Oleh: Sabrie Mustamin

Quote Bang RIM, “Bersatu dalam perbedaan, bersama dalam keragaman dalam membina harmoni kehidupan,” benar-benar termanivestasikan dalam acara senam hati bersama komunitas Bengkel Narasi (BN) Kolaka Utara di Danau Biru pada hari Kamis, 26 Mei 2022 lalu.

Hampir semua elemen melebur menjadi satu. Semua sekat disingkirkan, status ditanggalkan, jabatan dipinggirkan, gelar akademik dimasukkan ke laci meja. Semuanya menjadi manusia pembelajar rendah hati yang sepakat memilih warna bening dalam menabur dan memupuk kebersamaan tanpa limit.

Suasana kebersamaan itu semakin terasa mengharu biru di saat Bang RIM memulai kata pembukaan sambutannya. Menurutnya, sebagai penulis buku dan pembicara yang setiap saat bermain dengan diksi dan narasi, tentu tidak pernah gugup apalagi terbata-bata mengurai kalimatnya.

Namun, kali ini, di hadapan sahabat-sahabat pembelajarnya BN Kolut yang selalu tulus, ikhlas, dan merindu kedatangannya tanpa batas, sang inspirator kawakan itu membisu sejenak. Ia tidak tahu dari mana memulai dan harus berkata apa melihat antusiasme BN Kolut menyambutnya.

Hilang semua narasi dan untaian katanya. Ia memulai kalimatnya dengan mengatakan, “Aku ini pembicara, inspirator dan penggerak, petarung yang tidak pernah meneteskan air mata, namun, hari ini mataku basah, mulutku bergetar tak mampu berucap. Namun, yang pasti air mata ini bukan air mata cengeng, tapi air mata kebahagiaan dan keharuan. Air mata persaudaraan, air mata seorang sahabat yang begitu bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang memuliakan silaturahmi dan persaudaraan tanpa syarat. Narasi tidak cukup untuk mengungkapkan rasa, katanya tersendat.

Sambil menundukkan kepala, Bang RIM perlahan mengeja kalimatnya, “Maaf saudaraku, aku tdk akan mengucapkan selamat tinggal, walau fisikku akan pergi melanjutkan pengembaraan literasiku lintas kota bahkan lintas negara. Saya tidak tidak akan pernah mengucapkan selamat jalan, karena saya tidak mau berpisah dengan saudara-saudara saya, sahabat-sahabat saya, adik-adik saya.

Itulah aku, kata Bang RIM melanjutkan. Kedatanganku laksana pensil yang dipakai terus untuk menulis. Walaupun akan habis karena terus diserut, tetapi sudah meninggalkan tulisan dan catatan indah tentang masa depan. Sahabat, fisikku boleh pergi melanjutkan tugas kehidupan, tetapi saya sudah meninggalkan cerita indah, catatan kehidupan, jejak literasi, jiwa merendah, semangat membara, dan optimisme yang terus menyala untuk kemajuan Bumi Patampanua.

Mendengar narasinya dengan suara serak, kami pun terdiam sejenak sambil melihat air mata kebahagiaan yang jatuh dari mata beliau yang lembab. Aku gunakan kesempatan haru itu dan berucap “Kebahagiaan sesungguhnya jika dalam hidup ini ada yang menyayangi dan mencintai kita, merindu jika jauh dan terasa ada yang hilang bila tiada. Kebersamaan yang telah kita jalani beberapa hari ini, tidak akan pernah terhapus dalam sejarah kehidupan. Kami pun paham, air mata itu adalah air mata petarung sejati. (Bersambung)

(Visited 76 times, 1 visits today)
One thought on “Air Mata Petarung Sejati (2)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.