Oleh: Juharman Muliadi
Hujan menetes tanpa harap, berhenti tanpa ingin. Awan gelap belum tentu hujan, terik mentari seketika hujan. Bagai kisah di tengah bahagia mendatangkan badai

Badai datang dengan angin rindu, hangatnya kenangan yang masih kupeluk erat. Aku terhempas lagi pada derasnya aliran kenangan yang tak bisa terulang, hangat bahagia kala asmara menyapa jadi sayatan luka

Tapi, tak mengapa luka pun ada sembuhnya, kemarin hanyalah pelajaran. Barisan para pujaan masih menanti di persimpangan harapan
Penantian sang pujaan kian jadi khayalan

Aku menanti kehadiran
Sebuah ikhtiar cinta yang kusemai sampai matiku tiba.
Tiada yang lebih indah selain dari dirimu yang paripurna.
Membuat jiwaku tak lagi takut pada lara.
Cinta yang tak kunjung jua datangnya
Adalah pelajaran penting di setiap kisahku yang gundah.

Di balik Kegundahan dan kegelisahan tersirat amanat yang tak tersurat. Sekuat apa pun kita menggengam cintanya jika takdirnya bukan milikmu. Akan selalu ada celah untuk lepas dari genggamanmu

Tak perlu menyesal tentang apa yang telah lepas
Tak usah kecewa untuk dia yang telah pergi.
Belajar untuk muhasabah diri akan lebih baik bagimu
Bersujud dalam munajat cinta akan lebih tenang untukmu

Ingat, sejauh cinta itu pergi, setinggi pujian itu terbang.
Dia akan selalu tahu
Kepada siapa ia harus kembali

(Visited 99 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.