Sepulang dari Tugu Pahlawan dan Museum 10 November, yang tidak jadi masuk museum lantaran liburan hari Senin.

Perut keroncongan mengharuskan kami mencari makan siang disudut kota Surabaya, setelah itu kami sholat dhuhur di masjid komplek kantor Gubernur Jawa Timur. Disayangkan ora iso ketemu bu Gubernur Kofifah dan wakilnya, hehehe ngarep nih ye…

Usai sholat dhuhur kami tidak langsung balik kost-kostan, tapi rehat sejenak untuk melepaskan penat. Saking lelahnya, kami berdua ketiduran pules sekali.

Selain bersih masjid dalam komplek Kantor Gubernur lebih tepatnya persis dibelakang kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Timur ini sangat adem buat beristirahat di siang bolong.

Terbangun dari tidur siang, bergegas angkat kaki mencari Armada Bus Suroboyo tujuan Tugu Pahlawan ke Margorejo, tempat kami menginap selama di Surabaya. Konon bagi arek-arek Suroboyo, armada satu ini merupakan moda transportasi umum yang ramah terhadap penumpangnya.

Ehhh, mumpung masih di komplek kantor Gubernur Jatim yang berhadapan persis dengan bangunan bersejarah Tugu Pahlawan, lagi-lagi kami melanjutkan mengambil gambar sekitaran kantor Gubernur Jatim, sambil mencari halte pemberhentian Teman Bus Suroboyo.

Clingak-clinguk mencari halte bus, akhirnya dapat. Bus Suroboyo yang ditunggu-tunggu pun datang. Merah menjadi warna dominan Bus Suroboyo sehingga mudah dikenali keberadaannya.

Pintu pun terbuka otomatis, para penumpang bergegas naik ke kabin bus, sang kondektur menghampiri. Begitu kondektur bus mendekat, ia sempat mengatakan kepada kami untuk turun dulu membeli masker.

“Maskernya mana, beli dulu di Toko dekat sini, nanti naik bus kedua,” tandas kondektur Bus Suroboyo.

Rupanya, anakku lali membawa masker yang tertinggal di penginapan, baru kami akan turun bus, sontak ada salah satu penumpang cewek berbaik hati memberikan sebuah masker yang dibawanya.

“Terimakasih mbak,” ujar kami singkat atas pemberian maskernya, sehingga kami tidak jadi turun armada Bus Suroboyo.

Armada Bus Suroboyo yang diluncurkan oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di Balai Kota Surabaya, Senin (23/8/2021) lalu, menjadi pilihan favorit masyarakat.

Giliran pembayaran tiba, awak kabin bus yang dikenal kondektur menyodorkan sebuah alat pembayaran berupa scan barkode dan untungnya anakku sudah top up Dana, proses pembayaran elektronik alias non tunai selesai secara cepat, aman dan mudah.

Memang benar, seiring perkembangan teknologi, keberadaan Teman Bus Kementerian Perhubungan Republik Indonesia berukuran raksasa mirip trans Jakarta ini memudahkan masyarakat Surabaya beraktivitas kemana saja, hal ini lantaran didukung oleh fasilitas armada yang sangat memadai.

Sebelumnya sampah botol plastik menjadi sarana pembayaran Bus Suroboyo, namun sejak 1 Mei 2022 ditiadakan. Sebagai gantinya, calon penumpang diwajibkan untuk menukarkan botol plastik di pos penukaran sebelum menaiki bus. Lokasi penukaran itu ada di aplikasi Gobis.

Kenyaman kabin bus dan mengurangi penumpukan banyak botol di dalamnya, menjadi alasan meniadakan pembayaran botol plastik dalam kabin armada Bus Suroboyo.

Sebagaimana dijelaskan tadi pembayaran, penumpang Bus Suroboyo ini secara elektronik dengan pemindaian kode QRIS melalui ponsel yang terhubung dengan uang nontunai seperti Gopay, OVO, Shopee, Dana dan aplikasi pembayaran nontunai lainnya.

Kenyamanan kabin Bus Suroboyo menjadi prioritas, sehingga memanjakan para penumpangnya. Hal ini tidak ku temukan di armada Bus sejenis yang saat ini ada.

Tak terasa, perjalanan berhenti di Halte Margorejo lokasi tempat kami menginap selama di kota Pahlawan ini. Selamat tinggal kota Pahlawan sampai jumpa lain waktu.

(Visited 41 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.