Oleh: Gusnawati Lukman
Setiap orang memiliki hobi dan kecerdasan masing-masing. Ada yang cerdas mengolah kata, mengolah tubuh, mengolah suara, dan lain-lain. Namun, bagaimana jadinya jika semua kecerdasan itu tidak dituliskan?
Pramoedya Ananta Toer menuliskan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Menulis agar tidak hilang dari peradaban.
Menulis adalah proses merangkai ide dan gagasan menjadi suatu tulisan yang utuh sehingga bisa dipahami orang lain. Dengan menulis, seseorang bisa menyampaikan apa yang ada dalam pikiran menjadi kata-kata. Ruslan Ismail Mage dalam kata inspiratifnya menegaskan, “Tulislah apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Lalu, biarkan tulisannya berjalan sendiri menemui pembacanya di ruang-ruang publik.”
Untuk bisa terlatih menulis memang butuh ketekunan dan perjuangan. Selain itu, perlu juga tekad dan motivasi tinggi agar tidak goyah saat menjalani proses menulis. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Semua orang akan mati kecuali karyanya. Maka, tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak.”
Saya bahagia sejak pertama kali mengenal Ibu Rosmawati di grup WhatsApp Bengkel Narasi (BN). Orangnya ramah, supel, luwes, dan asyik diajak bicara. Saling mengenal di dunia maya membuat kami saling mengikat janji untuk mewujudkan pertemuan di dunia nyata. Apalagi kami berasal dari daerah yang sama, yaitu Bumi Latemmamala, Watansoppeng. Tak bisa dipungkiri, ada rasa yang sama yang begitu kuat menyatukan kami.
Berselang beberapa lama, akhirnya kami bisa bertemu, bertatap rupa, berdekap raga. Kami saling bertukar pikiran, sharing ide bagaimana memajukan komunitas menulis di tempat pertama kali bertemu.
Komunitas menulis Bengkel Narasi adalah rumah jiwa kami. Di sanalah kami selalu berdiskusi, menuangkan, dan menuliskan ide-ide besar untuk membumikan literasi ke seluruh pelosok negeri.
Ibu Rosmawati adalah pejuang literasi yang tangguh. Geliatnya untuk membumikan literasi di daerahnya, Kolaka Utara, tak bisa dipandang sebelah mata. Beliau adalah motivator, penggerak yang tiada henti menginspirasi dan mengedukasi masyarakat di daerah untuk bersama-sama memajukan literasi bangsa.
Sebagai pejuang literasi, Ibu Rosmawati juga menjadi role model yang diteladani. Tulisan-tulisannya banyak menginspirasi masyarakat dari kalangan anak-anak muda, guru-guru, dan ASN di Kolaka Utara. Kiprahnya di dunia tulis-menulis patut mendapatkan acungan jempol.
Tulisan pertama di website Bengkel Narasi rilis pada tanggal 6 Mei 2021 berjudul “Air mata Rindu untuk Ambo”. Tulisan pertama ini adalah catatan batinnya akan kerinduan pada sang ayah (Ambo). Bagaimana beliau selalu terkenang pada ayahnya, apalagi saat menjelang bulan puasa seperti sekarang ini.
Masih terkenang ketika ayahnya bertanya,” Apa sudah ada pembeli baju lebarannya, Nak?” Ia pun cuma tersenyum. Mengingat semua itu, air matanya menetes, meleleh membasahi pipi. Betapa ia merindukan sosok tangguh itu. Ingin rasanya selalu menyandarkan diri di bahunya yang kokoh dan kekar. Ingin rasanya merasakan semua perjuangan dan ketangguhannya dalam menghadapi gelombang kehidupan yang penuh riak. Menghidupi keluarga dengan hasil jerih payahnya yang halal. Sungguh ia mengagumi sosok Ambonya.
“Aku Tahu” adalah puisinya yang pernah booming dan selalu meramaikan percakapan di grup WhatsApp Bengkel Narasi. Judul ini menarik dan penuh makna, merupakan ungkapan rasa cinta yang begitu dalam kepada suami tercinta, Bapak Hasbi Latif. Laki-laki yang begitu setia mendampingi hari-harinya dalam suka dan duka. Cinta dan perhatian sang suami yang tulus dan ikhlas membuatnya luluh dan terharu.
Ibu Rosmawati adalah wanita super yang selalu mengisi waktunya dengan kegiatan yang bermanfaat. Kecintaannya pada tanaman hias, khususnya bunga Aglaonema tak diragukan lagi. Mau bertanya apa saja tentang bunga Aglaonema ini, beliau dengan senang hati pasti akan menjelaskan sampai ke akar-akarnya, dari A-Z.
Di masa pandemi, waktunya banyak digunakan untuk merawat tanaman hias. Rumahnya yang asri dipenuhi aneka bunga-bunga indah, penuh warna-warni, menyejukkan mata, membuat perasaan jadi tenang, damai, dan bahagia. Ketika berkunjung, coba tanyakan kepada beliau nama dan sejarah dari aneka bunga Aglao-nya, pasti tidak ada yang terlewatkan.
Kecintaannya pada bunga Aglaonema juga beliau tuangkan dalam bentuk tulisan. Kita bisa membaca tulisan pertamanya tentang bunga Aglaonema yang dirilis pada tanggal 23 Mei 2021 di website menulis Bengkel Narasi dengan judul “Geliat Tanaman Hias di Masa Pandemi”. Tulisannya tentang bunga Aglaonema ini terus menghiasi website Bengkel Narasi dan sangat menarik, pas untuk para pencinta tanaman hias. Ketika dilempar ke publik pun tulisannya mendapat apresiasi dari masyarakat.
Merawat tanaman hiasnya dengan penuh cinta adalah wisata jiwanya. Prinsipnya, tanaman itu juga seperti manusia yang butuh cinta, kasih sayang, dan perhatian. Memandangi keindahan, mengelus aneka bunga warna-warni di taman bunga, membuat jiwanya begitu tenang, damai, dan bahagia. Kala hati dan jiwa bergejolak, bunga-bunga indah inilah yang meredam semuanya.
Buku “Pandemi Cinta di Taman Literasi” adalah wujud nyata kiprah dan kecintaan beliau pada literasi. Menulis untuk mengedukasi masyarakat luas. Menulis untuk mengedukasi diri sendiri. Menulis adalah wisata jiwa yang paling menyenangkan. Menulis adalah terapi jiwanya.
Menulis mengajari kita bahwa yang terucap bisa saja terlupakan. Namun, yang dituliskan akan selalu ada.Tidak perlu ragu untuk menulis apa pun, sebab setiap tulisan memiliki penikmatnya sendiri. Pada akhirnya, kebahagiaan yang hakiki adalah dari diri kita sendiri.
Saya mengucapkan selamat kepada Ibu Rosmawati atas terbitnya buku “Pandemi Cinta di Taman Literasi”. Semangat berkarya, Bunda Ros. Karya nyata ini akan menghiasi sudut-sudut jiwa para penikmat literasi.
Namamu akan selalu abadi di hati masyarakat, di jiwa para keluarga, dan saudara-saudara tercinta, para sahabat-sahabat sejati. Tetap tersenyum agar kebahagiaan dan kedamaian selalu tersemai.
Watansoppeng, 22 Maret 2022
Gusnawati

Bener banget kata bunda bahwa u/dpt terlatih menulis ,butuh ketekunan & perjuangan serta tekad dan motivasi tinggi ,agar kita tdk goyah & tetap stabil dlm menjalani proses mrnulis .
Karna terkadang di saat kta mulai menggoyangkan pena u/merangkai kta demi kata ,tiba” dihinggapi rasa bosan ,jenu
dan sebagainya .
ide & pemikiran mulai tdk bersahabat lagi ,ahirnya buyar semuanya ,tpi dgn adanya suffort serta motivasi seperti yg bunda gusna paparkan di tulisannya ini ,membuat kami semangat lagi u/ttp sealu menulis & menulis lagi ,good I LIKE
Siap Bunda. Tetap semangat.❤❤❤