Oleh: Juharman Muliadi
Ibu, dalam senyummu kau sembunyikan lelahmu
Derita siang dan malam menimpamu
Tak sedetik pun menghentikan caramu
Untuk bisa Memberi harapan baru bagiku
Seonggok cacian selalu menghampirimu
secercah hinaan tak peduli bagimu
Selalu kau teruskan cara untuk masa depanku
Mencari harapan baru kembali bagi anakmu
Bukan setumpuk emas yang kau inginkan di dalam kesuksesanku
Bukan gulungan uang yang kau minta di dalam keberhasilanku
Bukan juga sebatang perunggu di dalam kemenanganku
Tapi permohonan hatimu membahagiakan aku
Ibu..
Engkau pecahkan kegelisahan yang tetap membuatku jatuh
Engkau bagai penopang raga yang mulai runtuh
Engkau berikan semua yang aku butuhkan
Tapi, seketika engkau butuh pun aku belum menyadari
Ibu…
Engkau adalah cinta pertama wanita yang paham arti kata setia perempuan yang selalu ada di saat aku kalah
Guru pertama yang mengenalkan pada dunia
Manusia mulia yang rela berbagi usia keriput kulitmu, rambut memutih membuatku tetap cinta
Ibu..
Bila ku ingat masa kecilku tubuh lemah hanya diam membisu belajar tersenyum memahami cinta dan rindu
Ibu, anakmu kini dewasa anakmu mulai lupa arti rindu dan cinta
Ibu…
Anakmu kini mengerti bahwa nasehatmu amatlah berarti
Sering aku membohongimu tapi kau tetap bangga dan pura pura percaya
Sering aku mengecewakanmu tapi kau tetap tersenyum dan berkata jadilah yang terbaik
Ibu…
Lautan sudah kuseberangi
Rantau sudah ku perjauh
Ingin sekali aku memelukmu ingin kuceritakan Semua masalahku kuingin tertidur di pangkuanmu.
Ibu..
Aku kini merasa sunyi dalam keramain
Aku ingin kembali menikmati belaianmu
Aku ingin jauh dari belenggu cinta yang ku pahami
Terima kasih ibu telah mengajarkanku arti cinta yang tulus.
