Saya tidak tahu harus memulai dari mana untuk memulai menulis tiga huruf ini. Walau penaku sudah berada di atas lantai dansa, tetapi terasa enggan untuk bergoyang. Mungkin karena saya lebih banyak menggunakan bahasa batin untuk mengeja tiga huruf ini, karena begitu dalamnya bersemayam di kalbu.
Begitulah saya memaknai jika harus menarasikan tiga huruf ini. Sulit bukan berarti karena tidak punya tinta untuk melukiskan keindahan jiwanya, kerendahan hatinya, dan gagasan visionernya. Justru karena terlalu banyak keindahan, ketulusan, kebersahajaan, dan kesederhanaan dalam hidupnya, yang membuat penaku bisu. Namum yang pasti seluruh panca indraku bertasbih untuk kesehatan dan kesuksesan pemilik tiga huruf ini.
Bisa jadi sahabat pembaca yang tidak mengenalnya menganggap dua paragraf mengawali catatan batin ini merasa berlebihan caraku memaknainya, tetapi jika sudah meresapi jiwanya, hatinya, gagagasan dan pikirannnya, pasti larut juga dalam keberadaannya.
Sebagaimana narasi inspiratifnya, “Sahabat, jangan membenciku karena selamanya engkau akan menjadi konsultan pribadiku. Jangan marah karena aku tidak pernah berhenti memuliakanmu. Jangan menyebutku angkuh karena hatiku sudah lama kutanam di bumi. Ayo sahabat, genggam tanganku lalu rasakan energi kreatif mengalir ke urat nadinya”.
Supaya pikiran kita tidak terlalu jauh melayang. Saya eja tiga huruf yang kumaksud itu adalah RIM, akronim dari nama Ruslan Ismail Mage.
Seorang akademisi, inspirator dan penggerak, penulis buku produktif, founder Sipil Institute Jakarta, tokoh sentral lahirnya rumah jiwa di angkasa, Bengkel Narasi dan Pena Anak Indonesia.
Kami penggiat literasi khususnya literasi menulis, selalu menyapanya dengan Bang RIM. Nama yang dulu kukenal hanya lewat beberapa tulisan-tulisan inspiratifnya di media sosial, kini telah membersemai jiwa kami di Bumi Kolaka Utara.
Diksi dan narasinya yang menggugah jiwa, memantik api semangat untuk terus melangitkan mimpi dan membumikan hati.
Karya-karya buku motivasinya mengantarkan setiap pembacannya sampai kepada titik klimas untuk terus bergerak dan menggerakkan. Dalam sebuah quotenya, “ide itu sesungguhnya adalah gerakan, jadi kalau punya ide tetapi belum bergerak mewujudkannya, itu berarti masih sibuk menghayal”.
Sungguh takkan habis pujian yang akan tersampaikan untuk kelihaian jemari dan ketangkasan pikirannya, dalam meramu setiap bait kata menjadi kalimat syahdu nan indah yang mendayu-dayu menyejukkan.
Dengan karya-karya fenomenalnya, Bang RIM sang “the eagle literasi” terus terbang melintasi cakrawala dunia keabadian. Melintasi batas-batas wilayah, kota, dan negara untuk menginspirasi.
Ketulusan dan keikhlasannya tanpa limit mengalirkan energi literasi ke dalam jiwa anak-anak negeri, tidak terkecuali saya adalah bukti jiwa literasinya yang tak bersyarat.
Baginya masa depan suatu daerah atau bangsa tergantung sejauhmana konsistensi warganya membumikan gerakan literasi. Itulah menurutnya, “Pemimpin yang mengabaikan gerakan literasi akan dilaknat peradaban”.
Sejak bergabung di komunitas menulis binaannya Bengkel Narasi indonesia, sejak itu penaku selalu genit ingin melantai dengan goyangan sambanya yang seksi meliuk-liuk di atas kertas.
Puncaknya ketika bang RIM menggagas menyiapkan suvenir pesta resepsi pernikahanku berupa karya buku saya sendiri.
Alhamdulillah, Kamis 28 Juli 2022 lalu, di resepsi pernikahanku. Saya bisa menyiapkan suvenir kepada tamu undangan berupa buku berjudul, “Suvenir Cinta untuk Sahabat”.
Benar kata bijak bang RIM, “Berkarya dengan hati akan membuat hati jatuh cinta berkàli-kali”.
Terimakasih Bang RIM, tiga huruf akronim namamu membuat hari bahagiaku sangat bermakna dan berkesan tiada akhir.
#theeagelliterasi
