Cogito ergo sum, “Aku berpikir maka aku ada,” ungkap Rene Descartes, sang filsuf Prancis. Descartes ingin mencari kebenaran dengan pertama-tama meragukan semua hal. Ia meragukan keberadaan benda-benda di sekelilingnya. Bahkan, ia meragukan keberadaan dirinya sendiri.

Descartes berpikir bahwa dengan cara meragukan semua hal, termasuk dirinya sendiri, dia telah membersihkan dirinya dari segala prasangka yang mungkin menuntunnya ke jalan yang salah. Ia takut bahwa mungkin saja berpikir sebenarnya tidak membawanya menuju kebenaran. Mungkin saja bahwa pikiran manusia pada hakikatnya tidak membawa manusia kepada kebenaran, tetapi sebaliknya membawanya kepada kesalahan. Artinya, ada semacam kekuatan tertentu yang lebih besar dari dirinya yang mengontrol pikirannya dan selalu mengarahkan pikirannya ke jalan yang salah.

Sampai di sini, Descartes tiba-tiba sadar bahwa bagaimanapun pikiran bisa mengarahkan dirinya kepada kesalahan, ia tetap berpikir. Inilah satu-satunya yang tidak mungkin salah. Dengan demikian, Descartes sampai pada kesimpulan bahwa ketika ia berpikir, maka ia ada.

Dari berpikir, aku mulai menulis. Menilik ungkapan Imam Ghazali, “Jika kamu bukan anak raja, jika kamu bukan anak ulama besar, maka jadilah kamu seorang penulis.” Ungkapan ini sekiranya cukup memberi inspirasi untuk menggerakkan pena, menggoreskan tinta, dan menuangkan ide-ide yang tidak harus terstruktur ataupun harus terikat dengan rambu-rambu kepenulisan. Melalui “Sumpah Pena”, aku berharap budaya hitam di atas putih bisa dilestarikan.

Menulis itu bukan cuma sulit, tapi sulit sekali. Ada juga yang bilang menulis itu gampang, Bahkan gampang sekali. Kang Maman, penulis buku “Aku Menulis Maka Aku ada” tidak membenturkan dua pendapat itu. Ia memaparkan bahwa menulis itu membaca berulang-ulang. Bagi Kang Maman, menulis itu mengasyikkan, menghasilkan, dan membahagiakan.

Menyambung Rene Descartes dan Kang Maman, aku hanya ingin mengatakan “Aku Mencinta Maka Aku Ada”. Aku coba mencari kebenaran cinta dengan pertama-tama meragukan cinta. Aku meragukan keberadaan cinta di sekelilingku. Bahkan, aku meragukan keberadaan cinta di dalam diriku sendiri.

Aku berpikir bahwa dengan cara meragukan cinta, termasuk cinta di dalam diriku sendiri, aku telah membersihkan diriku dari segala prasangka yang mungkin menuntun cintaku ke jalan yang salah. Aku takut bahwa mungkin saja mencinta tidak membawaku menuju cinta. Mungkin saja perasaanku pada hakikatnya tidak membawaku kepada kebenaran, tetapi sebaliknya membawaku kepada kesalahan. Artinya, ada semacam kekuatan tertentu yang lebih besar dari diriku yang mengontrol cintaku dan selalu mengarahkan perasaanku ke jalan yang salah.

Mencinta itu bukan cuma sulit, tapi sulit sekali. Ada juga yang bilang mencinta itu gampang, bahkan gampang sekali. Aku tidak ingin membenturkan dua pendapat itu. Di sini, aku berpikir dan menulis bahwa mencinta itu memaafkan berulang-ulang. Bagiku, mencinta itu menantangmu, memberi manfaat bagimu, dan membahagiakanmu. []

(Visited 121 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

One thought on “Aku Mencinta Maka Aku Ada”
  1. Bila kita mampu mencintai diri kta sendiri dgn seutuhnya, niscaya ktapun mampu mencintai semua orang” yg ada di sekeliling kta dgn seutuhnya pula,
    Dengan mempunyai pikiran yg jernih,maka segala prasangka buruk yg ada di hati akan hilang dgn sendiri,gimana kta hrs percaya dgn cinta kta ada,jika kta sendiri meragukan semua itu, jangan biarkan pikiran” buruk menguasai hati ,jiwa & pikiran kta,kunci utamanya adalah lebih banyak berserah diri kepada Alla ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.