonesia

Internasionalisme dan perikemanusiaan

Mufakat atau demokrasi

Kesejahteraan sosial

Ketuhanan yang Maha Esa


Selain itu, Soekarno juga mengusulkan tiga dasar negara yang diberi nama Ekasila, Trisila, dan Pancasila. Di mana akhirnya dasar negara yang dipilih adalah Pancasila.

Ekasila berisi gotong royong, dimana gotong royong, yang dianggap merupakan tradisi kebudayaan bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Tujuan dibentuknya ekasila adalah agar mudah dimengerti dan tidak ambigu maknanya oleh berbagai bangsa dan suku di Indonesia.

Intisari Pancasila diperas trisila lalu menjadi Gotong Royong.

Pancasila sebagai dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia telah diterima secara luas dan telah bersifat final. Hal ini kembali ditegaskan dalam Ketetapan MPR No XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa) dan Penetapan tentang Penegasan Pancasila sebagai Dasar Negara Ketetapan MPR No. I/MPR/2003 tentang Peninjauan Terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 1960 sampai dengan Tahun 2002.

 Selain itu Pancasila sebagai dasar negara merupakan hasil kesepakatan bersama para Pendiri Bangsa yang kemudian sering disebut sebagai sebuah “Perjanjian Luhur” bangsa Indonesia.

Namun di balik itu terdapat sejarah panjang perumusan sila-sila Pancasila dalam perjalanan ketatanegaraan Indonesia. Sejarah ini begitu sensitif dan salah-salah bisa mengancam keutuhan Negara Indonesia. 

Hal ini dikarenakan begitu banyak polemik serta kontroversi yang akut dan berkepanjangan baik mengenai siapa pengusul pertama sampai dengan pencetus istilah Pancasila. Artikel ini sedapat mungkin menghindari polemik dan kontroversi tersebut. 

Dari kronik sejarah setidaknya ada beberapa rumusan Pancasila yang telah atau pernah muncul. Rumusan Pancasila yang satu dengan rumusan yang lain ada yang berbeda namun ada pula yang sama. Secara berturut turut akan dikemukakan rumusan dari Sukarno, Supomo, Yamin, Piagam Jakarta Hasil BPUPKI Hasil PPKI Konstitusi RIS, UUD Sementara, UUD 1945 (Dekrit Presiden 5 Juli 1959), Versi Berbeda, dan Versi populer yang berkembang di masyarakat.

 Namun yang ingin saya narasikan adalah Konsep Ir.Soekarno.

Dalam pidatonya pada tanggal 22 Juni 1945 ketika menawarkan Pancasila sebagai dasar negara di sidang BPUPKI, Bung Karno menjelaskan bahwa Pancasila dapat diperas menjadi Trisila dan Trisila dapat lagi diperas menjadi Ekasila. Meski nampak seakan-akan Bung Karno sedang memberi opsi lain dari pada Pancasila, yaitu Trisila dan Ekasila, yang mana ketiganya adalah sama secara subtansi, namun kita dapat mengerti bahwa maksud Bung Karno bukanlah untuk memberi pilihan. Bung Karno justru bermaksud memperkuat dan memperdalam pengenalan dan pemahaman kita akan dasar yang lima dari Pancasila itu. Dan dari itu kita mengerti bahwa bentuk akhir dari pada implementasi Pancasila itu adalah terwujudnya Masyarakat Gotong Royong.

Gotong royong inilah sebaik-baiknya sistem. Gotong royong inilah sebenar-benarnya cara kita membangun hidup. Dan Gotong royong inilah setinggi-tingginya budaya. Sebab adalah kenyataan yang memang tidak bisa kita tolak bahwa manusia benar-benar tidak bisa hidup masing-masing.

 Manusia tidak dapat memilih hidup bergolong-golongan, berpecah belah, bermusuh-musuhan dan saling mengalahkan. Hidup yang demikian itu telah jelas dan pasti hanya akan membawa manusia pada kehancuran dan kesengsaraan. Dan kita semua yang hidup di hari ini adalah saksi atas peradaban panjang umat manusia yang telah meninggalkan simpul hikmah amat penting, yaitu bahwa manusia hanya punya satu pilihan untuk dapat mewujudkan damai sejahtera di atas dunia ini: Gotong Royong!

Jadi sebenarnya gotong royong itu adalah kodrat hidup yang tidak bisa ditolak. Gotong royong itu adalah fitrahnya manusia. Gotong royong itu adalah kekuatan luar biasa yang ketika suatu tatanan masyarakat gotong royong ini telah terbentuk, akan banyak karya-karya besar dan hebat yang dapat dilahirkannya. Yang berat menjadi ringan dan yang sulit menjadi mudah. Namun memang perkara mewujudkan masyarakat gotong royong ini bukanlah perkara kecil meski formula untuk wujudkan itu telah ada. Yaitu Pancasila!

“Di atas landasan ideeel Pancasila ini kita bisa membangun budinya bangsa Indonesia yang setinggi-tingginya. Dan inilah keyakinan kita, hanya di atas landasan ideel yang bernama Pancasila itu kita bisa membangun kita punya budi dan daya yang sesempurna-sempurnanya.” 

~ BUNG KARNO

Hal yang pasti tentang gotong royong ini adalah ia menuntut keluhuran budi. Dan masyarakat gotong royong pastilah masyarakat yang tinggi budi pekertinya. Tidak mungkin kita membangun satu tatanan masyarakat gotong royong tanpa sekaligus membangun budi pekerti atau akhlaqnya. Sebab untuk dapat bergotong royong itu dibutuhkan kerendahan hati, dibutuhkan kejujuran, dibutuhkan respek, dibutuhkan sikap saling percaya, toleransi, dedikasi, patriotisme dan dibutuhkan kesadaran Tat twam asi – engkau adalah aku, aku adalah engkau. Dibutuhkan kesadaran Bhinneka Tunggal Ika – bahwa kita yang beragam ini sejatinya tunggal adanya. Singkatnya, masyarakat gotong royong itu hanya dapat terwujud dalam masyarakat bhinneka tunggal ika.

Dan Pancasila itu sejatinya adalah hadir untuk mewujudkan masyarakat bhinneka tunggal ika itu. Masyarakat gotong royong itu. Karena itulah semboyan tetap dari pada Pancasila itu adalah Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka tunggal ika itulah keasilan kita. Keindonesiaan kita. Asal kita. Jati diri kita. Kodrat hidup dan fitrah kita. Sebab seberapapun besar dan banyaknya perbedaan yang kita punya, pastilah satu dan sama kesejatian kita. Diciptakan dan berada dalam naungan Tuhan yang sama dan dihidupi oleh rasa kemanusiaan yang sama. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Adakah pilihan yang lebih baik bagi kita bangsa Indonesia selain dari bersatu sebagai saudara sebangsa – bergotong royong membangun hidup bersama dalam wadah negara kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan, yang kita selenggarakan dalam permusyawaratan/perwakilan – demi satu tujuan bersama; kesejahteraan bersama; keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

“Aku selalu berkata pada waktu itu, “Dharma Eva Hato Hanti”, “Dharma Eva Hato Hanti”, kalimat Sanskerta, yang berarti “Kuat karena bersatu, bersatu karena kuat!”” ~ BUNG KARNO

Selamat Hari Lahir Pancasila.

Referensi Suntingan :

*Nasionalis Religius

*https://www.rumahkebangsaanpancasila.id/profile/92666c56-420b-49b9-be91-e09fd341c141

*http://indeks.kompas.com/profile/1972/Serafica.Gischa

(Visited 877 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

11 thoughts on “Merawat Ingatan : Ekasila Konsep Bung Karno”
    1. “Dharma Eva hato ganti”
      “Kuat karna bersatu”,”bersatu karna kuat”.
      Terima kasih untuk materinya pak🙏
      Saya Sangat termotivasi

  1. Sebab seberapapun besar dan banyaknya perbedaan yang kita punya, pastilah satu dan sama kesejatian kita. Diciptakan dan berada dalam naungan Tuhan yang sama dan dihidupi oleh rasa kemanusiaan yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.