narasi ini dirangkai setahun yang lalu

Waktu terasa begitu singkat, berjalan dan berlalu begitu cepat. Rentang waktu Desember 1968 sampai dengan Desember 2022,  hitungan angka telah mencapai 54. Berarti hitungan usia saya telah mencapai 54 tahun atau 648 bulan atau 19.440 hari. Bila dihitung, angka ini bukanlah hitungan yang sedikit melainkan sudah mencapai hitungan abad apalagi jika dihitung bulan atau hari maka akan menjadi hitungan angka yang fantastis. Usia dalam hitungan abad ini  merupakan waktu yang sangat lama, maka akan terasa sangat melelahkan bila dijalani tanpa makna. Sebahagian ada yang menganggap bahwa di usia ini merupakan usia yang sudah tua, tidak bisa lagi beraktifitas dengan maksimal, wajah keriput, dll. Namun bagiku, di  usia ini masih terasa sangat muda.

              Di usiaku yang ke 54 tahun , tepat di hari ini tanggal 12-12-2022, saya jalani tidak seperti tahun-tahun atau hari-hari sebelumnya, lain dari yang lain. Mengapa? Karena ada kejutan-kejutan  khusus dan luar biasa yang tak pernah saya duga sebelumnya dari orang-orang baik yang ada di sekeliling saya,  para sahabat jiwa rasa saudara di komunitas Bengkel Narasi Indonesia, komunitas para penulis yang penuh perhatian, terutama karena ada perlakuan spesial dari pasangan hidup, orang terkasih dan tersayang, belahan jiwa, kini telah menua bersama dan insya Allah akan selalu bersama sepanjang masa, jikalau pun harus terpisah hanya karena sebab maut.

Di hari spesial ini, di tahun 2022 ini, sengaja dipilih tanggal cantik di 12-12-2022, walaupun sebenarnya tanggal tersebut bukan tanggal kelahiranku. Tanggal kelahiranku sebneranya jatuh pada tanggal 11-12-1968, sehari sebelum perayaan spesial tahun ini. Hari spesial tersebut sengaja dirancang untuk mengelabuiku demi mengantisipasi kecurigaanku tentang akan adanya perayaan khusus yang bersamaan launching buku tulisan kami berdua. kami salah satu pasangan orang trua yang  tidak begitu  peduli dengan hari kelahiran untuk dirayakan termasuk hari kelahiran anak-anak kami. Paling kami hanya saling berucap “selamat ya dengan bertambah hitungan usianya, tapi ingat jatah hidup makin berkurang” pemberian kadopun jarang  kami lakukan paling   kami hanya saling mendoakan agar sehat, semangat menjalani hari-hari kami semoga selalu bemanfaat.

Komunitas menulis kami, yang diberi nama Bengkel Narasi Indonesia (BN-Indonesia) memang mencanangkan “Kado Buku Untuk Sahabat atau Orang-Orang Terkasih” pada momen-momen spesial sebagai salah satu trik-trik kami menggerakkan dan membumikan  literasi dimanapun dan kapanpun. Bagi kami, kado buku adalah hadiah termahal dan terindah di dunia yang tidak ternilai dengan hitungan uang, atau dengan apapun nilai finansial lainnya. Karena” buku adalah ungkapan rasa dari kepingan jiwa dan racikan otak.” (RIM). Bagi siapapun, “sesungguhnya tidak ada yang mau menukar  emas permata, intan berlian, atau rumah mewah dengan sekeping otak dan jiwanya. Maka itulah mengapa kami anggap Kado Buku  menjadi kado termahal dan terindah.” (RIM)

Perayaan hari spesial saya kali ini terbilang sangat unnik bagi saya karena ada spanduk besar, terpampang foto saya, ada dua tumpeng, kue ulang tahun yang besar, dll jajanan ringan lainnya menyertai semaraknya acara tersebut yang  ternyata dirancang dan didesain sejak bulan Juni 2022 yang dikomandoi oleh Kang Iyan Sang Arsitek BN Indonesia domisili Bandung dan Bunda Gusnawati Lukman mentor handal di BN Indonesia domisili Soppeng, dan juga oleh pak Sabrie Mustamin suami tercinta saya,  Bersama Bang RIM pendiri rumah jiwa kami di angkasa BN Indonesia dan PAI  yang menghimpun manusia pembelajar yang rendah hati, yang tergabung dari lintas profesi, agama, suku bangsa, status sosial dan budaya dari berbagai wilayah di Indonesia dari sabang sampai Merauke, bahkan terdiri dari berbagai negara (Timor Leste, Singapura, Taiwan, dan Yaman),yang ke semuanya melepaskan predikat jabatan dan predikat gelar yang berderet yang dimilikinya. Kami meleburkan diri untuk saling menginspirasi, memotivaasi dan saling mendukung untuk mengalirkan energi positif tanpa henti menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman agar menjadi manusia Tangguh di era digitalisasi ini sehigga akan selalu bermanfaat.sebagaimana hadist nabi mengatakan bahwa:

 “sebaik—baik manusia ialah manusia yang bermanfaat bagi sesama” walau tak akan mungkin  bisa menjadi manusia  sempurna paripurna.

 Kami yang tergabung dalam komunitas Bengkel Narasi Indonesia, sangat merasakan energi positif setiap menuliskarena yang kami tulis hanyalah hal-hal yang bermanfaat saja. Kami selalu saling mengingatkan bahawa setiap perbuatan baik atau buruk poasti akan mendapat balasan sesuai kadar perbuatan tersebut. Kami berupaya agar menjadi BNers sejati yang selalu menggunakan sayap-sayap litersi kami untuk selalu melakukan hal-hal baik  walaupun mungkin mendapat cibiran.  Kami  selalu bertekad tak akan melayani hal-hal buruk yang menjadi penghalang kami menambah ilmu pengetahuan dan pngalaman karena  kami menyadari bahwa Allah sangat memuliakan orang-orang yang  selalu bertalabul ilmi. Bengkel Narasi adalah Universitas kehidupan yang selalu mengangkasa melampaui ruang  dan waktu untuk terus menggerakkan literasi karena di dalamnya selalu mengajarkan:

“menulis sambil memeluk kemanuisaan, menulis sambil mengurus kehidupan, menulis sambil menginspirasi dan berbagi.”

.Kado buku di hari special ini, tidak hanya menghadiahiku Kado Buku yang ternyata menampung tulisan kami berdua yang semula saya tidak menyangka kalua buku ini telah rampung bahkan saya beranggapan mungkin launching buku ini nanti di bulan januari bersamaan hari HUT Kolut karena tidak pernah bahkan hal itu saya ungkapkan ketika kami bincang-bincang dengan beberapa anggota BN Kolut ketika rapat kecil-kecilan  yang kebetulan saya diundang menghadirinya.  saat itu disampaikan akan ada temu kangen dengan sesama anggota dengan tema “Bertemu Karena Merindu” tentu saya sangat setuju. Namun keesokan harinya barulah teringat kalua ada beberapa teman mengikuti kefiatan porseni yang tentu tidak mungkin mengikuti kegiatan  di tanggal 12 tersebut. Saya  mengingatkan di WA Group saya sampaikan “bisakah acara ini ditunda” tapi tak satupun yang menanggapi permintaan saya, bahkan japri khusus di beberapa anggota lainnya (Andi Akbar dan Bunda Ros), namun tetap tak ada tanggapn. Hari yang ditentukanpun sudah tiba, ternyata launching buku pak Sabrie terlaksana, itupun sy hanya menggumam dalam hati, apakah tulisanku  dimuat atau tidak  ya di buku itu?

Namun waktu yang ditentukanpun telah tiba. Kami datang lebih duluan daari anggota lainnya. Bapak Ir. Muhlis Bahtiar, Asisten I Pemda Kolut juga hadir sebagai salah satu tamu undangan di acara tersebut. Ketika acara dimulai yang dibuka oleh dua orang MC ibu Rahma dan Ibu Ulfa terasa tidak ada yang aneh. Setelah acara dibuka selanjutnya akan beralih pada acara berikutnya, langsung dua orang sahabat kental lebih kental dari racikan lem kastol berulah, saling beradu mulut, saling melempar tas dan botol air mineral. Adegan demi adegan yang mereka lakonkan tapi tudak membuat saya bergeming untuk melerai bahkan hanya tersenyum-senyum menyaksikan adegan merekaa ditambah kemarahan ibu Tri yang menyakinkan Pak asisten bahwa ini adegan sungguhan yang membuat spontan bangkit melerai dengan penuh kekesalan. Di adegan menegangkan, saat certa berada pada titik klimaks, lagu khusus mulai dilantunkan dengan iringan musik mulai mencairkan  suasana tegang menjadi bahagia ditambah hidangan tumpeng,kue ultah, bunga dan sebuah kado meembuat suasana menjadi lebh  ceria mulai tercipta. Pak Asisten I termakan Frank dari sutradara Launching, sememtara saya sendiri yang seharusnya mereka frank ternyata tidak kena terpancing frank mereka. Suasana kemeriahan Launching Buku “Ketika Mata Pena Mendua” yang dibungkus acara Ulang Tahun sangat terasa luar biasa ditambah spanduk tertera foto saya yang sangat besar dibalik bunga anggrek  yang membuat hati saya berbunga-bunga serasa anak baru gede (ABG) di usia bilangan abad. Sungguh suasana romantis sangat terasa bagai remaja yang baru jaru jatuh cinta.     

Ucapan terima kasih tak terhingga kepada semua yang merancang dan mendesain launching buku kami , karya  tulis ungkapan rasa kepingan jiwa  dan racikan otak kami berdua  yang berjudul “Ketika Mata Pena Mendua” semoga buku ini memberi hikmah dalam kehidupan kami dan menjadi amal jariah karena di dalamnya ada banyak kisah inspiratif dan motivasi menjadi bekal dalam menapaki  hamparan bumi yang fana ini.

(Visited 116 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.