Rasionalitas membawa pemikiran anda melangit. Moralitas membawa tindakan anda membumi

Hartono Tasir Irwanto

A. Manusia Berfilsafat
Asal-Usul Filsafat
Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat yaitu:(Lasiyo& Yuwono) ;
1. Keheranan
2. Kesangsian
3. Kesadaran dan
keterbatasan manusia
1). Keheranan, rasa heran merupakan asal dari filsafat, kata sebagian filosof.

Plato mengatakan bahwa mata kita mengamati bintang-bintang, matahari dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan untuk menyelidiki, dan penyelidikan ini berasal dari filsafat.

Begitu juga pada kuburan Immanuel Kant (1724-1804) tertulis: Coelum stellatum supra me, lex moralis intra me, dua gejala yang paling mengherankan Immanuel Kant, adalah langit berbintang-bintang di atasnya dan hukum moral dalam hatinya.(Harry Hamersma, 1981).

2. Kesangsian, merupakan sumber utama bagi pemikiran manusia.

Bila manusia mengetahui sesuatu yang baru, maka ia akan heran lalu merasa ragu-ragu, sebagaimana dikatakan Agustinus (354-430) dan Rene Descartes (1596-1650). Bahkan Rene Descartes mengucapkan Cogito ergo sum, artinya: saya berpikir, maka saya ada. Dalam filsafat modern, Cogito sering digunakan dalam arti kesadaran.(Berlen,1979).

Kesadaran tertinggi adalah menyadari bahwa segala sesuatu yang kita lakukan berasal dari alam bawah sadar.

Moch Aldy MA & Anzal RF

3. Kesadaran dan keterbatasan, manusia merasa bahwa ia sangat terbatas dan terikat, terutama pada saat ia mengalami penderitaan atau kegagalan.

Dengan kesadaran akan keterbatasan dirinya, manusia mulai berfilsafat, ia mulai memikirkan bahwa diluar manusia yang terbatas, pasti ada sesuatu yang tidak terbatas.

Pembeda manusia dengan makhluk lainnya adalah bahwa manusia memiliki akal. Dengan akal itu kemudian manusia memiliki kecenderungan untuk berpikir. Dan, kekhasan manusia berada pada adanya hasrat untuk berpikir, begitu setidaknya kata Aristoteles. Berpikir tentang kenyataan semesta, sosial dan kealaman, yang kompleks untuk dapat terlepas dari belenggu “kebodohan”.Itu pula yang membangun eksistensi manusia sebagai khalifah Allah di bumi.

Cagito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Berpikir inilah yang merupakan poin inti dari filsafat. Filsafat dapat didefinisikan sebagai refleksi rasional, kritis, dan radikal mengenai hal-hal mendasar dalam kehidupan. Refleksi rasional merupakan perenungan ilmiah yang tidak bersandar pada rasio atau akal dan penalaran. Filsafat merupakan “seni bertanya”, mempertanyakan apa pun tanpa tabu, mempertanyakan tentang apa yang ada (being) maupun yang mungkin ada, sehingga filsafat kerap juga disebut berpikir spekulatif.

Pertanyaan yang diajukan filsafat memiliki ciri khas yang mendalam (radikal). Kedalaman pertanyaan inilah yang menjadi distingsi antara filsafat dengan ilmu pengetahuan. Jika saya sangsikan, saya menyadari bahwa saya sangsikan. Kesangsian secara langsung menyatakan adanya saya.

B. Dasar Ilmu Pengetahuan
Ilmu merupakan pengetahuan yang tersusun secara sistematis, dengan jelas merumuskan dan menentukan apa yang hendak dikaji, bagaimana cara memperolehnya, dan bagaimana pula nilai kegunaannya. Tiga elemen ini merupakan hal yang mendasari bangunan ilmu pengetahuan.

1).Ontologi Apa ?
2). Epistemologi: Mengapa ?
3).Aksiologi : untuk apa ?

Pada kaitannya, dengan filsafat ilmu, ini merupakan kajian yang mendalam secara filosofis mengenai apa yang menjadi dasar-dasar ilmu. Apa yang hendak dikaji disebut dengan istilah “ontologi”, bagaimana cara memperolehnya disebut dengan “epistemologi”, dan bagaimana nilai gunanya diistilahkan dengan “aksiologi”. Oleh karenanya, pengetahuan ilmiah bertujuan untuk menemukan kerangka konseptual berbagai aspek yang dapat mempermudah manusia menyelesaikan masalah kehidupan.

Pembahasannya

1). Ontologi yang membahas tentang keberadaan, asal muasal dan tujuan keberadaan tersebut membuat kita memahami bahwa hanya satu yang ada. Selain ada yang satu tersebut hanyalah ketiadaan. Asal muasal keberadaan segala sesuatu berasal dari ada yang satu tersebut. Ada yang satu tersebutlah kemudian mengadakan keberadaan yang lain. Ada yang satu tersebut kemudian dinamakan sebagai ada karena diri sendiri, realitas mandiri, Tuhan, Allah, Yang Mutlak, Penggerak Yang Tak Digerakkan, Sebab Awal, dan nama-nama lainnya yang sebenarnya menunjuk satu Realitas yang sama. Sementara ada yang lain kemudian dinamakan sebagai ciptaan, makhluk, hamba, yang digerakkan, realitas yang tidak mandiri, akibat dan lain sebagainya. Adapun gerak seluruh “ada yang lain” tersebut adalah kembali kepada “ada yang satu”. Itulah tujuan penciptaan.

2)Epistemologi yang membahas mengenai sumber dan cara memperoleh pengetahuan membuat kita memahami bahwa sumber pengetahuan atau tempat dimana kita memperoleh pengetahuan yaitu alam semesta, akal dan wahyu. Sementara cara memperoleh pengetahuan dapat kita peroleh menggunakan indera (telinga, mata, lidah, kulit dan hidung), khayal yang menangkap bentuk-bentuk sesuatu dan akal yang menangkap substansi dan nonmaterial sesuatu. Adapun akal terbagi atas dua; akal murni yaitu rasio yang menangkap hal-hal yang obyektif seperti ide, kebenaran dan keberadaan. Akal jatuh yaitu hati  yang menangkap hal-hal yang subyektif seperti perasaan senang, cinta, sedih, lapar dan marah.

3)Aksiologi yang membahas mengenai etika atau kebaikan, estetika atau keindahan dan hal-hal praktis lainnya seperti hukum, ekonomi dan politik membuat kita memahami bahwa etika adalah segala perbuatan yang mendahulukan kepentingan universal (luas, sosial) di atas kepentingan partikulir (sempit, individual). Estetika memahamkan kita mengenai seni dan hal-hal yang memicu kebahagiaan. Sementara filsafat praktis yang membahas hukum, ekonomi dan politik mempelajari tentang keberadaan Negara, siapa yang berhak memimpin, hukum yang universal, siapa yang berwenang membuat hukum, nilai ekonomi dan lain sebagainya.

C. Tujuan Belajar Filsafat

Sesungguhnya, apa tujuan seseorang mempelajari filsafat? 

Mengapa pula seseorang yang belajar dan mengamalkan keilmuan filsafat dikatakan berfilsafat. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu kembali pada siapa yang pertama kali menemukan ilmu filsafat dan apa tujuan beliau?

Penemu filsafat adalah Socrates. Meskipun pemikir-pemikir sebelum Socrates juga dikatakan filsuf, tapi Soctares-lah yang pertama kali memberikan nama pada keilmuan ini. Tujuan Socrates dalam memberikan penamaan filsafat pada ilmu ini tidak terlepas pada kondisi sosiologis di zamannya. Sebagaimana maklum, filsafat secara etimologi adalah dua gabungan yang kata yang berasal dari kata philo yang berarti cinta dan shopia yang berarti kebijaksaan. Pada zaman Socrates, banyak ditemukan cendikiawan-cendikiawan yang menjual intelektualitas mereka. Dikatakan menjual, karena mereka memberikan harga tinggi bagi yang ingin belajar pada mereka dan menggunakan intelektualitas mereka untuk menyombongkan diri.

Bagi mereka, tidak ada kebenaran di luar dari pemikiran manusia. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai kaum shopisme. Sebagai perlawanan terhadap kaum shopisme yang merasa bijaksana, Socrates memberikan penamaan pada keilmuan ini sebagai filsafat. Ilmu yang dipelajari oleh orang-orang yang mencintai kebijaksanaan. Sungguhlah, semakin seseorang belajar filsafat, semakin seseorang tersebut bijaksana. Bijaknya lagi, tidak ada satupun filsuf merasa dirinya telah berfilsafat atau telah bijaksana. Orang lainlah yang menganggapnya demikian. Jadi, tujuan mempelajari filsafat yaitu membuat pemikiran, perkataan dan tingkah laku seseorang yang mempelajarinya menjadi bijaksana. Bijaksana kepada diri sendiri, bijaksana kepada orang lain, bijaksana kepada alam semesta dalam menuju kepada Yang Maha Bijaksana; Allah
Bumi Allah, 09092021


Sudirman Muhammadiyah.

Pengetahuan tidak memiliki nilai kecuali jika dipraktekkan.

– Thomas Aquinas
Koleksi pribadi sdm

Referensi Sunting :

1). Daras Filsafat Islam karya M. Taqi Mishbah Yazdi

2). Pengantar Filsafat Barat karya Dr. Zainal Abidin

3). Landasan dan Kerangka Berpikir Ilmiah & Filosofis karya Arianto Achma

4).https://www.kompasiana.(Hartono Tasir Irwanto)


(Visited 2,778 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

17 thoughts on “Belajar Memahami Filsafat”
  1. *Asal usul filsafat ada 4 hal yaitu:
    1.Kebenaran /filsofot
    2.kesangsiang / sumber utama pemikuran manusia
    3 kesadaran: pendeitaan atau kegagal
    * Dasa ilmu ad 3 hal yg mendasarinya 1.yaitu : antologi ~untuk mengetahui asal muasal pemikiran manusia
    *Tujuan filsafat
    Membuat pemikiran ,perkataan dan tingkah laku seseorang yang mempelajarinya menjadi bijaksana
    2.epistologi yaitu : membahas bgaimna cara sumber pengetahuan
    Ad 3 yaiutu :
    _ semestas
    – akal
    – Wahyu
    3.aksiologi: membhas tentang mengenai etika atau kebaikan dan. Suatu hal yang praktis seperti : hukum , ekonomi & univesal

  2. Pelajaran ini membuat kita berpikir jauh ttg hal yg tdk pernah trpikirkan sebelumnya dan mengajari kita tentang kebijaksanaan.

  3. Pelajaran ini membuat saya berpikir jauh ttg hal yg tdk pernah terpikirkan sebelumnya oleh saya dan mengajari saya tentang kebijaksanaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.