
Tahun 2006 saya menyelesaikan gelar sarjana di bidang pendidikan Matematika. Dengan berbekal pengetahuan yang diperoleh dari bangku kuliah dan beberapa pengalaman saat Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN), saya mengabdi di sebuah sekolah negeri di kampung. Awalnya saya berpikir, mengajar adalah hal yang cukup mudah, toh hanya memindahkan pengetahuan yang dimiliki kepada siswa. Intinya persiapan terbesar sebelum memasuki kelas adalah menguasai materi yang akan diajarkan. Saya beranggapan jika menguasai materi maka sudah pasti sudah bisa menguasai kelas.
Tibalah saatnya masuk kelas untuk mengajar. Dengan mengenakan pakaian rapi, memasuki kelas tanpa senyuman, antara menahan grogi dan menjaga wibawa. Pokoknya dalam pikiranku, mereka harus takut supaya mereka melakukan semua apa yang saya katakan. Awal mengajar, saya sudah memberikan berjubel rambu-rambu beserta konsekuensi ketika melanggar rambu-rambu tersebut.
Proses pembelajaran pun dimulai. Saya menjelaskan materi yang akan saya sampaikan dari A sampai Z dan siswa mencatat semua penjelasan. Saya meladeni setiap siswa yang mengajukan pertanyaan, selanjutnya memberikan soal latihan, hingga memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah, kemudian menyudahi kegiatan pembelajaran hari ini.
Pertemuan berikutnya, saya memasuki kelas yang sama dan menagih tugas yang sudah diberikan dan hasilnya banyak siswa yang tidak menyelesaikan tugas. Sambil memasang muka yang tidak bersahabat, saya memanggil satu persatu siswa yang tidak menyelesaikan tugas untuk maju berdiri di depan untuk diinterogasi kemudian diberikan hukuman. Selesai menjalani hukuman, siswa disuruh kembali ke tempatnya dengan harapan mereka akan jera dengan hukuman yang diberikan. Pembelajaran pun dilanjutkan dan seperti biasa di setiap akhir kegiatan siswa diberikan tugas untuk dikerjakan di rumah.
Pertemuan berikutnya, dengan penuh semangat kulangkahkan kaki menuju kelas dan memasuki kelas dan menagih tugas yang diberikan. Dan ternyata hasilnya sangat mencengangkan, banyak siswa tidak menyelesaikan tugas bahkan jumlahnya semakin banyak. Kecewa bercampur marah, bahkan merasa bahwa diri ini sudah gagal menjadi seorang guru karena siswa tidak mengikuti apa yang disampaikan. Sekali lagi, semua siswa yang tidak mengerjakan tugas diberikan hukuman. Dengan sisa-sisa semangat yang dimiliki kulanjutkan kegiatan mengajar hari ini.
Sampai di ruang guru, saya pun berkeluh kesah kepada teman sesama guru tentang hal ini. Sebagian guru juga merasakan hal yang sama dengan apa yang saya lakukan. Ternyata obrolan saya dan teman-teman guru tentang masalah tadi direspon oleh seorang guru senior yang cukup dihormati, bukan hanya siswa tetapi sesama guru pun kami hormat kepada beliau. Beliau memanggil saya untuk menceritakan apa yang dialami. Beliau memberikan wejangan-wejangan tentang hakikat menjadi seorang guru. Masih sangat jelas dalam ingatanku, beliau mengatakan menjadi guru harus ekstra sabar dan tidak egois.
Dalam perjalanan pulang saya tidak henti-hentinya berpikir, mengajar itu ternyata sangat sulit, banyak hal yang saya butuhkan tetapi saya tidak mendapatkannya di bangku kuliah. Sesampai di rumah, saya langsung masuk kamar dan termenung mengingat kata-kata dari teman senior saya. Menjadi guru bersabar kedengarannya mudah. Namun, tak semudah untuk mengaplikasikannya. Menjadi guru yang sabar butuh proses yang sangat lama.
Karena mata tak kunjung terpejam, saya bangun dan membuka-buka tumpukan buku, dan mataku tertuju pada sebuah buku yang sudah usang, berjudul “Quantum Teaching”. Saya membaca lembaran demi lembaran, dan masalah yang saya alami ada semua dalam buku tersebut. Banyak sekali pengalaman-pengalaman mengajar di buku itu yang sama dengan masalah yang saya alami. Kalimat yang paling berkesan adalah “ Bawalah dunia kita ke dalam dunia mereka dan bawalah dunia mereka ke dunia kita”.
Semakin dalam membaca, saya semakin tertarik,. Banyak sekali pengalaman-pengalaman yang sangat saya butuhkan sebagai bekal untuk mengelola kelas. Tidak butuh waktu lama, saya membacanya sampai selesai. Apa yang saya baca kemudian selanjutnya saya terapkan sedikit demi sedikit dalam pembelajaran, dan hasilnya sangat luar biasa. Suasana kelas semakin hidup dan siswa lebih bersemangat dari sebelumnya. Walaupun butuh waktu yang tidak sebentar, tapi dengan penuh keyakinan saya akan berusaha terus membekali diri untuk menjadikan Matematika menjadi pelajaran yang menyenangkan. Mulai saat itu, saya rajin membaca buku-buku terutama yang berhubungan dengan karakter manusia.
Saya menulis kisah ini, bukan berarti pembelajaran yang saya lakukan sudah mulus dan sangat menyenangkan. Seiring berkembangnya teknologi masalah-masalah siswa semakin kompleks. Olehnya itu, sebagai seorang guru jangan berhenti untuk membekali diri, menambah wawasan dan jangan takut mencoba hal baru. Apa yang saya alami dan rasakan setelah 15 tahun mengajar ingin saya bagikan sebagai pengalaman. Semoga menjadi bahan pertimbangan bagi teman-teman seprofesi yang memiliki masalah yang sama dengan apa yang saya alami.
Bersambung… Bagian 2
