Oleh: Dev.Seixas’25

Aku adalah seorang putri yang terlahir dari orang tua yang tidak memiliki pendidikan formal seperti orang lainn. Aku lahir di dader paling pelosok di ufuk Timor. Nama daerahku dilahirkan adalah ILIOMAR. Letak daerah aku jauh dari kota Dili.

Mengapa aku kini berada di Dili. Sejujurnya setiap manusia hanya memiliki satu kali kesempatan untuk hidup karena tidak ada kesempatan yang kedua kali. Dari sadarnya aku pada kata-kata ini, maka selain memiliki kesempatan impian masa kecil yang membawa aku ke kota Dili.

Berkhayal mewujudkan impian di Gajah Mada adalah impian aku sejak kecil agar bisa menjadi seorang penulis & jurnalis yang membawa aku ke kota Dili. Bukan karena hanya ingin hidup menikmati suasana kota Dili karena tempat kelahiranku jauh lebih bermakna dari pada hanya nama sebuah kota.

Impian ingin mewujudkan cita-cita membawa aku ke kota ini, bukan karena hal lain. Namun, impian menuliskan sebuah novel ketika sudah usai kuliah di kota Yogyakarta specsial Universiatas GAJAH MADA adalah imajinasi yang butuh perjuangan panjang. Ternyata itu hanya bagian dari impian saja karena aku tak boleh harus melangkahkan kaki ke seberang lautan ketika Dili menjad ibu kota negara.

Aku tetap menjadi diriku dan menetap di Dili. Menguburkan impian dengan karier ayah yang sudah usai karena negeriku telah meraih kebebasan. Menatap ayah dengan perasaan sedih karena apa yang aku impikan untuk membuat ayah tersenyum telah usai karena aku tidak boleh berkhayal untuk lanjut kuliah di UGM.

Hanya secara tak sadar pula aku selalu bersahabat dengan bahasa Indonesia entah mengapa, mungkin itu termasuk sesuatu hal yang tidak aku sadari selama ini. Bahasa yang aku sayang sejak kecil namun aku hanya bisa tinggal di negaraku dengan terus bersahabat baik dengan bahasa Indonesia secara diam-diam.

Tak ada lagi pikiran di otak untuk membuat ayahku tersenyum karena jalan bagiku mulai buntu. Aku lalu hanya mampu berjuang menajdi tempat curhat ayah ketika ada kesedihan yang ayah alami. Diam-diam aku menjadi teman karena impian menulis novel agar memberikan pada ayah kalah meraih gelar Sarjana di UGM hanya menajdi bagian narasi.

Ternyata Tuhan tahu apa yang tertulis di hati kecilku serta mendengarkan doaku, hingga kembali mengirimkan sosok seorang ayah bagi ku yakni Ir. Jumari Haryadi agar memberi aku motivasi untuk mewujudkan impian sebagai seorang penulis & jurnalis dari situlah aku sadar bahwa menjadi seorang penulis bukan soal muda tapi benaran butuh motivasi.

(Visited 40 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Devinarti Seixas

Penulis dan Pendiri KPKers Timor Leste, dengan mottonya: "Kebijaksanaan bukan untuk mencari kehidupan melainkan untuk memberi kehidupan dan menghidupkan". Telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan berupa; berita, cerpen, novel, puisi dan artikel ke BN sejak 2021 hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.