Kita semua terluka. TPU Santra Cruz dan TMP Seroja yang berhadap-hadapan di Kawasan Balide menjadi saksi bisu. Pejuang kemerdekaan Timor Leste, para perwira TNI/Polri, dan pejuang pro-Indonesia pun gugur. Tidak lupa TMP Metinaru. Masing-masing pihak berduka.

Tanggal 30 Agustus 1999, ketika perpolitikan Indonesia masih terguncang pasca-Orde Baru, digelar referendum di Timor Timur (Timtim) di bawah perjanjian yang disponsori Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) antara Indonesia dan Portugal. Hasilnya, Timtim lepas dari NKRI.

Setelah 22 tahun di bawah rezim Soeharto, Presiden RI ke-2 yang pernah menjadi mertua Prabowo, sebagian rakyat Timor Timur berkeinginan lepas dari NKRI. Setelah melalui penentuan pendapat rakyat tanggal 30 Oktober 1999, NKRI kehilangan Timor Timur yang kemudian resmi menjadi negara Timor Leste pada 20 Mei 2002.

Keputusan ini juga secara resmi mengakhiri konflik bersenjata yang terjadi selama hampir 24 tahun antara militer Indonesia dengan Tentara Pembebasan Timor Timur atau yang dikenal dengan sebutan Falintil (Forças Armadas da Libertação Nacional de Timor-Leste). Konflik ini diperkirakan mendatangkan korban antara 100.000 sampai 180.000 jiwa warga Timor Timur, dan sekitar 3.000 jiwa dari kubu militer Indonesia.

Banyak elite tidak mengerti tidak paham perjuangan dan pengorbanan kedua belah pihak. Berkorban segala-galanya, nyawa, keluarga, harta, tanah, tetapi masing-masing pihak masih tetap setia kepada perjuangannya.

Dari Perang Saudara Hingga Santa Cruz, bukan hal mudah mengembalikan hubungan yang tercederai dan berujung pada perpisahan. Dari masa kepemimpinan Presiden Megawati dan SBY, bukan lagi sekadar meredam amarah, melainkan mempererat hubungan kerja sama di bidang ekonomi, pendidikan, konektivitas, dan hubungan antara manusia kedua negara.

Masyarakat Timor Timur mengalami konflik dalam dimensi yang baru setelah mengalami bagaimana rasanya merdeka. Indonesia sudah melewati masa itu, walaupun mungkin saat ini masih sering terjebak di dalamnya. Akankah kedua negara bisa terus berhubungan dengan baik dan melupakan memori kelam di masa lalu?

Mari akhiri elegi ini. Sudahi syair, nyanyian ratapan, dan ungkapan dukacita. Cara yang paling elegan untuk mengakhiri luka sejarah adalah dengan menjalin persahabatan baru. Terlalu mahal nyawa para korban jika orang-orang terus-menerus bermusuhan.

Di sini, di Bengkel Narasi, kita merintis sebuah persahabatan literasi. Dengan semangat menulis “Sumpah Pena”, bukan tidak mungkin akan hadir hal-hal konkret pengungkit perekonomian, memberantas buta huruf, atau mengurangi angka pengangguran. Semoga []

(Visited 56 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

One thought on “Sudahi Elegi Indonesia-Timor Leste”
  1. Narasinya sangat bagus adik Iyan….hanya ralat 1 kata yaitu Matinaro, yang benar adalah Metinaru. Yang lainnya saya jempol. Sebenarnya kita orang-orang kecil ini adalah korban dari rezim ORDE BARU…jadi kita lupakan masa lalu dan membangun masa depan yang gemilang, dan jadi panutan bagi negara2 berkonflik seperti Rusia dan Ukraina sekarang. Berdamai dengan tetangga itu sangat indah, kelebihan dan kekurangan kit saling mengisi dan melengkapi. Apalagi kami Timles yg baru lepas dari Indonesia semuanya tergantung pada produk2 Indonesia…Maka saya salut dengan dua tokoh Indo & Timles, Bu Mega dan Pak Gusmao, inisiatif mereka luar biasa. Mereka adalah malaikat Tuhan di antara. Maju trus pantang mundur, bersama kita taklukan dunia dengan persabahatan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.